Tampilkan postingan dengan label Linguistik UGM 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linguistik UGM 2013. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Juni 2017

Sekali Lagi


Aku masih tak mengerti mengapa begitu sulit mengakhiri semua ini.
Sekian lama aku berusaha memperbaiki semuanya
Tapi terlihat sia-sia
Putus asa, kubiarkan kau terlunta-lunta
Aku tak peduli, kau malah makin menjadi
Dan aku semakin patah hati

Maka kini,
Biarkan aku jatuh cinta padamu
Sekali lagi.









{Kategorisasi Warna Dalam Bahasa Indonesia Kajian Semantik Kognitif 😘😘😘}

Selasa, 14 April 2015

Kereta, Satu Dasawarsa

Bagaimana rasanya naik kereta? Saya hampir lupa. Terakhir kali saya naik kereta untuk perjalanan jauh itu sekitar tahun 2005, semasa saya masih SMA. Berarti sudah sepuluh tahun yang lalu.
Naik Prameks? Cuma ‘sempat’ dua kali, itupun karena terpaksa. Selama ini kalau berangkat dari Purworejo mau ke Jogja atau sebaliknya, lebih nyaman naik motor sendiri. Katanya, kereta sekarang sudah jauh lebih nyaman dan aman dari yang terakhir kali saya naiki. Syukurlah kalau itu benar.
Setelah sekian lama ‘meninggalkan’ blog ini, maka untuk merayakan ‘kepulangan’ saya, kali ini saya akan curhat tentang suatu hal yang juga telah begitu lama saya tinggalkan. Naik Kereta.

Kereta selalu membawa saya pada dua kenangan perjalanan yang tak begitu baik. Dulu... dulu sekali, ketika saya masih berumur empat tahun, saya pernah pulang kampung ke Purworejo saat lebaran. Entah bagaimana ceritanya waktu itu, semasa arus balik kami dan ratusan orang lainnya ‘bergelimpangan’ di Stasiun Kutoarjo menunggu kepastian keberangkatan kereta yang akan membawa kami kembali ke Jakarta. Pada akhirnya kami memang bisa naik kereta. Tapi kami tidak dapat tempat duduk dan hanya lesehan diantara kursi-kursi beralaskan kertas koran. Saya gak ingat gimana sensasi naik keretanya, yang saya ingat sampai sekarang hanya bagaimana Bapak, Ibu, dan saya mirip gembel selama perjalanan kembali ke Jakarta.

Pengalaman buruk kedua sekitar awal Juni 2005, saya sekeluarga pergi ke Jakarta menggunakan kereta. Waktu itu, kami hanya kebagian kereta ekonomi karena terkait jadwal keberangkatan. Sepanjang perjalanan dari stasiun Kutoarjo sih semua baik-baik aja. Tapi ketika sampai di daerah Karawang, sekitar jam 3 pagi, tiba-tiba insiden itu terjadi. Kami yang mulai terlelap dan lelah tiba-tiba dikejutkan dengan suara teriakan Ibu. Ada orang yang menjambret tas Ibu dari jendela kereta. Jadi kemungkinan si penjambret itu naik di atap gerbong kemudian merampas tas Ibu lewat jendela. Sesampainya di stasiun Jatinegara kami langsung melaporkan ke Polsuska, namun semua hanya sebatas laporan saja. Karena sangat sulit mengusut kasus penjambretan di kereta pada waktu itu.

Setelah tahun 2005 itu, saya tidak pernah lagi naik kereta. Mungkin trauma, mungkin juga karena kebetulan lebih memilih naik kendaraan lain semisal mobil pribadi atau bus.

Tahun-tahun berlalu... kabar tentang pembenahan sistem keamanan dan layanan di atas kereta sampai di telinga saya. Tapi saya sekalipun tak pernah tertarik membuktikannya sendiri. Ibu dan adik saya yang berkali-kali wira-wiri naik kereta juga sering berkisah bahwa naik kereta itu sekarang lebih aman dan nyaman. Ah... bodo amat, batin saya.

Sampai akhirnya minggu lalu, tanggal 5 April 2015 saya berkesempatan naik kereta (lagi) untuk menghadiri acara pernikahan teman saya di Pasuruan, Jawa Timur. Saya dan lima teman lain berangkat dari Stasiun Lempuyangan pukul 07.15 WIB naik kereta Sri Tanjung dan turun di Stasiun Bangil dengan harga tiket 100.000 rupiah. Sementara untuk kembali ke Jogja kami menaiki kereta Logawa dengan harga tiket 80.000 rupiah. Berikut hasil pengamatan saya: 1) harga tiket kereta relatif lebih murah dibanding harga tiket bus (untuk tujuan yang sama). 2) lumayan nyaman karena ada AC yang selalu menyejukkan tiap gerbong. 3) waktu tempuh relatif lebih singkat dibandingkan kendaraan darat lainnya. 4) ternyata saya bisa makan, bisa ngobrol, bisa mainan hp selama perjalanan, dan saya sama sekali gak mabuk perjalanan! *ini yang paling penting*  Beda banget sama kalo naik mobil atau bus.

