Tampilkan postingan dengan label cur-col. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cur-col. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2014

Tahu Diri

Untuk seseorang yang sekarang ada di sini, setelah empat belas tahun entah ada dimana...

 Tahu Diri - Maudy Ayunda

hai... selamat bertemu lagi
aku sudah lama menghindarimu
sialku lah kau ada di sini

sungguh tak mudah bagiku
rasanya tak ingin bernafas lagi
tegak berdiri di depanmu kini
sakitnya menusuki jantung ini
melawan cinta yang ada di hati...

dan... upayaku tahu diri
tak slamanya berhasil
pabila kau muncul terus begini
tanpa pernah kita bisa bersama
pergilah... menghilang sajalah lagi...

bye... selamat berpisah lagi
meski masih ingin memandangimu
lebih baik kau tiada di sini

sungguh tak mudah bagiku
menghentikan segala khayalan gila
jika kau ada dan ku cuma bisa
meradang menjadi yang di sisimu
membenci nasibku yang tak berubah...



Selasa, 17 Desember 2013

Dear Karibku,

Dear karibku...

Sungguh... aku turut berbahagia mendengar kabar darimu. Aku hanya merasa tak perlu memperlihatkannya saja. Untuk apa? Bukankah yang kasat mata biasanya hanya pura-pura?

Aku tahu inilah yang kamu impikan sejak lama. Setidaknya sejak kamu mengenal dia. Dan kini perjalananmu akan memasuki babak baru, bukan? Bagaimana perasaanmu saat ini? Tentu sangat bahagia, mungkin tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku tahu itu. Aku juga tahu betapa inginnya kamu membaginya denganku. Tapi aku sengaja menghindar. Entahlah... aku merasa lebih berarti ketika aku menjadi sandaranmu saat kamu menangis. Bukan aku tak bahagia melihatmu berbahagia, tapi... bukankah saat kamu bahagia sudah terlampau banyak orang di sekelilingmu? Aku tahu aku punya tempat tersendiri, tapi... aku lebih memilih untuk menjauh pergi.

Jika mungkin kamu bertanya, apa aku sedih? Apa aku merasa kehilanganmu? Jawabanku, Tidak. Sama sekali tidak. Aku tidak merasa kehilanganmu saat ini. Yah... karena aku telah lama kehilanganmu. Sejak beberapa tahun lalu. Semenjak kamu mengenal dia. Tanpa kamu sadari, aku sudah terbiasa sendiri.

Tapi aku sadar, toh pada akhirnya nanti kitapun akan menjalani semuanya sendiri. Tak mungkin bersama selamanya. Jadi sekarang atau nanti, buatku sama saja.

Jadi... selamat berbahagia untukmu. Semua doa terbaik selalu kupanjatkan untukmu. Aku tahu, setelah ini semuanya tak lagi sama. Kamu akan punya bahu yang lebih lebar untuk jadi sandaran lelahmu, tangan yang lebih lembut untuk mengusap air matamu, pelukan yang lebih hangat dan menentramkanmu... tapi kamu tetap karibku pada rentang sejarah waktu... :')

Selasa, 29 Oktober 2013

Kekuatan Memaafkan

Minggu lalu ketika saya sedang dipusingkan oleh tugas kuliah yang menumpuk dan paper UTS yang menggila, iseng-iseng saya menyetel radio di handphone dan memilih channel favorit saya, 101.7 Swaragama FM. Dan kok yo paaasss banget tema caranya #RabuGalau. Si penyiar mengangkat topik tentang Kekuatan Memaafkan. Aduh... ini topik makjleb banget buat saya. Seperti menjawab kegelisahan saya beberapa waktu belakangan ini.

Jujur saja, saya bukan tipe orang yang mudah memaafkan. Apalagi jika yang menyakiti saya adalah orang-orang terdekat yang selama ini begitu saya percaya. Sekalipun hanya masalah sepele, tapi saya bisa marah dan mendiamkan orang itu selama berbulan-bulan. Sampai akhirnya saya lelah dengan rasa marah saya sendiri. Misalnya waktu saya merasa dikhianati oleh salah satu teman dekat saya ketika mengurus kelompok KKN tahun 2010 lalu. Kami yang sama-sama memperjuangkan kelompok itu dari awal agar bisa berangkat ke Flores, NTT, pada akhirnya teman saya malah memilih untuk menerima tawaran bergabung dengan kelompok lain yang berangkat ke daerah yang sama. Sementara saya? Akhirnya hanya memasrahkan nasib penempatan KKN oleh LPPM. Sejak saat itu, selama setahun lebih saya marah, merasa dikhianati, dan mendiamkan teman saya itu. Yaa kami memang beda jurusan dan gak terlalu sering berinteraksi. Tapi setiap ada kesempatan gak sengaja bertemu dengannya di perpustakaan, di kantin kampus, atau di kost teman, saya bisa benar-benar menganggapnya tidak ada. Kalau ingat masa-masa itu saya merasa kejaaamm banget. Tuhan aja bisa memaafkan, masa  saya yang hanya manusia biasa gak mau memaafkan. Tapi yaa namanya juga lagi marah dan sakit hati. Jadi saya merasa sah-sah saja. Begitu juga yang terjadi ketika saya ada masalah dengan salah satu sahabat saya. Berbulan-bulan saya mendiamkannya sampai dia bingung harus bagaimana dan saya lelah dengan amarah saya.

