Kamis, 29 Maret 2012

Hah, SILUMAN???

Siapa yang tak "terkesima" mendengar kata Siluman???

Dalam KBBI, kata siluman adalah [n] makhluk halus yg sering menampakkan diri sbg manusia atau binatang; (2) ki a tersembunyi tidak kelihatan: pasukan --; biaya -- , biaya yg sulit dipertanggungjawabkan (spt uang suap dsb).

Tapi pernahkah anda membayangkan bahwa Siluman adalah nama sebuah kampung bahkan sekolah??? Nah lho...

Sebenarnya ini adalah pengalaman pribadi saya yang ingin sekali saya share pada para pembaca sekalian. Begini ceritanya...

Saya terlahir di Jakarta. Namun menginjak usia sekolah, kami sekeluarga pindah ke sebuah perumahan di daerah Tambun, Bekasi. Saya masuk di TK Randa Puri. Lokasinya tak begitu jauh dari rumah. Biasanya saya berangkat sekolah dengan berjalan kaki bersama teman-teman. Namun jika sedang ingin bermanja, saya minta diantar oleh Ibu atau Bapak. Sekilas TK itu hampir sama dengan TK pada umumnya. Tapi, coba perhatiin deh, nama TK nya itu lho! Randa Puri. Randa (Janda), Puri (Rumah, Kediaman). Gosh!!! Masa iya nama TK kok "Rumah Janda". Seingat saya, para guru disana punya keluarga yang lengkap juga. Jadi ga mungkin dikasih nama itu karena gurunya berstatus janda. Ah... biarlah. Mungkin pemilik yayasan TK itu seorang janda, atau seseorang yang jatuh cinta pada janda, atau apalah...

Memasuki masa SD, saya juga "terkagum-kagum" dengan nama SD yang, ehm, akan menjadi tempat saya menimba ilmu.
Sekolah itu terletak di desa Mangun Jaya Kecamatan Tambun Kabupaten Bekasi (Maaf kalo salah, hehe...). Nama sekolah itu adalah.... jeng jeng jeng.....



SD SILUMAN RAYA I


Para pembaca yang budiman, jika anda berpikir bahwa anda salah membaca tulisan di atas, atau mungkin saya yang salah ketik, itu tidak benar. Saya sedang dalam keadaan sadar serta sehat lahir dan batin. Itu memang nama SD tempat saya menimba ilmu....
SD itu memang terletak di Kampung Siluman. Konon katanya, di wilayah kampung itu dulu banyak maling, copet, perampok, penjahat dan kawan-kawan yang tiba-tiba saja menghilang alias lenyap tak berbekas ketika dikejar oleh warga maupun aparat keamanan. Oleh sebab itu, wilayah tersebut dinamakan Kampung Siluman.
Herannya, pada saat saya bersekolah disana, semuanya terasa biasa saja. Tidak ada yang janggal dari nama SD itu. Ehm, mungkin karena warga sekitar telah terbiasa mendengar nama kampun dan SD Siluman. Jadi tidak ada yang aneh. Hal ini menjadi "petaka" ketika saya pindah ke sekolah lain...

Ketika saya kelas 4 cawu 2 (masih sistem Caturwulan, belom Semester...) saya sekeluarga pindah ke kampung halaman Bapak di Purworejo, Jawa Tengah. Saat itu, saya didaftarkan di SD Kedung Pucang yang terletak di dekat rumah Budhe di Desa Kedung Pucang Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo. Saya masih ingat betul hari pertama saya masuk sekolah.
Saya berjalan ditemani budhe. Di depan dan belakang saya juga terlihat beberapa gerombolan anak-anak berseragam putih merah. Asik asik... pasti itu calon teman-teman saya...

Sekitar lima menit berjalan, saya dan budhe sampai di Sekolah. Kami langsung datang ke ruang kepala sekolah. Masih ingat betul, yang menjabat kepala sekolah waktu itu adalah bapak Rowandi (Alm.) Beliau menyapa hangat dan mulai mengecek berkas-berkas kepindahan saya. Beliau terbelalak dan terlihat sedikit kerut di dahinya. 
"SD Siluman???" itu pertanyaan pertama yang keuar dari mulut beliau.
"Iya pak" jawabku ragu-ragu
"Hahaha... kalau SDnya Siluman, terus gurunya kuntilanak, genderuwo. Muridnya tuyul. Ilmunya ilmu hitam ya??? hahaha..."
Dan saya hanya bisa cengar-cengir menanggapi pernyataan beliau.

Hahaha... kalau dipikir, lucu juga sih. Tapi apa boleh buat, toh saya ga bisa memilih nama untuk SD. Tapi beberapa waktu terakhir ini saya mendengar kabar bahwa (mantan) SD saya, SD Siluman Raya I telah berganti nama menjadi SD Mangun Jaya I. Hahaha... beruntungnya generasi saat ini yang bersekolah di sana...
  