Perjalanan pergi pulang Jogja-Pasuruan dengan dua kali kesempatan naik kereta itu rasanya... rasanya...

Ah, rasanya saya mulai jatuh cinta naik kereta... ^^


Rabu, 25 Juni 2014

Catatan Akhir Semester

Dear temans seperjuangan...

Gak kerasa ya ujug-ujug udah akhir semester dua. Emang sih kuliah S2 lebih cepet daripada S1 dulu. Baru aja akhir Februari kemarin kita mulai kuliah awal semester genap. Eh, ini akhir juni udah libur lagi. Kalo dihitung gak genap 6 bulan kita kuliah ya. Dasarnya emang kuliahnya cepet, ketambahan lagi bareng-bareng terus sama kalian, waktu jadi terasa cepet banget berganti.

Sedikit flashback yaaa....

Aku masih ingat hari pertama pertemuan kita. Aku lupa tanggalnya, tapi yang jelas sore menjelang senja itu pertama kali kita semua bertatap muka. Di rumah Prof. Pomo, kuliah pertama kita, Teori Linguistik. Sore itu kita belum benar-benar kuliah ya, namanya juga baru pertama ketemu. Saling berkenalan satu sama lain. Satu persatu dari kita berdiri dan menyebutkan identitas berupa nama, asal daerah, asal jurusan n kampus S1, juga alamat kost. Saat tiba giliranku, dengan lantang tapi agak jaim aku bilang “Desti Sedyaningrum, Purworejo, Sastra Indonesia UGM, belum dapet kost”. Hahaha...

Dan hari itu terciptalah quote dari Mila yang begitu melegenda, “kita ini sudah S2, beda sama S1” Hahaha...

Inget tugas pertama kita? Presentasiin topik-topik dari buku Introductions To Theoretical Linguistics-nya pakde John Lyons. Gubraaakkk... untungnya dibagi kelompok berdasarkan urutan presensi... dan aku bersyukur banget tergabung dalam kelompok 6 bareng orang-orang hebat, terima kasih Yunus Sulistyono, Fitria Nurhayati, dan Ferdi Arifin. Seminggu dua kali kita ngumpul buat bahas topik ini. Seneeeenng banget ada kalian yang bisa ngasih pencerahan buat aku yang gak mudheng blas isi bahasan di chapter 6 itu. Hahaha... dan ternyata kita kejatah presentasi lagi ya buat materi tambahan. Aku menikmati setiap proses belajar kita. Terima kasih...

Oh iya, pas kita sekelas kondangan ke tempat mas Nur rohman ya di Karanganyar terus bablas maen ke Tawangmangu. Sumpah itu hepiiiii bangeeeettt... Teman-teman, aku mencintai kaliaaaannn... *peluk satu-satu*

Teruuusss Ujian Akhir Semester gasal pas akhir Desember-awal Januari, inget ngerjain tugas Bahasa Swahili yang akhirnya jawabannya didiktein sama Sony dan temen2 sekelas tinggal nyalin aja? Terus tugas Linguistik Umum yang kita kerjain secara berjamaah? Sumpaahh... itu gokil banget! Empat tahun kuliah S1 aku belum pernah ngalamin yang kayak gitu. Ckckck!

Terus liburan semester dan aku galaaauuu. Kenapa galau? Lama gak ketemu kalian, gaes. Serius deh...

Terus masuk kuliah lagi akhir Februari’14, semester baru... beberapa teman mulai berkelompok sendiri dan kelompoknya bersifat semieksklusif gitu yaa... sampe punya grup Whatsapp sendiri selain grup Whatsapp kelas. Yaa itu sih pilihan ya. kita semua udah sama-sama dewasa. Aku rasa hal itu gak menjadi alasan buat kita jadi terpecah. Tapi intensitas ngumpul bareng emang jadi berkurang sih. Oh iya... pertengahan Maret beberapa dari kalian main ke Purworejo, pesta duren di rumah mbak Fina terus mampir rumahku pesta rambutan n manggis. Kita ke Goa Seplawan dan Pantai Jatimalang juga naek angkot yang disewa sama mbak Fina. Gimana perasaan kalian? Aku seneng... seneeeeenngggg banget malahan. Tapi ya cuma bisa menyambut kalian kayak gitu doang. Maaf yaa kalo ada yang gak nyaman :’) *Ferdi, Fiki, Fani, Anis, Iin, Zewit, Haira, Dyah K, Mbak Dyah W, Ayunda, Cindy, Pacarnya Cindy*