Nah... kebetulan beberapa waktu belakangan ini saya juga sedang merasa disakiti oleh seseorang. Sebut saja dia, mantan #eh. Emang sih udah mantan, dan kami juga sudah sama-sama memiliki pasangan. Tapi kok rasanya ada yang mengganjal ya. Saya merasa ada sesuatu yang belum terselesaikan antara saya dan dia. Tapi saya juga gak mungkin menghubungi dia karena menjaga komitmen dengan pasangan saya yang sekarang. Tapi memaafkan dia begitu saja kayaknya belum ikhlas. Susaaahhh banget rasanya. Padahal nih ya, yang saya dengar dari radio, memaafkan itu bisa dimulai dengan langkah-langkah:
  1. Ubah mindset bahwa memaafkan itu menguntungkan orang lain. Lakukanlah untuk diri sendiri.
  2. Yakinkan diri sendiri bahwa memaafkan akan meninggikan derajat kita
  3. Posisikan diri kita menjadi orang lain. Bagaimana seandainya kita berada di posisi orang yang melakukan kesalahan? Dengan begitu kita akan lebih bisa memahami.
  4. Jika memungkinkan, ungkapkan isi hati yang mengganjal
  5. Lupakan siapa yang salah dan siapa yang benar 
  6. Berdamailah dengan perasaan kita sendiri, dengan sisi egois kita, dan dengan masa lalu
Juedeeerrr... point yang ke-6 itu mak jleb sekali yaaahh... Saya merasa ditampar. Berdamai dengan perasaan sendiri, berdamai dengan sisi egois kita, dan berdamai dengan masa lalu, sepertinya memang itu kuncinya. Terkadang, ada hal-hal yang memang semestinya dibiarkan menggantung, mengambang, tak terselesaikan. Biarkan waktu yang menyembuhkan semuanya.

Hai seseorang di masa lalu, aku memaafkanmu, maafkan juga semua salah dan khilafku. Selamat berbahagia dengan pendampingmu.

Jumat, 11 Januari 2013

Pulang Kampung


"aku pulang kampung teman2. Sampai jumpa lagi.. Makasih buat selama ini n maaf kalo ada salah..."
Berawal dari sebuah pesan singkat yang mampir ke HP saya sore ini, seorang teman semasa kuliah mengucap salam perpisahan. Pulang kampung... mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan situasi ini. Biasanya kata pulang kampung dipakai oleh orang-orang yang merantau ke kota lain untuk bersekolah dan atau bekerja, yang sifatnya sementara. Karena pada waktu yang ditentukan, orang-orang tersebut akan kembali ke kota perantauan untuk melakukan aktifitas seperti biasa. Tapi pulang kampung versi teman saya itu, adalah pulang ke rumah setelah menunaikan kewajiban kuliah. Setelah lulus kuliah, beberapa teman seperjuangan (termasuk saya) memang memutuskan untuk pulang ke kampung, pulang ke rumah, pulang ke keluarga. Mau tau gimana rasanya pulang kampung versi itu? Campur aduk. Kalo saya sih, 10% ngerasa sedih, yang 89% ngerasa sediiiiihhhh bangeeeetttt... gak ada perasaan senangnya blas. Apalagi saya pulang dengan tidak baik-baik... *uopoh

Maksudnya sebenernya saya masih pengen banget tinggal di Jogja, tapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan. Akhirnya pulanglah saya ke pangkuan orang tua, mengabdi pada keluarga. Makanya moment itu bener-bener menyedihkan dan gak pengen saya inget-inget lagi.

