Tampilkan postingan dengan label Tentang Purworejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Purworejo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Juni 2017

Buka Bersama Kawan Lama


Kalo dulu bilangnya, “gak ada loe, gak rame”
Kalo sekarang, “gak ada loe, ya loe siap-siap aja jadi bahan omongan” wkwkwk

Atas pertimbangan itulah aku mau ikutan ngurusin acara buka puasa bersama (selanjutnya disingkat bukber) temen-temen SMP. Daripada gak ikut nanti malah jadi objek gosip, mendingan ikut kan jadinya aku bisa ikutan ngegosipin temen yang lain #eh. Hehehe... bercanda ding. Tapi emang sih sebenernya aku tuh paling males ikutan acara bukber, reuni, temu kangen, dan sejenisnya itu lah. Kenapa males? Karena biasanya nih, biasanya loh yaa.. yang namanya temu kangen itu jadi ajang show off kesuksesan atau pencapaian diri sama temen-temen lama. Terutama sama temen yang udah belasan tahun gak ketemu. Kesuksesan itu bisa menyangkut banyak hal, misalnya yang dulunya gendut sekarang udah langsing, yang dulunya kerempeng sekarang udah semok menggoda, yang dulunya jerawatan sekarang rajin perawatan, yang dulunya pah poh di kelas sekarang udah jadi pengusaha sukses, yang dulunya jomblo ngenes sekarang udah nggandeng dan nggendong.

Kalo prototipe kesuksesan itu kayak poin-poin di atas, pasti tau lah kenapa aku jadi males ikutan bukber. Lha aku belum memenuhi satupun poin di atas je. Dalam arti belum bisa dibilang sukses lah. Begitu juga sama acara bukber di grup ini. Awalnya udah mikir macem-macem sih, tapi ternyata gak terbukti dan hanya paranoid semata πŸ˜…πŸ˜….

Berawal dari grup di WA yang aku bikin di awal tahun ini dengan anggotanya temen-temen SMP. Satu persatu teman lama muncul dan mulai berkomunikasi secara intens. Bercanda, baper, nge-bully, semua dibikin asik aja. Akhirnya timbullah rasa kangen pengen tatap muka, pengen ngobrol dan bercanda langsung bukan cuma lewat tulisan. Momen yang pas buat temu kangen mendekati Lebaran, yaa bukber ini.

Emang sih acara bukber ini gak semua bisa ikut. Paling yang ikut cuma temen-temen yang masih berdomisili di kota ini. Sebagian lainnya yang tinggal di luar kota kan belum masuk jadwalnya mudik, jadi rata-rata gak bisa ikut.

Akhirnya ditetapkanlah hari Sabtu tanggal 17 Juni 2017 kami Alumni kelas 3B SMP N 4 Purworejo angkatan 2004 mengadakan reuni di rumah makan Iwak Obong (*yang kebetulan punyanya kakak kelas dulu). Peserta terdaftar ada 9 orang, tapi jadi 12 orang karena ada teman yang bawa suami dan anaknya. Balitanya juga ada 3, lucu-lucu semua πŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘Ά.

Awalnya sempet ada yang meragukan sih, jangan-jangan mentang-mentang sebagian besar yang ikut bukber itu sudah bersuami dan beranak nanti obrolan jadi gak asik. Hehehe... wajar sih kalo ada yang berpikiran seperti itu. Tapi alhamdulillah gak tuh. Awalnya juga aku sendiri ngerasa agak gimanaaa gitu... gimana kalo nanti malah pada asik bahas karir, keluarga, aku bisa apaaaa. Kalo ada pertanyaan simple dari mereka misalnya: kerja dimana des? gitu aja aku gak bisa jawab. Kalo ada pertanyaan lainnya: undangannya kapan des? gitu juga aku belum bisa jawab. Kan ngenes yak! 😭