Jumat, 16 Maret 2012

Perempuan Itu Adalah Ibuku

Perempuan yang bernama kesabaran
pabila malam menutup pintu - pintu rumah
masih saja ia duduk menjaga
anak - anak yang sedang gelisah dalam tidurnya

Perempuan itu adalah ibuku

Perempuan yang menangguhkan segalanya
bagi impian - impian yang mendatang. Telah
          memaafkan
setiap dosa dan kenakalan
anak-anak sepanjang zaman

Perempuan itu adalah ibuku

Bagi siapa Tuhan menerbitkan
matahari surga. Bagi siapa Tuhan memberikan
singgasanaNya. Dan dengan segala ketulusan
ia membasuh setiap niat busuk anak - anaknya

Dia adalah ibu

By: Arifin C. Noer

Kekuatan Doa

DOA, hanya dibangun oleh tiga huruf yakni D, O dan A. Tampak sederhana, tapi tidak sesederhana maknanya, apalagi pengaruhnya. Banyak hal yang ketika kita yakini usaha dan ikhtiarnya sudah maksimal, bahkan ada yang tinggal selangkah lagi menuju keberhasilan, tapi ternyata hasilnya belum tentu seperti yang kita harapkan. Begitu juga sebaliknya, ada hal-hal yang secara logika manusia tidak mungkin terjadi, malah terjadi. Ada faktor intangible yang berperan dibalik semua itu. Sesuatu yang tidak tampak, tapi mempengaruhi suatu keberhasilan. Kekuatan maha dahsyat yang bisa mengubah segalanya. Kekuatan yang hanya dimiliki oleh penguasa bumi, langit beserta isinya.

Ketika kita ingin kekuatan itu turut mengintervensi keinginan kita tentu harus ada komunikasi antara sang pemberi dengan yang diberi. Komunikasi intens yang berisi kata penuh rayuan kepada sang pemilik kekuatan untuk sudi memberikan beberapa watt saja dari dayaNya guna menghidupkan lampu harapan yang kita inginkan. Merangkai kata-kata yang indah, penuh pujian, santun, dan benar-benar memposisikan diri sebagai sang peminta, bahkan kita akan memobilisasi orang untuk membantu merayu Sang Pemilik Kekuatan, untuk mengabulkan keinginan kita. Bukankah makin banyak yang merayu, peluang diberi akan semakin besar? Tentu saja rayuan yang dimaksud ini adalah DOA.

DOA adalah sebentuk harapan, bukan ketidakberdayaan. Doa akan mengubah ketidak berdayaan menjadi sebuah kekuatan. Sesungguhnya ketika kita berdoa kepada Sang Khalik, kita telah mendekati sumber kekuatan, dan apa yang terbangun di dalam jiwa kita adalah sebuah harapan. Harapan itulah yang kelak akan mendorong diri kita untuk bergerak maksimal dalam bentuk usaha dan ikhtiar. Yang pada akhirnya ketika kehendak manusia dan kehendak Tuhan sudah dipertemukan melalui DOA, maka pada saat itulah kekuatan maha dahsyat akan timbul.

DOA merupakan perjalanan kata-kata. Perjalanan dari mulut manusia, menuju langit, yang akan segera menembus angkasa bila ada penyangga. Penyangga tersebut tak lain tak bukan adalah amal kebaikan. Maka barang siapa yang amal kebaikannya banyak, maka kemungkinan doanya diterima jauh lebih besar dari pada orang yang sedikit melakukan amal kebajikan.
DOA adalah faktor yang tidak mungkin dihilangkan dari keberhasilan seseorang dan harusnya menyadarkan kita bahwa dibalik keberhasilan yang kita punya selalu ada DOA dari orang-orang yang mencintai kita. DOA orang tua yang dengan tulus dan ikhlas tanpa rasa bosan meminta yang terbaik buat anak-anaknya. Doa kakak untuk adiknya, doa atasan untuk bawahan, doa bawahan untuk atasan, doa guru untuk muridnya, doa para sahabat, dan lain sebagainya. Indahnya saling mendokan yang terkadang tanpa kita sadari turut berperan dalam keberhasilan kita.

Jangan pernah berhenti berdoa. Ketika DOA belum dikabulkan, tidak ada kata putus asa. setidaknya kita masih memperoleh pahala berdoa, atau yakinlah Tuhan akan memberikannya pada suatu saat nanti, menunggu waktu yang tepat, bahkan bisa jadi permintanmu akan diganti dengan sesuatu yang lain yang lebih baik bagimu, bukankah Dia Yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi makhlukNya.

Antara Togog dan Semar

Konon di Mayapada/kayangan tempat bermukim para dewa ada tiga anak Hyang Wenang yakni Hyang Antaga, Hyang Ismaya dan Hyang Guru. Hyang Ismaya dan Hyang Antaga selalu bertengkar berebut kekuasaan. Setiap hari mereka mengadu kekuatan tetapi tidak ada yang menang tidak  ada yang kalah.

Suatu ketika, dengan disaksikan oleh Hyang Guru, mereka mengadu kekuatan, siapa yang dapat menelan gunung dan dapat mengeluarkannya lewat anus, dialah yang terkuat. Hyang Antaga mencoba menelan gunung itu. Begitu besarnya gunung itu, dia memakannya hingga matanya melotot-melotot dan sobek mulutnya. Akhirnya dia tidak dapat menelan gunung itu. Akibatnya Hyang Antaga menjadi jelek tampangnya, dan bermulut lebar. Sejak saat itu Hyang Antaga berubah nama menjadi ‘Togog’.


Hyang Ismaya mencoba menelan gunung itu. Karena saktinya Ismaya berhasil menelan gunung itu tetapi tidak dapat mengluarkannya. Akhirnya gunung itu berhenti di perutnya, akibatya perut Hyang Ismaya menjadi besar. Pantatnya juga membesar. Sejak saat itu Hyang Ismaya berubah nama menjadi ‘Semar’.


Karena ulahnya yang tidak dapat menjaga kerukunan itulah, akhirnya mereka diturunkan ke bumi Marcapada untuk menjadi abdi/punakawan.