Kalo ditanya kenapa sedih ninggalin Jogja, bingung juga sih jawabnya. Kalo jawabannya karena banyak kenangan selama empat tahun lebih tinggal di sana, kesannya kok klise banget ya. Lagian saya juga bukan tipe  orang yang seneng blusukan ke tempat-tempat wisata n nyoba kuliner macem2. Selama kuliah di Jogja, tiap weekend saya pasti pulang ke rumah. Bahkan nih ya, ada satu hal ‘ajaib’ yang sanggup bikin beberapa temen saya geleng kepala keheranan. Jadi selama empat tahun sekian bulan kuliah di Jogja, saya BELUM PERNAH SEKALIPUN DATENG KE SUNMOR!!! Kaget kan?! Kaget kan?! Ya gitu deh... abisnya setiap weekend pasti pulang ke rumah. Kalaupun hari minggu pas lagi di kost, pasti ada acara jadi gak bisa maen ke sunmor juga. Jadi kenapa ya saya sedih banget ninggalin Jogja? Hmm... mungkin karena saya kehilangan ‘zona nyaman’ yang selama  beberapa tahun terakhir ini berhasil jadi tempat pelarian ketika saya ada masalah di rumah. Namun pada akhirnya saya juga harus menyadari bahwa masalah itu harus dihadapi dengan berani, bukan dihindari.

Well... sekarang saya juga sudah pulang kampung, tinggal di kampung. Kampung dalam arti sebenarnya karena disini gak ada toko buku diskon langganan saya, gak ada bioskop, gak ada tempat karaoke kayak Happ*p, gak ada mall, gak ada ayam penyet kayak yang deket SaDhar, gak ada nasi goreng babat kayak yang deket Bank Mandiri, gak ada pempek seenak Ny. Kamto, gak ada yang jual Mister Burger... *kenapa jadi ngomongin makanan??? -___-"

Ya intinya sekarang saya tinggal di kampung saya tercinta, Purworejo Berirama yang katanya BERsih, Indah, Rapi, Aman, MAkmur. Walaupun kampung, yang penting BERIRAMA deh.... :P

Jadi buat temans seperjuangan yang sekarang ada di kampungnya masing-masing, tetap semangat ya. Rezeki dan jodoh itu sudah diatur oleh Allah SWT, gak akan terhalang dan tertukar meskipun kalian tinggal di kampung. Otre??? *ini sebenernya saya menyemangati diri sendiri*

Sabtu, 29 Desember 2012

29.12.2012


Dari tiga ratus enam puluh lima hari dalam waktu satu tahun, ada satu hari spesial yang selalu saya nantikan kedatangannya. Hari spesial itu, adalah hari ke dua puluh sembilan di bulan Desember, hari yang lazim disebut Hari Ulang Tahun.
Bagi saya, hari ultah adalah hari yang sangat menyenangkan. Terlebih lagi, saya harus menunggunya sampai hampir mendekati akhir tahun. Jadi selama berbulan-bulan sebelum hari ultah, biasanya saya membayangkan banyak hal, mau makan-makan dimana, mau beli apa saja, mau dirayakan atau tidak, kira-kira dapat kado dari siapa, dll.

Perayaan

Selama yang saya ingat, ada beberapa kali ulang tahun saya yang sempat dirayakan. Perayaan ulang tahun yang saya maksud adalah mengundang saudara dan teman-teman, ruangan berhias balon dan kertas krep warna-warni, kue tart, makan-makan, dan seremonial acara ultah pada umumnya. Yang saya ingat si (dan juga dilihat dari foto) saya merayakan ulang tahun ke-3, ke-4, ke-5, dan ke-17. Pada saat ulang tahun ke-3, ke-4, dan ke-5 saya masih menjadi anak tunggal, jadi ulang tahun saya pasti dirayakan. Sementara mulai ulang tahun ke-6 saya mulai punya adik, jadi bapak dan ibu mulai repot mengurusnya. Setiap hari-hari ulang tahun berikutnya biasanya hanya membeli kue tart atau membuat nasi kuning dan dimakan bersama keluarga. Nah, ketika ulang tahun ke-17 saya memang ingin membuat perayaan lagi. Seperti remaja pada umumnya, usia 17 seperti menjadi penanda seseorang mulai dianggap dewasa. Oleh sebab itu sayapun merasa ingin merayakannya. Dibantu beberapa teman, saya mulai membuat undangan, memesan kue tart, menghias rumah, dan... jadilah perayaan itu dilakukan pada 31 Desember 2006. Kemudian setelah itu, empat kali ulang tahun selama masa kuliah saya lewatkan dengan makan-makan bersama sahabat. Entahlah, sampai saat ini saya belum merasa ingin mengadakan perayaan lagi.