Tapi sekali lagi, Alhamdulillah temen-temen aku baikkk semuaaa... gak ada yang bahas itu. Mereka sadar bahwa itu ranah pribadi -yang kalo orangnya gak cerita ya gak usah kepo-. Sekadar tanya sekarang tinggal dimana yaa masih wajar lah yaa. Yang karirnya sukses gak ngeremehin yang pengangguran, yang kuliahnya cepet selesai gak memandang rendah yang kuliahnya gak selesai-selesai 😜. Yang sudah nikah dan punya anak gak ngecengin yang masih galau asmara macam aku gini 😝😝. Kami duduk di kursi yang sama, makan di meja yang tingginya pun sama. Kami lepas semua "atribut" yang menempel pada diri pribadi, dan asyik berbincang seperti pada saat jam istirahat masa sekolah dulu 😊😊😊. 

Banyak tawa, banyak cerita, banyak kenangan lama bersemi kembali πŸ’™πŸ’™πŸ’™.






Senin, 12 Juni 2017

Kapan Mudik?

Dua minggu menjelang Lebaran, obrolan seputar mudik mulai rame mengudara. Ada yang lega udah dapet tiket mudik dan udah pasti jadwal liburnya, ada juga yang galau kehabisan tiket kereta dan terancam mudik naik bus yang insyaallah terkena macet hahaha. Ada yang lebih galau lagi sih (kisah nyata sahabatku) mobil udah ready buat pulang kampung, oleh-oleh buat sanak saudara, tetangga, dan teman-teman sudah dipacking, baju udah siap semua, tapi belum tau suaminya dapet liburnya mulai kapan. Ya maklum kalo kerjaan yang berhubungan sama melayani umat emang harus siap mengesampingkan kepentingan pribadi.

Gimana rasanya dan sensasinya pulang kampung sih kebetulan aku belum pernah ngerasain. Yang aku inget cuma dulu pas lebaran tahun 1997 aku sekeluarga pulang kampung ke rumah simbah di Purworejo. Kebetulan waktu itu kami masih tinggal di Bekasi. Lebaran tahun berikutnya, tahun 1998, kami malah sudah menetap di Purworejo. Jadi gak ngerasain pulang kampung lagi deh. Momen pulang kampung tahun 1997 itu cukup membekas di hati sih. Waktu itu kami pulang kampung bareng-bareng sama paguyuban warga di perantauan. Orangnya gak banyak sih, cuma satu bus hehehe. Nah kami berangkat hari terakhir puasa. Tapi waktu itu kebetulan lebarannya beda-beda. Jadi pas mau berangkat ada beberapa wilayah yang udah Shalat Ied. Tapi sebagian besar dari kami yang mudik ini masih puasa sih. Kami berangkat dari Jakarta habis subuh, diperkirakan malam takbiran sudah sampai di Purworejo. Tapi ndilalah ya macet lah di jalan. Ngerasain takbiran bareng-bareng di dalam bus, sensasinya luar biasa πŸ˜…. Kami sampai di kampung halaman sekitar tengah malam. Bus diparkir di lapangan dekat jalan karena gak bisa masuk ke dalam gang. Akhirnya kami jalan kaki dari jalan raya menuju rumah masing-masing yang kebetulan memang berdekatan. Tengah malam, jalan kaki lewat mbulak yang gelap gulita, sandalnya ditenteng karena tanahnya becek, sambil rempong bawa tas-tas dan kardus, aahh... luar biasa pokoknya!

Lebaran tahun berikutnya gak ngerasain mudik karena malah udah pindah tinggal di Purworejo.

Nah lebaran tahun 1999 ngerasain mudik lagi. Tapi kali ini kebalikannya. Kalo pada umumnya orang-orang mudik dari kota ke desa, kalo kami justru dari desa ke kota. Kami memang mau merayakan lebaran di Jakarta, di rumah orang tuanya Ibu. Agak samar-samar sih, yang aku inget cuma kami ke Jakarta naik bus Sumber Alam dan juga terjebak macet. Total waktu perjalanan Purworejo-Jakarta waktu itu sekitar 33 jam. Wow!

