Sabtu, 14 Desember 2013

Ulang Tahun Sang Mahaguru

Sejak dua minggu yang lalu kami, para mahasiswa pascasarjana UGM jurusan Ilmu Linguistik, sudah diwanti-wanti untuk mempersiapkan diri menghadiri seminar internasional dalam rangka merayakan ulang tahun salah satu mahaguru kebanggaan kami Prof. Soepomo Poedjosoedarmo yang ke-80.

Seminar hari pertama, 5 Desember 2013 dibuka oleh acara seremonial seperti sambutan ketua panitia Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A. atau sering dipanggil Pak Putu (aja). Selain itu ada juga sambutan dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. Setelah gong dipukul, maka dimulai lah acara seminar ini. Seminar sesi pertama diisi oleh 2 pemakalah super keren. Pemakalah pertama, Prof. Stephanus Djawanai, Ph.D yang mempresentasikan makalah yang berjudul Bahasa Hominisasi dan Simbolisasi. Pemakalah kedua yang gak kalah keren adalah Dr. Timothy McKinnon yang mempresentasikan makalah dengan judul Malay Morphology: How strange does it get?. Mas Tim ini udah bule, masih muda, bahasa Indonesianya lancaaarrr banget. Aduh mas, kesemsem aku sama kamuuu... >.< #salahfokus

Setelah coffee break selama seperempat jam, seminar dilanjutkan lagi. Sesi kedua ini ada enam pemakalah yang tampil. Ada yang mengagumkan karena nama besarnya, ada yang biasa aja dan terkesan “kebanting” sama pemakalah sebelumnya. Satu yang menarik perhatian saya, pemakalah Truly Almendo Pasaribu yang mempresentasikan A Cognitive Linguistics Analysis of Indonesian Love Metaphors. Yaa... semua yang berhubungan dengan cinta pasti jadi menarik bukan? Hehe. Diselingi Ishoma selama 45 menit, seminar lanjut lagi. Kali ini ada enam pemakalah lagi yang tampil. Tapi saya lost focus selama sesi ini. Mungkin karena kekenyangan jadi ngantuk, mungkin karena topiknya gak ada yang menarik perhatian saya, mungkin karena pemakalahnya gak pandai mencuri perhatian audiens... entahlah. Lanjut coffee break lagi selama seperempat jam dan Seminar sesi keempat, sesi terakhir untuk hari ini. Ada enam lagi pemakalah yang tampil. Ada dua yang menarik perhatian saya. Yang pertama, Ibu Siti Jamzaroh dengan makalahnya yang berjudul Mengungkap Tabir Nama Diri Masyarakat Banjar. Kenapa menarik bagi saya? Karena agak nyerempet2 sama topik skripsi saya dulu tentang nama diri. Tapi yaa... saya agak kecewa sih sama presentasinya. Sepertinya materi kurang dipersiapkan dengan matang. Pemakalah kedua yang menarik perhatian saya yaitu Yunus Sulistyono yang mempresentasikan Perbandingan Genetis dan Tipologis Bahasa Bunak Timor dan Abui. Kenapa menarik bagi saya? Karena dia teman sekelas saya di kuliah... *ya iyalaaaahhh* Akhirnya seminar hari pertama ditutup dengan makan nasi goreng babat samping Bank Mandiri (kalo ini sih acara pribadi saya sama larit :p)

Seminar sesi pertama hari kedua dibuka dengan lima pemakalah. Entah kenapa gak ada satupun yang menarik perhatian saya. Sekitar jam 10 pagi, kami coffee break selama lima belas menit. Acara selanjutnya adalah perayaan ulang tahun Prof. Pomo. Kami berdoa dan menyanyi bersama. Saya sempat menitikkan air mata ketika salah satu murid beliau menyanyikan sebait lirik yang dia ciptakan sendiri spesial untuk Prof. Pomo. Kami yang berada di ruangan tersebut terharu sekali. Kemudian pemotongan tumpeng. Potongan tumpeng yang pertama diberikan kepada peserta seminar yang termuda. Ternyata dia adalah teman sekelas saya di jurusan Ilmu Linguistik angkatan 2013 dan sama-sama berasal dari Purworejo. Namanya Sahara Ramadhani, usianya baru 21 tahun. Setelah itu, bapak Tri Mastoyo menyerahkan kado berupa wayang Begawan Abiyasa yang dibingkai cantik. Mengapa Begawan Abiyasa? Konon katanya Begawan Abiyasa adalah guru para Pandawa. Saat Pandawa sedih ataupun senang, biasanya datang ke Begawan Abiyasa. Begitu pula sosok Prof. Soepomo Pudjosoedarmo yang merupakan “tempat berlabuh” dari para juniornya. Setelah perayaan ulang tahun yang mengharu biru ini, kami dipersilakan istirahan selama hampir 2 jam. Ini juga memberikan kesempatan pada kaum laki-laki untuk menunaikan ibadah Shalat Jumat.

Acara dimulai lagi pukul 1 siang dengan menghadirkan enam pemakalah lagi. Mungkin karena kekenyangan, sayapun merasa mengantuk sekali. Apalagi ruangan terlihat sepi karena banyak kursi yang tidak terisi. Entah “kabur” kemana para peserta seminar. Pukul 14.30 kami coffee break (lagi!). Selanjutnya, seminar sesi terakhir dibawakan oleh dua pemakalah dahsyat, Prof. Dr. Bahren Umar Siregar yang membawakan makalah berjudul Metafora Bahasa Indonesia sebagai Penghela Ilmu Pengetahuan dan Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A. yang membawakan makalah berjudul Gadjah Mada Bercanda, Humor Dosen UGM: Sebuah Kajian Sosiopragmatik. Menurut saya ini “gong” nya dari seminar hari kedua ini. Anehnya, kursi-kursi penuh terisi seperti ketika pembukaan seminar. Acara seminar ini ditutup sekitar pukul lima sore. Kami puas-puasin foto-foto. Sayangnya foto saya bersama teman sekelas agak nge-blur. Tapi gak papa, kenangan yang paling indah bukan tercetak pada selembar gambar. Melainkan di sini, di hati dan memori kita.