Kado

Satu hal yang saya suka dari hari ulang tahun adalah kado. Ya iyalah, semua orang juga suka kado. Gak pas ulang tahun dapet kado juga pastinya seneng. Apalagi dapet kado pas hari spesial. Saya paling suka momen membuka bungkusan kado. Kalo beberapa orang suka gak sabaran membuka kado, jadi langsung disobek aja, saya justru menikmati saat-saat melepaskan satu demi satu selotip yang menempel, membuka lipatan demi lipatan kertas pembungkus, sambil menerka-nerka hadiah apa yang akan saya dapatkan. Semasa kecil, setiap merayakan hari ulang tahun saya bisa mendapatkan puluhan kado dari tamu undangan. Tapi sepertinya jumlah usia berbanding terbalik dengan jumlah kado yang didapat. Terakhir saya mendapat kado lumayan banyak, ya ketika merayakan ulang tahun ke-17. Semakin bertambah usia, kado yang saya dapatkan saat ulang tahun hanya satu atau dua barang saja.

Doa-Doa Cantik

Hal lain yang menggembirakan ketika hari ulang tahun tiba adalah semua orang yang “mendadak” mendoakan saya. Entah tulus dari hati atau sekadar basa-basi, tapi itu semua adalah doa-doa yang baik. Jadi saya amini saja semuanya, tak lupa juga mengucap terima kasih.

29 Desember 2012

Hari ini, hari ulang tahun saya yang ke-23, hari yang saya nantikan sejak awal pergantian tahun 2012, akhirnya terlewati juga. Tidak bisa dibilang “hari yang sempurna”, tapi sejujurnya ini tidak terlalu buruk. Not bad lah. Karena kadang selalu melihat ke atas itu bisa bikin leher pegal dan kesemutan, bahkan kram. Jadi saya memutuskan untuk sesekali melihat ke bawah, supaya lebih bisa nrimo dan bersyukur, juga agar leher gak terlalu pegal. Semoga di usia yang sudah lebih banyak dari nama bioskop, saya bisa lebih bermanfaat bagi orang lain, karena, bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain? ^___^

Minggu, 16 Desember 2012

Hari Minggu yang Luar Biasa

Berhubung mbak'e yang suka ngrewangi beberes rumah hari ini ga dateng karena sakit, akhirnya saya, Bapak, dan Ibu sukses menerapkan mata pelajaran PPKn Bab Gotong Royong. Heuheuheu...

Saya bertugas membersihkan rumah, meliputi nyapu, ngepel, cuci piring.
Ibu sibuk memasak di dapur.
Bapak merapikan tanaman di kebun, eh di halaman.

Menjelang dzuhur, harum masakan Ibu mulai tercium. Tugas hampir selesai dan perut mulai keroncongan. Nyam nyammm... ga sabar mau nyicipin semua yang Ibu masak. Di meja sudah tersedia Sop Makroni, Bihun Goreng, Usik Ati Ampela, Tempe Goreng, dan Sambel Terasi. Berhubung gak sempet ke pasar, akhirnya masak seadanya aja yang ada di tukang sayur keliling. Tapi tetep, mak nyuusss. Sllrrruuuppp...

Bapak minta dibikinin Jus Alpukat, saya sih Es Teh aja cukup untuk menyegarkan tenggorokan. Selesai makan bareng, kami nonton tivi sebentar. Setelah itu, Bapak melanjutkan ngublek-ngublek tanaman yang lumayan lama gak terawat. Saya ikut bantuin juga.

Hari mulai sore ketika saya dan Bapak menyirami tanaman sebagai langkah akhir proses berkebun hari ini. Setelah itu, kami duduk-duduk di teras rumah, mengobrol apapun. Tiba-tiba Ibu datang membawa teh hangat dan sebaskom kacang rebus, hasil pemberian tetangga yang kebetulan sedang panen kacang. Kamipun lanjut mengobrol, bercanda, membicarakan apa saja sampai senja menyapa.

Senang rasanya bisa melakukan kegiatan bersama keluarga. Padahal sih biasanya tiap hari minggu kami sibuk dengan kegiatan masing-masing, gak beda jauh dengan hari-hari lainnya. Bapak dan Ibu sibuk kerja, adik saya sibuk sekolah dan main, sementara saya sibuk mencari kesibukan.

