Tampilkan postingan dengan label tempat romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tempat romantis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

Mengenang Kota Bernama Majalengka

Demi menyempurnakan perkuliahan Dialektologi pada semester 5, saya dan teman-teman satu jurusan yang mengambil mata kuliah ini dititahkan untuk melakukan penelitian lapangan. Penelitian lapangan ini bertujuan untuk “membuktikan” teori-teori yang sebelumnya sudah kami dapatkan selama masa perkuliahan. Waktu itu mahasiswa yang mengikuti perkuliahan ini sebanyak 13 orang.

Setelah diskusi yang cukup alot antara dosen pengampu mata kuliah ini dengan seniornya (kami menyebutnya Mr. You Know Who) akhirnya ditetapkanlah bahwa kami, para mahasiswa akan meneliti dialek bahasa sunda di Provinsi Jawa Barat bagian timur. Ada enam kabupaten yang akan dijadikan titik pengamatan. Maka dari itu, kamipun dibagi menjadi enam kelompok. Setelah memilih sendiri partner untuk penelitian, maka saatnya menentukan titik pengamatan masing-masing kelompok yang dipilih secara undian. Hasilnya?


Icha dan Indah: Cirebon
Asty dan Ari N: Banjar
Candy dan Rara: Indramayu
Dino dan Ari: Tasikmalaya
Saya dan Larit: Majalengka
Irsyad, Hanifan, dan Dhanar: Kuningan

Hah, Majalengka?
Larit yang memaksa saya untuk mengambi gulungan kertas yang bertuliskan nama-nama titik pengamatan, dan itulah hasilnya. Majalengka... Majalengka... saya mengejanya seperti mantra. Jujur, saya sama sekali gak ada bayangan tentang kabupaten yang bernama Majalengka. Larit juga bilang gitu. Lalu? Pak dosen menganjurkan untuk browsing selengkap-lengkapnya tentang titik pengamatan kami masing-masing sebelum kami berangkat. Waktu kami pun tak banyak, hanya dua tiga hari mengambil data lapangan, lalu kembali ke kampus untuk mengolah data tersebut. Okesip, saya dan larit mulai berhayal tentang kabupaten bernama Majalengka.

Saking terinspirasinya sama film Punk In Love, saya dan larit MEMUTUSKAN untuk: 1) naik kereta ekonomi ke Majalengka. 2) berbekal peta n hasil browsing seadanya, pokoknya jalani aja. 3) berbekal uang seadanya. 4) tidak akan mengunakan fasilitas dari orang tua, misalnya bawa mobil sendiri, menginap di rumah saudara, dan sebagainya. 5) harus menyempatkan waktu untuk jalan-jalan.

Begitulah kira-kira kesepakatan antara saya dan Larit. Awalnya orang tua saya mengusulkan agar kami bawa mobil dan supir sendiri agar lebih mudah pergi mencari data. Tapi sesuai kesepakatan kami berdua, usul itu ditolak. Selanjutnya, inilah tahap awal perjuangan kami.

Bisa aja sih, tapi...   
Niat awal kami berpetualang dengan kereta ekonomi terpatahkan seketika saat kami melihat peta dan ternyata tidak ada “garis putus-putus hitam putih” yang menandakan jalur kereta menuju Majalengka. Setelah kami cek ke beberapa informan, Majalengka memang tidak dapat dicapai menggunakan kereta. Bisa aja sih naik kereta, tapi harus bangun jalur keretanya dulu. MAU? Gak deh, makasih.

Setelah dipastikan tidak bisa naik kereta, akhirnya kami cus ke terminal Jombor buat ngecek harga tiket Bus dan travel. Sesampainya di terminal, kami sedikit tercengang mendengar penjelasan dari beberapa agen travel. Begini ceritanya, karena letak geografis Majalengka yang berada ditengah-tengah antara jalur pantura dan jalur selatan, maka TIDAK ADA travel yang melewati kota Majalengka. Tapi berhubung tidak mau kehilangan kesempatan, maka agen travel itu menyanggupi untuk mengantar kami ke Majalengka dengan syarat membayar ongkos travel DUA KALI LIPAT dari harga trayek Jogja-Bandung. MAU? Gak deh, makasih.

Setelah “patah hati” dengan agen travel, akhirnya saya dan Larit berpaling ke agen Bus. Dan ternyata, hiks, agen Bus juga mematahkan hati kami. Ga beda jauh sama agen travel, agen Bus juga bilang kalo tidak ada Bus dari Jogja yang lewat Majalengka. Satu-satunya alternatif ya naik Bus, tapi kami harus turun Cirebon, kemudian nyambung naik Bus jurusan Cirebon-Bandung lalu turun di Majalengka. MAU? Ya mau gak mau sih.

Let’s Go!!! 
Akhirnya pagi itu, 14 April 2010, saya dan Larit naik Bus Citra Adi Lancar AB 7028 AS menuju Cirebon. Harga tiket Rp 80.000/orang. Kami berangkat dari Terminal Giwangan Yogyakarta sekitar pukul 09.00. Sepanjang perjalanan kami mengobrol dengan supir dan kernet bus. Kebetulan kami duduk di kursi nomor 1 dan 2. Yeaayyy... akhirnya kami tiba di Terminal Harjamukti Cirebon sekitar pukul 18.00. Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya kami (dibantu petugas terminal) menemukan Bus ekonomi menuju Majalengka. Seperti pada umumnya, bus ini pun ngebut dan ugal-ugalan sepanjang jalan. Akhirnyaaa setelah deg-degan dag dig dug dhuuueeerr... turunlah kami di Pos Polisi Kadipaten Majalengka.