Happy Birthday, Prof! Semua doa terbaik telah terpanjatkan untukmu. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkannya, aamiin... ^___^
narsis saat coffee break

perayaan ulang tahun


apa ya yang dibicarakan Prof. Pomo dan Prof. Stephanus Djawanai?

Saya dan Larit, mumpung ketemu... :)

Rabu, 20 November 2013

Ketika Merapi "Batuk"

Pagi itu cuaca di Purworejo cerah. Maklum, hujan deras mengguyur hampir semalam penuh. Setelah mandi dan bersiap berangkat ke Jogja, saya iseng-iseng menyetel tv. Setengah terhenyak saya melihat headline berita di salah satu stasiun tv, “Merapi Meletus”. Mak dheg. Si penyiar nampak sedang melakukan telewicara dengan salah satu nara sumber di lokasi kejadian. Saya baca dengan cermat lokasinya. Cangkringan. Iyaa.. bener... Gunung Merapi. Semula saya pikir mungkin Gunung Marapi yang ada di Sumbar. Langsung saya konfirmasi ke beberapa teman yang ada di Jogja. Iya benar merapi ‘batuk’. Tapi tidak separah tahun 2010 dan suasana saat ini sudah kondusif. Alhamdulillah.

Seketika ingatan saya melayang pada bulan Oktober-November tiga tahun lalu... Erupsi Merapi. Banyak momen yang tak terlupakan saat itu. Tapi ada yang paling membekas dalam ingatan saya, tanggal 5 November 2010.

Tengah malam itu saya dikejutkan dengan ketukan bertubi-tubi di pintu kamar kost. Saya keluar kamar, dan keadaan terlihat sangat kacau. Beberapa teman kost menangis sesenggukan sambil berpelukan. Terdengar pula suara tak tok pletak pletok dari atas atap kamar kost. Dengan polos dan setengah mengantuk saya bertanya, “ada apa?”. Huh, pertanyaan bodoh. “Hujan pasir dan kerikil, Des. Merapi meletus!” seru salah seorang teman kost dengan wajah panik. Saya juga panik sih, tapi juga gak tahu harus berbuat apa. Suasana kost bertambah kacau ketika ada salah seorang teman yang malam itu juga, pulang ke rumahnya di Bantul. Dia bilang mau mengungsi  karena kondisi daerah sekitar kost sudah kacau. Ditambah lagi katanya batas zona aman Merapi sudah mencapai radius 20 km. Saya dan teman-teman yang lain kemudian menghabiskan waktu dengan menonton tv di salah satu kamar dan memantau keadaan merapi sampai pagi.

Menjelang siang, saya dan beberapa teman sempat ‘jalan-jalan’ memantau keadaan sekitar. Jalanan berdebu, suara ambulans wira-wiri menambah miris dan dramatis suasana saat itu. Tiba-tiba Ibu menelepon dan meminta saya untuk pulang ke rumah di Purworejo saat itu juga. Bagaimanapun keadaannya, akan lebih baik jika berkumpul bersama keluarga. Maka hari itu saya berkemas dan langsung pulang ke rumah. Melewati perempatan Kentungan jalan Kaliurang ring road utara, saya melihat beberapa reporter dari berbagai stasiun tv sedang melaporkan berita terbaru seputar keadaan pasca letusan Merapi. Perjalanan kali ini, benar-benar perjalanan yang luar biasa. Saya memacu motor saya hanya 60km/jam. Menikmati ‘pemandangan’. Sesekali bahkan lebih lambat dari itu, jika kondisi jalan sangat licin akibat abu merapi yang terkena hujan gerimis. Jarak pandang juga sangat terbatas karena abu yang tertiup angin. Perjalanan Jogja-Purworejo yang biasanya hanya sekitar 90 menit, kali itu saya tempuh hampir 4 jam!

Memasuki kecamatan Bagelen, tempat tinggal saya yang berbatasan dengan provinsi DIY, saya ‘terkagum-kagum’ dengan ‘pemandangan’ di sekitar saya. Astaghfirullah... rasanya seperti mimpi melihat itu semua. Pohon-pohon pisang tumbang, rumpun-rumpun bambu rebah menutupi jalan, jalanan.. atap.. rumah.. dedaunan... semua berselimut abu. Kendaraan semakin sulit berjalan karena licinnya jalanan. Abu merapi setinggi hampir 5cm menutupi jalanan. Ditambah lagi, rintik gerimis yang datang sesekali membuat abu itu menjadi licin. Mungkin kalau hujan deras sekalian malah bisa sedikit membersihkan abu yang ada di jalanan.

Ada yang lebih membuat saya mengelus dada, listrik di daerah saya padam karena kabarnya ada kerusakan jaringan. Total pemadaman listrik selama 35 jam! Bayangkan bagaimana bisa kami hidup tanpa listrik selama waktu itu. Yaa... hitung-hitung prihatin, merasakan saudara-saudara kita di pelosok negeri yang belum mencicipi nikmatnya hidup dengan listrik menyala.

Syukurlah kali ini Merapi hanya ‘batuk’, tidak seperti erupsi tahun 2010 lalu. Kabarnya abu Merapi kali ini mengarah ke timur dan utara sesuai hembusan angin.