Tapi hari ini bedaaa banget. Hari ini, hari minggu yang luar biasa... ^_______^

#BahagiaItuSederhana



nb: jangan tanyain dimana adik saya sekarang, kok ga masuk di dalam cerita. Dia lagi asik-asikan liburan di Bali selama lima hari, study tour dari sekolahan gitu deh... -___-"
 

Selasa, 11 Desember 2012

Request Bingkisan Akhir Tahun

Untuk hari ke dua puluh sembilan di bulan Desember tahun ini, pengeeennn bangeeett dapet:

gambar keren ini hasil minjem dari sini




Adakah yang mau ngasih??? *ngarep*

Sabtu, 01 Desember 2012

Mengenang Kota Bernama Majalengka

Demi menyempurnakan perkuliahan Dialektologi pada semester 5, saya dan teman-teman satu jurusan yang mengambil mata kuliah ini dititahkan untuk melakukan penelitian lapangan. Penelitian lapangan ini bertujuan untuk “membuktikan” teori-teori yang sebelumnya sudah kami dapatkan selama masa perkuliahan. Waktu itu mahasiswa yang mengikuti perkuliahan ini sebanyak 13 orang.

Setelah diskusi yang cukup alot antara dosen pengampu mata kuliah ini dengan seniornya (kami menyebutnya Mr. You Know Who) akhirnya ditetapkanlah bahwa kami, para mahasiswa akan meneliti dialek bahasa sunda di Provinsi Jawa Barat bagian timur. Ada enam kabupaten yang akan dijadikan titik pengamatan. Maka dari itu, kamipun dibagi menjadi enam kelompok. Setelah memilih sendiri partner untuk penelitian, maka saatnya menentukan titik pengamatan masing-masing kelompok yang dipilih secara undian. Hasilnya?


Icha dan Indah: Cirebon
Asty dan Ari N: Banjar
Candy dan Rara: Indramayu
Dino dan Ari: Tasikmalaya
Saya dan Larit: Majalengka
Irsyad, Hanifan, dan Dhanar: Kuningan

Hah, Majalengka?
Larit yang memaksa saya untuk mengambi gulungan kertas yang bertuliskan nama-nama titik pengamatan, dan itulah hasilnya. Majalengka... Majalengka... saya mengejanya seperti mantra. Jujur, saya sama sekali gak ada bayangan tentang kabupaten yang bernama Majalengka. Larit juga bilang gitu. Lalu? Pak dosen menganjurkan untuk browsing selengkap-lengkapnya tentang titik pengamatan kami masing-masing sebelum kami berangkat. Waktu kami pun tak banyak, hanya dua tiga hari mengambil data lapangan, lalu kembali ke kampus untuk mengolah data tersebut. Okesip, saya dan larit mulai berhayal tentang kabupaten bernama Majalengka.

Saking terinspirasinya sama film Punk In Love, saya dan larit MEMUTUSKAN untuk: 1) naik kereta ekonomi ke Majalengka. 2) berbekal peta n hasil browsing seadanya, pokoknya jalani aja. 3) berbekal uang seadanya. 4) tidak akan mengunakan fasilitas dari orang tua, misalnya bawa mobil sendiri, menginap di rumah saudara, dan sebagainya. 5) harus menyempatkan waktu untuk jalan-jalan.

Begitulah kira-kira kesepakatan antara saya dan Larit. Awalnya orang tua saya mengusulkan agar kami bawa mobil dan supir sendiri agar lebih mudah pergi mencari data. Tapi sesuai kesepakatan kami berdua, usul itu ditolak. Selanjutnya, inilah tahap awal perjuangan kami.

Bisa aja sih, tapi...   
Niat awal kami berpetualang dengan kereta ekonomi terpatahkan seketika saat kami melihat peta dan ternyata tidak ada “garis putus-putus hitam putih” yang menandakan jalur kereta menuju Majalengka. Setelah kami cek ke beberapa informan, Majalengka memang tidak dapat dicapai menggunakan kereta. Bisa aja sih naik kereta, tapi harus bangun jalur keretanya dulu. MAU? Gak deh, makasih.

Setelah dipastikan tidak bisa naik kereta, akhirnya kami cus ke terminal Jombor buat ngecek harga tiket Bus dan travel. Sesampainya di terminal, kami sedikit tercengang mendengar penjelasan dari beberapa agen travel. Begini ceritanya, karena letak geografis Majalengka yang berada ditengah-tengah antara jalur pantura dan jalur selatan, maka TIDAK ADA travel yang melewati kota Majalengka. Tapi berhubung tidak mau kehilangan kesempatan, maka agen travel itu menyanggupi untuk mengantar kami ke Majalengka dengan syarat membayar ongkos travel DUA KALI LIPAT dari harga trayek Jogja-Bandung. MAU? Gak deh, makasih.

