Tampilkan postingan dengan label curhat sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat sahabat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2017

Sahabat Sejati

Sahabat sejatiku hilangkah dari ingatanmu, di hari kita saling berbagi...

Sayup-sayup lengkingan suara Duta menggema di telinga. Lagu ini mengingatkanku pada satu masa, lebih dari satu dekade yang lalu. Dipertemukan secara tak sengaja karena bersekolah di tempat yang sama, kelas yang sama. Dari sekian banyak siswa di kelas itu, kenapa kau yang akhirnya lebih dekat dibandingkan teman yang lain? Entahlah... mungkin memang takdir...

Dengan kotak sejuta mimpi aku datang menghampirimu, kuperlihatkan semua hartaku...
Diantara yang lain, kau yang paling memahamiku. Saat aku terjatuh di titik terendah, kala itu. Saat aku mencoba bangkit meski tak mudah, tanganmulah yang menguatkanku. Ketika semua perjuangan berbuah manis, aah.. aku tak kan menjadi nomor satu jika bukan karenamu, karena genggaman tanganmu dulu.

Kita slalu berpendapat, kita ini yang terhebat, kesombongan di masa muda yang indah...

Denganmu, kini aku bisa mengenang masa SMA ku sebagai masa yang paling indah. Melakukan hal-hal gila semacam bolos pelajaran ekstra dan malah kabur main pasir di pantai, mungkin jadi “prestasi” paling membanggakan. Mengadakan pajamas party di rumahmu pas weekend, kenalan sama cowok-cowok dan akhirnya jalan bareng. Hahaha... hal-hal yang gak mungkin aku alami kalau aku gak bersahabat denganmu.

Aku raja kaupun raja, aku hitam kaupun hitam, arti teman lebih dari sekedar materi...

Beberapa kali kita jatuh cinta pada orang yang sama. Tapi puncaknya ketika akupun jatuh cinta dan akhirnya menjalin hubungan sama mantan pacarmu, orang yang paling kau benci saat itu (dan paling ku benci saat ini!). Aku menutupi hubungan kami darimu. Aku tau itu salah dan gak mungkin selamanya membohongimu. Tapi aku terjebak di situasi ini. Dan benar saja, akhirnya kau tahu dari orang lain. Dalam diammu aku tau kau menyimpan amarah. Meski begitu dengan hati lapang kau hanya berkata, “It’s ok. Jalanin aja dulu, semoga dia memperlakukanmu dengan baik”. Pada akhir hubungan kami, aku baru tahu kenapa dulu kamu tak setuju. Kamu benar, dia bukan orang yang baik. Dan satu penyesalan terberatku adalah, membohongi kamu, sahabatku terbaikku demi orang yang gak pantas untuk dipertahankan. Maafkan aku.

Pegang pundakku jangan pernah lepaskan.. bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar

Sejak saat itu aku berjanji gak akan menutupi apapun darimu. Kau pun begitu. Meski waktu untuk bertemu tak lagi sebanyak dulu, tapi aku tau kau selalu ada buatku. Begitupun aku selalu berusaha ada untukmu. Pada saat-saat terberat dalam hidupku, tumpahan air mataku jatuh dipelukanmu. Dan pada saat-saat tersulit dalam hidupmu, aku ada di lini terdepan untuk membantumu melewati itu semua. 

Remas sayapku jangan pernah lepaskan.. bila kuingin terbang, terbang meninggalkanmu...

Aku tahu waktu tak mungkin berhenti, seberapapun aku ingin berhenti di detik ini. Detik dimana kita masih sama-sama lajang, bebas bercerita tentang laki-laki pemikat hati,  bebas tertawa dan bercanda mengenang masa muda. Hari ini, kita merayakan detik-detik masa bebas kita, berdua saja. Perjalanan Purworejo-Jogja menjadi saksi bisu terkuaknya sebuah rahasia. Sekali lagi, aku genggam tanganmu saat derai air mata jatuh membasahi pipi. Aku tahu ini bukan maumu, tapi sebuah anggukan itu tanda bahwa kau setuju. Berbahagialah, sayang... kau harus banyak-banyak bersyukur karena Allah mengganti apa yang hilang dengan yang jauh lebih baik. Dan niat baik memang harus disegerakan. Kau tidak perlu takut, waktu yang akan mengajarimu berproses. Jangan pula khawatir karena aku takkan pernah pergi, selalu ada dihatimu, mendekapmu kapanpun kau mau.