Terusss kuliah lagiii kayak biasa. Eh, itung deh, berapa kali kita ditegur dosen karena kelas rame ngalahin pasar? Berapa kali kuliah bareng anak kelas A dan mereka sampe ‘nggumun’ cenderung sinis ngeliat kelakuan kita? Hahaha.... Dan sampailah pada minggu ini, akhir Juni, minggu kedua Ujian Akhir Semester Genap. Minggu depan udah liburan lagi... bertepatan sama bulan Ramadhan. Beberapa dari kalian pasti pulang ke rumah dan balik lagi setelah Lebaran pas mulai kuliah lagi. Hmm....

Gaes, semester depan kita udah gak ada kuliah. Cuma tinggal seminar proposal tesis. Kita bisa sering ketemu gak ya, gaes? Huks... syediiihhh...
Kalian tuh gila abis. Kadang aku aja gak nyangka dipertemukan dengan orang-orang seperti kalian. Tapi dengan begitu aku tahu dunia di luar comfort zone-ku selama ini. Aku tau kalian bakal jadi orang-orang hebat nantinya. Dan aku bangga pernah menjadi bagian dari kalian, mahasiswa ber-NIM genap dengan kelakuan ganjil... :’)

*Colek Temen Sekelas Linguistik B ’13: Ade, Ayunda, Anis, Mbak Ani, Cindy, Dinna, Mbak Diyah W, Dyah K, Mbak Emy, Mbak Fina, Fitria, Farih, Fani, Fariz, Ferdi, Ganggas, Havid, Haira, Iin, Ima, Mila, Mbak Lila, Mbak Nanik, Lisda, Mira, Mas Nur rohman, Mas Iko, Okta, Lia, Sahara, Sony, Tyas, Vita, Windha, Yunus, Yu xin, Zewit

masih maba, jadi wajib foto di GSP :p

ngerjain UAS berjamaah



Stasiun Jenar, Purworejo

Rumah Mbak Fina

Goa Seplawan - Purworejo

Pesta Rambutan n Manggis di rumahku :)

tampang anak rantau yang rindu kampung halaman :p

Di rumahku. Lho aku kok gak ada?

Pantai Jatimalang - Purworejo

Pantai Jatimalang - Purworejo

Ya Tuhan... mereka selfie di dalem angkot!

Kuliah Psikolinguistik terakhir sama Prof. Amitya

Kuliah Bahasa Inggris Akademik - Pak Aris

Bangku hitam bawah Jembatan Budaya

Kuliah LHK terakhir sama Pak Inyo

Sabtu, 14 Desember 2013

Ulang Tahun Sang Mahaguru

Sejak dua minggu yang lalu kami, para mahasiswa pascasarjana UGM jurusan Ilmu Linguistik, sudah diwanti-wanti untuk mempersiapkan diri menghadiri seminar internasional dalam rangka merayakan ulang tahun salah satu mahaguru kebanggaan kami Prof. Soepomo Poedjosoedarmo yang ke-80.

Seminar hari pertama, 5 Desember 2013 dibuka oleh acara seremonial seperti sambutan ketua panitia Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A. atau sering dipanggil Pak Putu (aja). Selain itu ada juga sambutan dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. Setelah gong dipukul, maka dimulai lah acara seminar ini. Seminar sesi pertama diisi oleh 2 pemakalah super keren. Pemakalah pertama, Prof. Stephanus Djawanai, Ph.D yang mempresentasikan makalah yang berjudul Bahasa Hominisasi dan Simbolisasi. Pemakalah kedua yang gak kalah keren adalah Dr. Timothy McKinnon yang mempresentasikan makalah dengan judul Malay Morphology: How strange does it get?. Mas Tim ini udah bule, masih muda, bahasa Indonesianya lancaaarrr banget. Aduh mas, kesemsem aku sama kamuuu... >.< #salahfokus