Setelah itu gak pernah ada acara mudik-mudik lagi karena simbah yang di jakarta meninggal 3 tahun kemudian.

Ndialalah aku kuliah juga cuma di Jogja, jadi kalaupun mau lebaran pulang ke rumah gak berasa banget mudiknya. Ya iyalah, tinggal naik motor satu setengah jam nyampe, sangu duit lima puluh ribu udah turah-turah. Hahaha...

Ada yang bilang, “merantaulah, maka kau akan tau betapa mahalnya tiket pulang, dan betapa nikmatnya perjalanan mudik”

Belum tau sih nantinya bakalan berkesempatan ngerasain mudik atau gak. Mungkin aja nanti kalo kerja di luar kota yang agak jauh dari Purworejo gitu kan juga ngerasain mudik. Mungkin juga mengikuti suami kerja dimana gitu #eh suami 😍😍😍😍😍

Bisa juga kalo emang rejeki kerjaan dan jodohnya ada di sekitaran Purworejo aja juga gak papa sih gak ngerasain mudik, cukup ikutan pusing liat berita di tipi dan ikutan emosi karena jalanan Purworejo yang biasanya damai dan lengang berubah jadi macet dan semrawut.

Rabu, 10 Juni 2015

Kepada: Adikku

Dia baru saja menginjak usia sembilan belas tahun. Usia terakhir di tingkat belasan, karena tahun depan ia sudah akan berkepala dua. Tapi ia tetap saja seorang bocah yang (masih) lebih sering labil dan tanpa pertimbangan. Entahlah, mungkin juga dengan pertimbangan, tapi aku tak pernah bisa memahami apa yang menjadi dasar pertimbangannya dalam mengambil keputusan.

Sembilan belas tahun. Aku melihat dan menghafal setiap perkembangannya sejak ia berusia satu hari sampai hari ini dimana ia berusia sembilan belas tahun. Tapi aku juga cuma manusia yang mudah alpa. Mungkin banyak yang terlewat olehku hingga akhirnya aku tak pernah bisa memahami tiap liku jalan yang dia pilih.

Haha... dasar kau Gemini!
Dasar kau orang berelemen Udara! Labil, moody, tapi mudah beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Fleksibel. Tak heran kalau temanmu bejibun dari semua kalangan. Banyak orang yang menyukaimu. Tapi tak semua dari mereka itu tulus. Kau masih harus banyak belajar menerima bahwa tidak semua orang benar-benar baik. Tapi tenang saja... waktu akan mengajarimu semuanya tanpa terkecuali. 

Kau udara, aku tanah. Itulah mengapa kita tak pernah sejalan. Setidaknya kita tidak pernah bisa benar-benar dekat dan memahami satu sama lain, seperti kisah-kisah menakjubkan tentang hubungan kakak beradik. Aku tak pernah mengerti jalan yang kau pilih, jalan terjal yang berliku meski mungkin dengan pemandangan yang indah. Sementara kau mungkin berpikir apa enaknya hidup sepertiku yang flat, gitu-gitu aja di zona aman nyaman. Tapi ya biarlah... masing-masing dari kita menikmati jalan yang telah dipilih. 

Tapi kau harus ingat, meski aku tak terlalu peduli jalan mana yang kau pilih, masih ada Bapak Ibu yang selalu mengkhawatirkanmu. Mengkhawatirkan anak-anaknya. Kau boleh saja menghiraukan pendapatku, tapi kau berdosa jika mengabaikan perasaan Bapak Ibu. 
Kau harus tau, dalam setiap jalan terjal yang kau pilih, mereka menahan nafas, meredam detak jantung yang menghentak, menahan pening di kening, dan merapal doa-doa untuk keselamatanmu, selalu. Meski kadang aku tak tega, tapi aku biarkan saja. Toh aku bisa apa? Mereka berhak mengkhawatirkan anak-anaknya.

