Jumat, 27 Januari 2017

Sebuah Reuni

Lama tak bersua,
Wajar jika rasanya tak ingin berhenti bertegur sapa, meski hanya lewat dunia maya.

Pertanyaan-pertanyaan yang sama berkutat pada; kerja dimana?~ sudah nikah belum? ~anaknya sudah berapa? ~sekarang tinggal dimana? ~ rasanya hampir pasti ditanyakan ke semua anggota grup ini.

Mengenang masa-masa sekolah dulu dimulai dari guru favorit ~ guru killer ~ saling mengejek nama orang tua ~ bahkan sampai aib-aib yang baru terbongkar ketika sudah sama-sama dewasa.

Meminta maaf dan saling memaafkan atas segala kekhilafan yang dilakukan semasa sekolah dulu, dan mengenang seorang kawan yang telah lebih dulu berpulang.

Ada kalanya celetukan-celetukan itu membuat tertawa lepas, meski kadang ada juga yang membuat suasana tidak nyaman, setidaknya buat aku pribadi. Tapi bukankah perbedaan sudut pandang adalah hal yang wajar.

Kalau gak suka, lebih baik menghindar dan gak perlu banyak komentar. Rasanya itu pilihan yang paling aman. Sekadar pengingat untuk diri sendiri, berbicara bukan hanya karena hal itu benar, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Karena, bukankah tidak ada manusia yang benar-benar cocok dengan sesamanya? yang ada hanyalah mereka yang saling menahan ego demi terjalinnya hubungan yang membahagiakan. 

Dan pertanyaannya adalah, "Apa kamu merasa bahagia, Desti?"

Kamis, 29 Desember 2016

Ada Apa Dengan Desti?

Pernah gak sih ngerasa kehilangan jati diri. Seolah-olah ngerasa amnesia dan tiap hari hanya berkutat dengan pikiran Siapa aku? Kenapa aku begini?
Mungkin itu yang sedang aku alami. Ketika deadline tulisan udah di depan mata, otak gak mampu lagi berpikir mau nulis apa. Tiba-tiba menulis menjadi momok yang menyeramkan, padahal dulu aku suka, suka banget.
Berusaha nge-refresh pikiran dengan jalan-jalan ke toko buku, surga rahasiaku. Menyusuri lorong penuh rak buku, tapi gak satupun yang menarik perhatian. Dulu betah berjam-jam mendekam, sekarang tiga puluh menit di dalam sudah cukup membuatku mual.
Lari ke pantai, berharap separuh beban hilang diterpa angin digerus ombak. Tapi gak pengaruh banyak.
Yang paling menyakitkan adalah ketika "kehilangan" orang-orang yang selama ini begitu aku utamakan. Mereka masih ada di sini, tapi seolah tak peduli.

Barangkali memang ada yang hilang. Entah apa.