Kamis, 17 November 2016

Larik untuk Larit

Kepada: Larit Satriyani
 
meski jarak kita semakin jauh
dan ruang di hatimu semakin penuh
tapi aku tahu
ada satu ruang
yang tak bisa diisi
oleh apapun dan siapapun,
sebentuk ruang rindu untukku
tempat dimana hati kita
bertemu dan bicara
saat mata tak mampu menatap
dan tangan tak kuasa mendekap

Jogja, 17 November 2016

Rabu, 25 Juni 2014

Catatan Akhir Semester

Dear temans seperjuangan...

Gak kerasa ya ujug-ujug udah akhir semester dua. Emang sih kuliah S2 lebih cepet daripada S1 dulu. Baru aja akhir Februari kemarin kita mulai kuliah awal semester genap. Eh, ini akhir juni udah libur lagi. Kalo dihitung gak genap 6 bulan kita kuliah ya. Dasarnya emang kuliahnya cepet, ketambahan lagi bareng-bareng terus sama kalian, waktu jadi terasa cepet banget berganti.

Sedikit flashback yaaa....

Aku masih ingat hari pertama pertemuan kita. Aku lupa tanggalnya, tapi yang jelas sore menjelang senja itu pertama kali kita semua bertatap muka. Di rumah Prof. Pomo, kuliah pertama kita, Teori Linguistik. Sore itu kita belum benar-benar kuliah ya, namanya juga baru pertama ketemu. Saling berkenalan satu sama lain. Satu persatu dari kita berdiri dan menyebutkan identitas berupa nama, asal daerah, asal jurusan n kampus S1, juga alamat kost. Saat tiba giliranku, dengan lantang tapi agak jaim aku bilang “Desti Sedyaningrum, Purworejo, Sastra Indonesia UGM, belum dapet kost”. Hahaha...

Dan hari itu terciptalah quote dari Mila yang begitu melegenda, “kita ini sudah S2, beda sama S1” Hahaha...

Inget tugas pertama kita? Presentasiin topik-topik dari buku Introductions To Theoretical Linguistics-nya pakde John Lyons. Gubraaakkk... untungnya dibagi kelompok berdasarkan urutan presensi... dan aku bersyukur banget tergabung dalam kelompok 6 bareng orang-orang hebat, terima kasih Yunus Sulistyono, Fitria Nurhayati, dan Ferdi Arifin. Seminggu dua kali kita ngumpul buat bahas topik ini. Seneeeenng banget ada kalian yang bisa ngasih pencerahan buat aku yang gak mudheng blas isi bahasan di chapter 6 itu. Hahaha... dan ternyata kita kejatah presentasi lagi ya buat materi tambahan. Aku menikmati setiap proses belajar kita. Terima kasih...

Oh iya, pas kita sekelas kondangan ke tempat mas Nur rohman ya di Karanganyar terus bablas maen ke Tawangmangu. Sumpah itu hepiiiii bangeeeettt... Teman-teman, aku mencintai kaliaaaannn... *peluk satu-satu*

Teruuusss Ujian Akhir Semester gasal pas akhir Desember-awal Januari, inget ngerjain tugas Bahasa Swahili yang akhirnya jawabannya didiktein sama Sony dan temen2 sekelas tinggal nyalin aja? Terus tugas Linguistik Umum yang kita kerjain secara berjamaah? Sumpaahh... itu gokil banget! Empat tahun kuliah S1 aku belum pernah ngalamin yang kayak gitu. Ckckck!

Terus liburan semester dan aku galaaauuu. Kenapa galau? Lama gak ketemu kalian, gaes. Serius deh...

Terus masuk kuliah lagi akhir Februari’14, semester baru... beberapa teman mulai berkelompok sendiri dan kelompoknya bersifat semieksklusif gitu yaa... sampe punya grup Whatsapp sendiri selain grup Whatsapp kelas. Yaa itu sih pilihan ya. kita semua udah sama-sama dewasa. Aku rasa hal itu gak menjadi alasan buat kita jadi terpecah. Tapi intensitas ngumpul bareng emang jadi berkurang sih. Oh iya... pertengahan Maret beberapa dari kalian main ke Purworejo, pesta duren di rumah mbak Fina terus mampir rumahku pesta rambutan n manggis. Kita ke Goa Seplawan dan Pantai Jatimalang juga naek angkot yang disewa sama mbak Fina. Gimana perasaan kalian? Aku seneng... seneeeeenngggg banget malahan. Tapi ya cuma bisa menyambut kalian kayak gitu doang. Maaf yaa kalo ada yang gak nyaman :’) *Ferdi, Fiki, Fani, Anis, Iin, Zewit, Haira, Dyah K, Mbak Dyah W, Ayunda, Cindy, Pacarnya Cindy*

Terusss kuliah lagiii kayak biasa. Eh, itung deh, berapa kali kita ditegur dosen karena kelas rame ngalahin pasar? Berapa kali kuliah bareng anak kelas A dan mereka sampe ‘nggumun’ cenderung sinis ngeliat kelakuan kita? Hahaha.... Dan sampailah pada minggu ini, akhir Juni, minggu kedua Ujian Akhir Semester Genap. Minggu depan udah liburan lagi... bertepatan sama bulan Ramadhan. Beberapa dari kalian pasti pulang ke rumah dan balik lagi setelah Lebaran pas mulai kuliah lagi. Hmm....