Anyway... Selamat memasuki gerbang kedewasaan, berhati-hatilah dalam melangkah, bijaklah dalam mengambil keputusan. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi, aamiin.
Selamat Ulang Tahun Ke 19, Dek. Panjang umur dan sehatlah selalu, jadi kebanggaan Bapak Ibu.

 

Rabu, 25 Juni 2014

Catatan Akhir Semester

Dear temans seperjuangan...

Gak kerasa ya ujug-ujug udah akhir semester dua. Emang sih kuliah S2 lebih cepet daripada S1 dulu. Baru aja akhir Februari kemarin kita mulai kuliah awal semester genap. Eh, ini akhir juni udah libur lagi. Kalo dihitung gak genap 6 bulan kita kuliah ya. Dasarnya emang kuliahnya cepet, ketambahan lagi bareng-bareng terus sama kalian, waktu jadi terasa cepet banget berganti.

Sedikit flashback yaaa....

Aku masih ingat hari pertama pertemuan kita. Aku lupa tanggalnya, tapi yang jelas sore menjelang senja itu pertama kali kita semua bertatap muka. Di rumah Prof. Pomo, kuliah pertama kita, Teori Linguistik. Sore itu kita belum benar-benar kuliah ya, namanya juga baru pertama ketemu. Saling berkenalan satu sama lain. Satu persatu dari kita berdiri dan menyebutkan identitas berupa nama, asal daerah, asal jurusan n kampus S1, juga alamat kost. Saat tiba giliranku, dengan lantang tapi agak jaim aku bilang “Desti Sedyaningrum, Purworejo, Sastra Indonesia UGM, belum dapet kost”. Hahaha...

Dan hari itu terciptalah quote dari Mila yang begitu melegenda, “kita ini sudah S2, beda sama S1” Hahaha...

Inget tugas pertama kita? Presentasiin topik-topik dari buku Introductions To Theoretical Linguistics-nya pakde John Lyons. Gubraaakkk... untungnya dibagi kelompok berdasarkan urutan presensi... dan aku bersyukur banget tergabung dalam kelompok 6 bareng orang-orang hebat, terima kasih Yunus Sulistyono, Fitria Nurhayati, dan Ferdi Arifin. Seminggu dua kali kita ngumpul buat bahas topik ini. Seneeeenng banget ada kalian yang bisa ngasih pencerahan buat aku yang gak mudheng blas isi bahasan di chapter 6 itu. Hahaha... dan ternyata kita kejatah presentasi lagi ya buat materi tambahan. Aku menikmati setiap proses belajar kita. Terima kasih...

Oh iya, pas kita sekelas kondangan ke tempat mas Nur rohman ya di Karanganyar terus bablas maen ke Tawangmangu. Sumpah itu hepiiiii bangeeeettt... Teman-teman, aku mencintai kaliaaaannn... *peluk satu-satu*

Teruuusss Ujian Akhir Semester gasal pas akhir Desember-awal Januari, inget ngerjain tugas Bahasa Swahili yang akhirnya jawabannya didiktein sama Sony dan temen2 sekelas tinggal nyalin aja? Terus tugas Linguistik Umum yang kita kerjain secara berjamaah? Sumpaahh... itu gokil banget! Empat tahun kuliah S1 aku belum pernah ngalamin yang kayak gitu. Ckckck!

Terus liburan semester dan aku galaaauuu. Kenapa galau? Lama gak ketemu kalian, gaes. Serius deh...

Terus masuk kuliah lagi akhir Februari’14, semester baru... beberapa teman mulai berkelompok sendiri dan kelompoknya bersifat semieksklusif gitu yaa... sampe punya grup Whatsapp sendiri selain grup Whatsapp kelas. Yaa itu sih pilihan ya. kita semua udah sama-sama dewasa. Aku rasa hal itu gak menjadi alasan buat kita jadi terpecah. Tapi intensitas ngumpul bareng emang jadi berkurang sih. Oh iya... pertengahan Maret beberapa dari kalian main ke Purworejo, pesta duren di rumah mbak Fina terus mampir rumahku pesta rambutan n manggis. Kita ke Goa Seplawan dan Pantai Jatimalang juga naek angkot yang disewa sama mbak Fina. Gimana perasaan kalian? Aku seneng... seneeeeenngggg banget malahan. Tapi ya cuma bisa menyambut kalian kayak gitu doang. Maaf yaa kalo ada yang gak nyaman :’) *Ferdi, Fiki, Fani, Anis, Iin, Zewit, Haira, Dyah K, Mbak Dyah W, Ayunda, Cindy, Pacarnya Cindy*