Setelah “patah hati” dengan agen travel, akhirnya saya dan Larit berpaling ke agen Bus. Dan ternyata, hiks, agen Bus juga mematahkan hati kami. Ga beda jauh sama agen travel, agen Bus juga bilang kalo tidak ada Bus dari Jogja yang lewat Majalengka. Satu-satunya alternatif ya naik Bus, tapi kami harus turun Cirebon, kemudian nyambung naik Bus jurusan Cirebon-Bandung lalu turun di Majalengka. MAU? Ya mau gak mau sih.

Let’s Go!!! 
Akhirnya pagi itu, 14 April 2010, saya dan Larit naik Bus Citra Adi Lancar AB 7028 AS menuju Cirebon. Harga tiket Rp 80.000/orang. Kami berangkat dari Terminal Giwangan Yogyakarta sekitar pukul 09.00. Sepanjang perjalanan kami mengobrol dengan supir dan kernet bus. Kebetulan kami duduk di kursi nomor 1 dan 2. Yeaayyy... akhirnya kami tiba di Terminal Harjamukti Cirebon sekitar pukul 18.00. Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya kami (dibantu petugas terminal) menemukan Bus ekonomi menuju Majalengka. Seperti pada umumnya, bus ini pun ngebut dan ugal-ugalan sepanjang jalan. Akhirnyaaa setelah deg-degan dag dig dug dhuuueeerr... turunlah kami di Pos Polisi Kadipaten Majalengka.

Oh iya, selama dalam perjalanan, orang tua larit membujuk setengah memaksa dan akhirnya memerintahkan kami untuk menginap di rumah kenalan mereka. Pertimbangannya karena kami akan sampai di Majalengka pada larut malam, terlalu rawan bagi kami untuk mencari penginapan. Pertimbangan lainnya, kami juga bisa menghemat pengeluaran. Setengah terpaksa, akhirnya, ya udah deh, nurut aja. Oleh sebab itulah kami turun di Pos Polisi Kadipaten, lalu dijemput oleh kenalan orang tuanya Larit menggunakan becak. Ehm, sekadar informasi, becak di Majalengka ini ternyata ukurannya LEBIH KECIL dari becak yang ada di Jogja atau yang sering dilihat deh. Nah, silakan bayangkan SAYA dan LARIT yang gak langsing-langsing amat alias gendut dengan dua koper eliminasi a.k.a travel bag ukuran sedang (kenapa gak pake backpack aja coba?) berada dalam SATU BECAK MINI. Rasanya? Yo koyo ngono kaelah.

Setibanya di rumah Ibu Asih, jam menunjukkan pukul 11 malam, kami nekat mandi, numpang ngecas Hape, makan (ternyata udah disiapin), dan bobok manis. Selamat malam dari Majalengka.

Hari Pertama, 150410
Selamat pagi dari Majalengka. Kami bangun pukul 05.00, mandi, shalat subuh, dan sarapan. Ibu Asih udah nyiapin sebungkus nasi uduk, bakwan, n segelas teh manis hangat. Nyaammm... lidah saya yang terbiasa sama cita rasa masakan sunda si Aa’ Burjo depan kos dengan cepat menerima rasa nasi uduk dan bakwan yang gurih enak. Kalo Wong Jowo asli yang terbiasa rasa manis, pasti kurang cocok. Setelah selesai sarapan kami bersiap berangkat menuju kantor Sekretaris Daerah kabupaten Majalengka yang terletak di dekat Alun-Alun. Menaiki angkot 1C kami menuju Alun-Alun. Hmm... udara masih sejuk, matahari cerah, cocok banget buat foto-foto. Akhirnya kami narsis sebentar sebelum menuju kantor Setda.

mejeng depan kantor Bupati

Sesampainya di kantor Setda, ternyata kami ‘salah jurusan’. Oleh bapak-bapak pegawai disana, kami disarankan untuk datang ke Kantor Balai Perijinan dan Pelayanan Terpadu (BPPT), akhirnya kami naik angkot 1C lagi. Sesampainya disana, kami berbasa-basi menyampaikan maksud kedatangan kami. Setelah bercerita panjang lebar dan gondrong, menunggu beberapa saat, dan akhirnya kesimpulannya satu, kami ‘salah jurusan’ lagi. Pegawai di kantor BPPT menyarankan kami untuk datang ke kantor Kesbangpol kabupaten Majalengka. Akhirnya kami naik angkot 1C lagi, dan parahnya ternyata supir angkotnya gak tahu dimana letak kantor Kesbangpol. Setelah beberapa kali gonta ganti angkot tanya sana sini akhirnya ketemulah kantor Kesbangpol di daerah yang lumayan sepi, tapi sebenernya dilewatin jalur angkot 1C sih. Setelah sampai disana kami mengurus surat ijin penelitian dan akhirnya masih harus diribetkan oleh birokrasi yang lempar sana lempar sini, dan akhirnya surat ijin penelitian akan jadi BESOK. Nah kan. Kami udah ga bisa kompromi lagi sama bapak pegawai di sana, akhirnya setengah putus asa kami meninggalkan kantor itu. 