Gaes, semester depan kita udah gak ada kuliah. Cuma tinggal seminar proposal tesis. Kita bisa sering ketemu gak ya, gaes? Huks... syediiihhh...
Kalian tuh gila abis. Kadang aku aja gak nyangka dipertemukan dengan orang-orang seperti kalian. Tapi dengan begitu aku tahu dunia di luar comfort zone-ku selama ini. Aku tau kalian bakal jadi orang-orang hebat nantinya. Dan aku bangga pernah menjadi bagian dari kalian, mahasiswa ber-NIM genap dengan kelakuan ganjil... :’)

*Colek Temen Sekelas Linguistik B ’13: Ade, Ayunda, Anis, Mbak Ani, Cindy, Dinna, Mbak Diyah W, Dyah K, Mbak Emy, Mbak Fina, Fitria, Farih, Fani, Fariz, Ferdi, Ganggas, Havid, Haira, Iin, Ima, Mila, Mbak Lila, Mbak Nanik, Lisda, Mira, Mas Nur rohman, Mas Iko, Okta, Lia, Sahara, Sony, Tyas, Vita, Windha, Yunus, Yu xin, Zewit

masih maba, jadi wajib foto di GSP :p

ngerjain UAS berjamaah



Stasiun Jenar, Purworejo

Rumah Mbak Fina

Goa Seplawan - Purworejo

Pesta Rambutan n Manggis di rumahku :)

tampang anak rantau yang rindu kampung halaman :p

Di rumahku. Lho aku kok gak ada?

Pantai Jatimalang - Purworejo

Pantai Jatimalang - Purworejo

Ya Tuhan... mereka selfie di dalem angkot!

Kuliah Psikolinguistik terakhir sama Prof. Amitya

Kuliah Bahasa Inggris Akademik - Pak Aris

Bangku hitam bawah Jembatan Budaya

Kuliah LHK terakhir sama Pak Inyo

Selasa, 17 Desember 2013

Dear Karibku,

Dear karibku...

Sungguh... aku turut berbahagia mendengar kabar darimu. Aku hanya merasa tak perlu memperlihatkannya saja. Untuk apa? Bukankah yang kasat mata biasanya hanya pura-pura?

Aku tahu inilah yang kamu impikan sejak lama. Setidaknya sejak kamu mengenal dia. Dan kini perjalananmu akan memasuki babak baru, bukan? Bagaimana perasaanmu saat ini? Tentu sangat bahagia, mungkin tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku tahu itu. Aku juga tahu betapa inginnya kamu membaginya denganku. Tapi aku sengaja menghindar. Entahlah... aku merasa lebih berarti ketika aku menjadi sandaranmu saat kamu menangis. Bukan aku tak bahagia melihatmu berbahagia, tapi... bukankah saat kamu bahagia sudah terlampau banyak orang di sekelilingmu? Aku tahu aku punya tempat tersendiri, tapi... aku lebih memilih untuk menjauh pergi.

Jika mungkin kamu bertanya, apa aku sedih? Apa aku merasa kehilanganmu? Jawabanku, Tidak. Sama sekali tidak. Aku tidak merasa kehilanganmu saat ini. Yah... karena aku telah lama kehilanganmu. Sejak beberapa tahun lalu. Semenjak kamu mengenal dia. Tanpa kamu sadari, aku sudah terbiasa sendiri.

Tapi aku sadar, toh pada akhirnya nanti kitapun akan menjalani semuanya sendiri. Tak mungkin bersama selamanya. Jadi sekarang atau nanti, buatku sama saja.

Jadi... selamat berbahagia untukmu. Semua doa terbaik selalu kupanjatkan untukmu. Aku tahu, setelah ini semuanya tak lagi sama. Kamu akan punya bahu yang lebih lebar untuk jadi sandaran lelahmu, tangan yang lebih lembut untuk mengusap air matamu, pelukan yang lebih hangat dan menentramkanmu... tapi kamu tetap karibku pada rentang sejarah waktu... :')