Terusss kuliah lagiii kayak biasa. Eh, itung deh, berapa kali kita ditegur dosen karena kelas rame ngalahin pasar? Berapa kali kuliah bareng anak kelas A dan mereka sampe ‘nggumun’ cenderung sinis ngeliat kelakuan kita? Hahaha.... Dan sampailah pada minggu ini, akhir Juni, minggu kedua Ujian Akhir Semester Genap. Minggu depan udah liburan lagi... bertepatan sama bulan Ramadhan. Beberapa dari kalian pasti pulang ke rumah dan balik lagi setelah Lebaran pas mulai kuliah lagi. Hmm....

Gaes, semester depan kita udah gak ada kuliah. Cuma tinggal seminar proposal tesis. Kita bisa sering ketemu gak ya, gaes? Huks... syediiihhh...
Kalian tuh gila abis. Kadang aku aja gak nyangka dipertemukan dengan orang-orang seperti kalian. Tapi dengan begitu aku tahu dunia di luar comfort zone-ku selama ini. Aku tau kalian bakal jadi orang-orang hebat nantinya. Dan aku bangga pernah menjadi bagian dari kalian, mahasiswa ber-NIM genap dengan kelakuan ganjil... :’)

*Colek Temen Sekelas Linguistik B ’13: Ade, Ayunda, Anis, Mbak Ani, Cindy, Dinna, Mbak Diyah W, Dyah K, Mbak Emy, Mbak Fina, Fitria, Farih, Fani, Fariz, Ferdi, Ganggas, Havid, Haira, Iin, Ima, Mila, Mbak Lila, Mbak Nanik, Lisda, Mira, Mas Nur rohman, Mas Iko, Okta, Lia, Sahara, Sony, Tyas, Vita, Windha, Yunus, Yu xin, Zewit

masih maba, jadi wajib foto di GSP :p

ngerjain UAS berjamaah



Stasiun Jenar, Purworejo

Rumah Mbak Fina

Goa Seplawan - Purworejo

Pesta Rambutan n Manggis di rumahku :)

tampang anak rantau yang rindu kampung halaman :p

Di rumahku. Lho aku kok gak ada?

Pantai Jatimalang - Purworejo

Pantai Jatimalang - Purworejo

Ya Tuhan... mereka selfie di dalem angkot!

Kuliah Psikolinguistik terakhir sama Prof. Amitya

Kuliah Bahasa Inggris Akademik - Pak Aris

Bangku hitam bawah Jembatan Budaya

Kuliah LHK terakhir sama Pak Inyo

Rabu, 20 November 2013

Ketika Merapi "Batuk"

Pagi itu cuaca di Purworejo cerah. Maklum, hujan deras mengguyur hampir semalam penuh. Setelah mandi dan bersiap berangkat ke Jogja, saya iseng-iseng menyetel tv. Setengah terhenyak saya melihat headline berita di salah satu stasiun tv, “Merapi Meletus”. Mak dheg. Si penyiar nampak sedang melakukan telewicara dengan salah satu nara sumber di lokasi kejadian. Saya baca dengan cermat lokasinya. Cangkringan. Iyaa.. bener... Gunung Merapi. Semula saya pikir mungkin Gunung Marapi yang ada di Sumbar. Langsung saya konfirmasi ke beberapa teman yang ada di Jogja. Iya benar merapi ‘batuk’. Tapi tidak separah tahun 2010 dan suasana saat ini sudah kondusif. Alhamdulillah.