Hari masih terlalu siang untuk pulang ke rumah. Akhirnya kami iseng-iseng naik angkutan umum yang namanya ELF (Bukan fansnya Suju loh! :P) tapi orang sunda lazim menyebutnya Elep. Entah kemana Elep ini menuju, kami ikut saja. Akhirnya ketika sampai di dekat lapangan luas kami memutuskan untuk berhenti. Kebetulan di dekat situ ada kantor Camat Maja. Setelah shalat dan makan mie ayam, kamipun iseng-iseng masuk ke dalam dan bertemu dengan bagian pelayanan kantor Camat Maja. Setelah bercerita panjang lebar dibumbui sedikit garam, merica, dan gula akhirnya bapak itu kasihan pada saya dan Larit. Kebetulannya lagi disitu sedang ada Sekdes Tegal Sari. Kamipun langsung menuju desa itu ditemani bapak Sekdes yang kemudian juga mencarikan pembahan untuk penelitian kami. Alhamdulillah... jadilah kami mengambil data walaupun belum dapat surat ijin penelitian dari kantor Kesbangpol (salahe suwi! :P).

Hari Kedua, 160410
Data yang kami butuhkan sudah ditangan, hari ini mau apa ya. Bisa aja sih kami pulang pagi ini, tapi kan belum jalan-jalan, hehehe...

Pagi itu kami datang lagi ke kantor Kesbangpol untuk mengambil surat ijin penelitian. Sebenarnya bisa aja sih gak usah diambil, buat apa juga. Toh kami sudah mendapatkan data yang kami butuhkan. Tapi demi menjaga nama baik almamater, jeng jeng jeng... jadilah kami balik lagi ke kantor itu. Berbasa-basi sedikit, lalu cuss kabuuurrr...

Hari masih terlalu pagi untuk pulang dan sekadar nonton tipi di rumah Ibu Asih. Kemana ya enaknya... berbekal sedikit info tentang objek wisata yang dekat di daerah Majalengka, akhirnya tercetuslah nama sebuah tempat: WADUK DARMA.

Kami naik Elep lagi , sempat nyambung dua kali, dan setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya sampailah kami di tempat wisata Waduk Darma yang terletak di kabupaten Kuningan. Waduknya sepiiii banget. Ada beberapa warung penjual makanan, beberapa pasang orang pacaran, dan juga segerombolan anak sekolah. Katanya sih kalo hari libur biasanya banyak pengunjungnya. Setelah cukup foto-foto, akhirnya kami pulang naik Elep lagi. Pulangnya hujan deraaasss banget. Kami sampai di rumah Ibu Asih sekitar pukul setengah 3, dan bersiap untuk pulang. Setelah mandi dan berkemas, kami berpamitan dengan keluarga Ibu Asih dan menunggu bus menuju terminal Cirebon dari depan Pos Polisi Kadipaten.


aku dan perahu, menikmati kesendirian

Pulang...
Kami sampai di terminal Cirebon menjelang maghrib. Kebetulan, kami ketemu lagi sama bus yang kemarin membawa kami kesini. Wah, cocok deh. Kernetnya yang ternyata masih hafal sama saya dan Larit akhirnya membantu membawakan tas-tas kami. Kamipun duduk di kursi nomor 3 dan 4, tepat dibelakang supir, kursi favorit saya. Selepas maghrib, bus beranjak dari terminal Cirebon, bismillah. Sepanjang perjalanan Larit tidur pulaaasss sekaliii. Sementara saya tetap asyik mengobrol sama kernet bus dan menikmati perjalanan malam itu. Hmm... kebetulan saya sudah lama tidak naik bus malam, jadi sepanjang perjalanan saya tidak tidur.