Setelah coffee break selama seperempat jam, seminar dilanjutkan lagi. Sesi kedua ini ada enam pemakalah yang tampil. Ada yang mengagumkan karena nama besarnya, ada yang biasa aja dan terkesan “kebanting” sama pemakalah sebelumnya. Satu yang menarik perhatian saya, pemakalah Truly Almendo Pasaribu yang mempresentasikan A Cognitive Linguistics Analysis of Indonesian Love Metaphors. Yaa... semua yang berhubungan dengan cinta pasti jadi menarik bukan? Hehe. Diselingi Ishoma selama 45 menit, seminar lanjut lagi. Kali ini ada enam pemakalah lagi yang tampil. Tapi saya lost focus selama sesi ini. Mungkin karena kekenyangan jadi ngantuk, mungkin karena topiknya gak ada yang menarik perhatian saya, mungkin karena pemakalahnya gak pandai mencuri perhatian audiens... entahlah. Lanjut coffee break lagi selama seperempat jam dan Seminar sesi keempat, sesi terakhir untuk hari ini. Ada enam lagi pemakalah yang tampil. Ada dua yang menarik perhatian saya. Yang pertama, Ibu Siti Jamzaroh dengan makalahnya yang berjudul Mengungkap Tabir Nama Diri Masyarakat Banjar. Kenapa menarik bagi saya? Karena agak nyerempet2 sama topik skripsi saya dulu tentang nama diri. Tapi yaa... saya agak kecewa sih sama presentasinya. Sepertinya materi kurang dipersiapkan dengan matang. Pemakalah kedua yang menarik perhatian saya yaitu Yunus Sulistyono yang mempresentasikan Perbandingan Genetis dan Tipologis Bahasa Bunak Timor dan Abui. Kenapa menarik bagi saya? Karena dia teman sekelas saya di kuliah... *ya iyalaaaahhh* Akhirnya seminar hari pertama ditutup dengan makan nasi goreng babat samping Bank Mandiri (kalo ini sih acara pribadi saya sama larit :p)

Seminar sesi pertama hari kedua dibuka dengan lima pemakalah. Entah kenapa gak ada satupun yang menarik perhatian saya. Sekitar jam 10 pagi, kami coffee break selama lima belas menit. Acara selanjutnya adalah perayaan ulang tahun Prof. Pomo. Kami berdoa dan menyanyi bersama. Saya sempat menitikkan air mata ketika salah satu murid beliau menyanyikan sebait lirik yang dia ciptakan sendiri spesial untuk Prof. Pomo. Kami yang berada di ruangan tersebut terharu sekali. Kemudian pemotongan tumpeng. Potongan tumpeng yang pertama diberikan kepada peserta seminar yang termuda. Ternyata dia adalah teman sekelas saya di jurusan Ilmu Linguistik angkatan 2013 dan sama-sama berasal dari Purworejo. Namanya Sahara Ramadhani, usianya baru 21 tahun. Setelah itu, bapak Tri Mastoyo menyerahkan kado berupa wayang Begawan Abiyasa yang dibingkai cantik. Mengapa Begawan Abiyasa? Konon katanya Begawan Abiyasa adalah guru para Pandawa. Saat Pandawa sedih ataupun senang, biasanya datang ke Begawan Abiyasa. Begitu pula sosok Prof. Soepomo Pudjosoedarmo yang merupakan “tempat berlabuh” dari para juniornya. Setelah perayaan ulang tahun yang mengharu biru ini, kami dipersilakan istirahan selama hampir 2 jam. Ini juga memberikan kesempatan pada kaum laki-laki untuk menunaikan ibadah Shalat Jumat.

Acara dimulai lagi pukul 1 siang dengan menghadirkan enam pemakalah lagi. Mungkin karena kekenyangan, sayapun merasa mengantuk sekali. Apalagi ruangan terlihat sepi karena banyak kursi yang tidak terisi. Entah “kabur” kemana para peserta seminar. Pukul 14.30 kami coffee break (lagi!). Selanjutnya, seminar sesi terakhir dibawakan oleh dua pemakalah dahsyat, Prof. Dr. Bahren Umar Siregar yang membawakan makalah berjudul Metafora Bahasa Indonesia sebagai Penghela Ilmu Pengetahuan dan Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A. yang membawakan makalah berjudul Gadjah Mada Bercanda, Humor Dosen UGM: Sebuah Kajian Sosiopragmatik. Menurut saya ini “gong” nya dari seminar hari kedua ini. Anehnya, kursi-kursi penuh terisi seperti ketika pembukaan seminar. Acara seminar ini ditutup sekitar pukul lima sore. Kami puas-puasin foto-foto. Sayangnya foto saya bersama teman sekelas agak nge-blur. Tapi gak papa, kenangan yang paling indah bukan tercetak pada selembar gambar. Melainkan di sini, di hati dan memori kita.

Happy Birthday, Prof! Semua doa terbaik telah terpanjatkan untukmu. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkannya, aamiin... ^___^
narsis saat coffee break

perayaan ulang tahun


apa ya yang dibicarakan Prof. Pomo dan Prof. Stephanus Djawanai?

Saya dan Larit, mumpung ketemu... :)