Seketika ingatan saya melayang pada bulan Oktober-November tiga tahun lalu... Erupsi Merapi. Banyak momen yang tak terlupakan saat itu. Tapi ada yang paling membekas dalam ingatan saya, tanggal 5 November 2010.

Tengah malam itu saya dikejutkan dengan ketukan bertubi-tubi di pintu kamar kost. Saya keluar kamar, dan keadaan terlihat sangat kacau. Beberapa teman kost menangis sesenggukan sambil berpelukan. Terdengar pula suara tak tok pletak pletok dari atas atap kamar kost. Dengan polos dan setengah mengantuk saya bertanya, “ada apa?”. Huh, pertanyaan bodoh. “Hujan pasir dan kerikil, Des. Merapi meletus!” seru salah seorang teman kost dengan wajah panik. Saya juga panik sih, tapi juga gak tahu harus berbuat apa. Suasana kost bertambah kacau ketika ada salah seorang teman yang malam itu juga, pulang ke rumahnya di Bantul. Dia bilang mau mengungsi  karena kondisi daerah sekitar kost sudah kacau. Ditambah lagi katanya batas zona aman Merapi sudah mencapai radius 20 km. Saya dan teman-teman yang lain kemudian menghabiskan waktu dengan menonton tv di salah satu kamar dan memantau keadaan merapi sampai pagi.

Menjelang siang, saya dan beberapa teman sempat ‘jalan-jalan’ memantau keadaan sekitar. Jalanan berdebu, suara ambulans wira-wiri menambah miris dan dramatis suasana saat itu. Tiba-tiba Ibu menelepon dan meminta saya untuk pulang ke rumah di Purworejo saat itu juga. Bagaimanapun keadaannya, akan lebih baik jika berkumpul bersama keluarga. Maka hari itu saya berkemas dan langsung pulang ke rumah. Melewati perempatan Kentungan jalan Kaliurang ring road utara, saya melihat beberapa reporter dari berbagai stasiun tv sedang melaporkan berita terbaru seputar keadaan pasca letusan Merapi. Perjalanan kali ini, benar-benar perjalanan yang luar biasa. Saya memacu motor saya hanya 60km/jam. Menikmati ‘pemandangan’. Sesekali bahkan lebih lambat dari itu, jika kondisi jalan sangat licin akibat abu merapi yang terkena hujan gerimis. Jarak pandang juga sangat terbatas karena abu yang tertiup angin. Perjalanan Jogja-Purworejo yang biasanya hanya sekitar 90 menit, kali itu saya tempuh hampir 4 jam!

Memasuki kecamatan Bagelen, tempat tinggal saya yang berbatasan dengan provinsi DIY, saya ‘terkagum-kagum’ dengan ‘pemandangan’ di sekitar saya. Astaghfirullah... rasanya seperti mimpi melihat itu semua. Pohon-pohon pisang tumbang, rumpun-rumpun bambu rebah menutupi jalan, jalanan.. atap.. rumah.. dedaunan... semua berselimut abu. Kendaraan semakin sulit berjalan karena licinnya jalanan. Abu merapi setinggi hampir 5cm menutupi jalanan. Ditambah lagi, rintik gerimis yang datang sesekali membuat abu itu menjadi licin. Mungkin kalau hujan deras sekalian malah bisa sedikit membersihkan abu yang ada di jalanan.

Ada yang lebih membuat saya mengelus dada, listrik di daerah saya padam karena kabarnya ada kerusakan jaringan. Total pemadaman listrik selama 35 jam! Bayangkan bagaimana bisa kami hidup tanpa listrik selama waktu itu. Yaa... hitung-hitung prihatin, merasakan saudara-saudara kita di pelosok negeri yang belum mencicipi nikmatnya hidup dengan listrik menyala.

Syukurlah kali ini Merapi hanya ‘batuk’, tidak seperti erupsi tahun 2010 lalu. Kabarnya abu Merapi kali ini mengarah ke timur dan utara sesuai hembusan angin.