Akhirnyaaa... kami sampai di kota Jogja tercinta hari sabtu, 17 April 2010. Kami turun di pool bus CAL, kemudian diantar oleh mobil menuju kediaman masing-masing. Well... selesai sudah petualangan kami di Majalengka. Selanjutnya, tinggal bermumet-mumer ria mengolah data penelitian yang sudah kami dapatkan. Tapi, pengalaman kemarin itu benar-benar tak kan terlupakan sampai kapanpun. TIGA HARI UNTUK SELAMANYA ^_______^

Dan inilah hasil kerja kami semua, peta heteroglos untuk Bahasa Sunda dialek Jawa Barat bagian timur...

koleksi pribadi
Cantik yaaa... kata pak dosen malah terlalu rapi, malah lebih mirip kristik daripada peta heteroglos. Siapa dulu yang bikiiinnn... *bukan saya :p

Kamis, 29 November 2012

Tentang Tembang Lingsir Wengi

Saya adalah orang Jawa yang sangat menyukai lagu-lagu Jawa seperti keroncong, langgam, gendhing jawa, dan juga campur sari. Sengaja saya tekankan bahwa saya sangat menyukai, karena pada kenyataannya banyak orang Jawa yang justru lebih menyukai lagu-lagu barat dan memandang rendah musik tradisional Jawa. Masalah suka atau tidak suka, itu hak asasi setiap manusia sih. Tapi mbok ya o jangan merendahkan budaya lain juga. 


Ya udahlah, back to topic aja.

Banyak banget lagu campur sari yang saya suka, koleksinya Didi Kempot misalnya Ketaman Asmoro, Sewu Kuto, Layang Kangen, Tanjung Mas Ninggal Janji, Cidro, Luntur, dan Kalung Emas. Koleksi Nurhana misalnya Mawar Biru dan Lingsir Wengi. Ada juga soundtrack wajib hajatan yaitu lagu Nyidam Sari yang dinyanyikan oleh (Alm.) Manthous. Hmm... kali ini saya akan beropini sedikit tentang lagu Lingsir Wengi. Sepertinya ada sesuatu yang harus saya luruskan (emangnya keriting? :P).

Seperti yang banyak sekali ditulis pada blog-blog lain (yang menurut saya salah kaprah) banyak yang bilang kalo lagu campur sari yang berjudul Lingsir Wengi adalah lagu pemanggil kuntilanak. Hah, kok bisa? Yang lebih parah nih, pernah suatu hari saya menyetel lagu ini (kebetulan malam hari) dan tiba-tiba teman kos berteriak histeris, “mbak Desti, ngapain sih nyetel lagu itu? Ntar ada kuntilanak dateng loh.” Ckckckck... saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Coba deh dengerin lagunya dan cermati liriknya:



Lingsir wengi sepi durung biso nendro
kagodo mring wewayang kang ngreridu ati
kawitane mung sembrono njur kulino
ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno
nanging duh tibane aku dewe kang nemahi
nandang bronto kadung loro
sambat sambat sopo
rino wengi sing tak puji ojo lali
janjine mugo biso tak ugemi...
            (tengah malam, sunyi dan belum bisa terpejam)
            (tergoda pada bayangan yang dirindukan hati)
            (mulanya hanya bercanda, lama-lama terbiasa)
            (tidak menyangka bisa tumbuh rasa cinta)
            (tapi pada akhirnya aku sendiri yang menanggung)
(merasakan cinta dan terlanjur sakit)
(mau mengeluh sama siapa)
(siang malam yang ku puja janganlah lupa)
(janjinya semoga bisa kupercaya)

Lah to, dari liriknya aja udah kelihatan kalo lagu campur sari yang berjudul Lingsir Wengi itu lagu cinta. Syair yang menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta dan merindukan kekasihnya. Terus mana lirik yang katanya mantra untuk manggil kuntilanak? Sebelah mananya coba? Ckckckck...

Mungkin, yang dimaksud mantra pemanggil kuntilanak itu lagu Lingsir Wengi yang seperti ini:

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas ojo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadiyo sebarang
Wojo lelayu sebet
            (menjelang malam dirimu mulai sirna)
            (jangan terbangun dari tidurmu)
            (awas, jangan terlihat)
            (aku sudang gelisah)
            (jin setan yang kuperintahkan)
            (jadilah apapun juga)
            (namun jangan membawa maut)

Mungkin juga sih, saya juga ga tau pasti. Tapi yang saya baca di sini sih, lagu lingsir wengi yang ini juga bukan mantra pemanggil kuntilanak.

Jadi, kesimpulannya, lagu campur sari yang berjudul Lingsir Wengi BUKAN lagu pemanggil kuntilanak. Tapi lagu cinta seperti lagu lainnya. Jadi tolong dong ya, jangan menghakimi begitu. Ya mungkin salah saya juga sih, nyetel lagunya tengah malam. Jadi terasa mrinding-mrinding gimana gitu. Padahal saya suka banget lagu ini. Liriknya itu loh... sederhana tapi #makjleb banget. Saking sukanya, potongan lirik lagu ini sering banget saya jadiin status di FB dan Twitter, heehehe. Sekian.