Oh iya, selama dalam perjalanan, orang tua larit membujuk setengah memaksa dan akhirnya memerintahkan kami untuk menginap di rumah kenalan mereka. Pertimbangannya karena kami akan sampai di Majalengka pada larut malam, terlalu rawan bagi kami untuk mencari penginapan. Pertimbangan lainnya, kami juga bisa menghemat pengeluaran. Setengah terpaksa, akhirnya, ya udah deh, nurut aja. Oleh sebab itulah kami turun di Pos Polisi Kadipaten, lalu dijemput oleh kenalan orang tuanya Larit menggunakan becak. Ehm, sekadar informasi, becak di Majalengka ini ternyata ukurannya LEBIH KECIL dari becak yang ada di Jogja atau yang sering dilihat deh. Nah, silakan bayangkan SAYA dan LARIT yang gak langsing-langsing amat alias gendut dengan dua koper eliminasi a.k.a travel bag ukuran sedang (kenapa gak pake backpack aja coba?) berada dalam SATU BECAK MINI. Rasanya? Yo koyo ngono kaelah.

Setibanya di rumah Ibu Asih, jam menunjukkan pukul 11 malam, kami nekat mandi, numpang ngecas Hape, makan (ternyata udah disiapin), dan bobok manis. Selamat malam dari Majalengka.

Hari Pertama, 150410
Selamat pagi dari Majalengka. Kami bangun pukul 05.00, mandi, shalat subuh, dan sarapan. Ibu Asih udah nyiapin sebungkus nasi uduk, bakwan, n segelas teh manis hangat. Nyaammm... lidah saya yang terbiasa sama cita rasa masakan sunda si Aa’ Burjo depan kos dengan cepat menerima rasa nasi uduk dan bakwan yang gurih enak. Kalo Wong Jowo asli yang terbiasa rasa manis, pasti kurang cocok. Setelah selesai sarapan kami bersiap berangkat menuju kantor Sekretaris Daerah kabupaten Majalengka yang terletak di dekat Alun-Alun. Menaiki angkot 1C kami menuju Alun-Alun. Hmm... udara masih sejuk, matahari cerah, cocok banget buat foto-foto. Akhirnya kami narsis sebentar sebelum menuju kantor Setda.

mejeng depan kantor Bupati

Sesampainya di kantor Setda, ternyata kami ‘salah jurusan’. Oleh bapak-bapak pegawai disana, kami disarankan untuk datang ke Kantor Balai Perijinan dan Pelayanan Terpadu (BPPT), akhirnya kami naik angkot 1C lagi. Sesampainya disana, kami berbasa-basi menyampaikan maksud kedatangan kami. Setelah bercerita panjang lebar dan gondrong, menunggu beberapa saat, dan akhirnya kesimpulannya satu, kami ‘salah jurusan’ lagi. Pegawai di kantor BPPT menyarankan kami untuk datang ke kantor Kesbangpol kabupaten Majalengka. Akhirnya kami naik angkot 1C lagi, dan parahnya ternyata supir angkotnya gak tahu dimana letak kantor Kesbangpol. Setelah beberapa kali gonta ganti angkot tanya sana sini akhirnya ketemulah kantor Kesbangpol di daerah yang lumayan sepi, tapi sebenernya dilewatin jalur angkot 1C sih. Setelah sampai disana kami mengurus surat ijin penelitian dan akhirnya masih harus diribetkan oleh birokrasi yang lempar sana lempar sini, dan akhirnya surat ijin penelitian akan jadi BESOK. Nah kan. Kami udah ga bisa kompromi lagi sama bapak pegawai di sana, akhirnya setengah putus asa kami meninggalkan kantor itu. 

Hari masih terlalu siang untuk pulang ke rumah. Akhirnya kami iseng-iseng naik angkutan umum yang namanya ELF (Bukan fansnya Suju loh! :P) tapi orang sunda lazim menyebutnya Elep. Entah kemana Elep ini menuju, kami ikut saja. Akhirnya ketika sampai di dekat lapangan luas kami memutuskan untuk berhenti. Kebetulan di dekat situ ada kantor Camat Maja. Setelah shalat dan makan mie ayam, kamipun iseng-iseng masuk ke dalam dan bertemu dengan bagian pelayanan kantor Camat Maja. Setelah bercerita panjang lebar dibumbui sedikit garam, merica, dan gula akhirnya bapak itu kasihan pada saya dan Larit. Kebetulannya lagi disitu sedang ada Sekdes Tegal Sari. Kamipun langsung menuju desa itu ditemani bapak Sekdes yang kemudian juga mencarikan pembahan untuk penelitian kami. Alhamdulillah... jadilah kami mengambil data walaupun belum dapat surat ijin penelitian dari kantor Kesbangpol (salahe suwi! :P).

Hari Kedua, 160410
Data yang kami butuhkan sudah ditangan, hari ini mau apa ya. Bisa aja sih kami pulang pagi ini, tapi kan belum jalan-jalan, hehehe...

Pagi itu kami datang lagi ke kantor Kesbangpol untuk mengambil surat ijin penelitian. Sebenarnya bisa aja sih gak usah diambil, buat apa juga. Toh kami sudah mendapatkan data yang kami butuhkan. Tapi demi menjaga nama baik almamater, jeng jeng jeng... jadilah kami balik lagi ke kantor itu. Berbasa-basi sedikit, lalu cuss kabuuurrr...

Hari masih terlalu pagi untuk pulang dan sekadar nonton tipi di rumah Ibu Asih. Kemana ya enaknya... berbekal sedikit info tentang objek wisata yang dekat di daerah Majalengka, akhirnya tercetuslah nama sebuah tempat: WADUK DARMA.

Kami naik Elep lagi , sempat nyambung dua kali, dan setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya sampailah kami di tempat wisata Waduk Darma yang terletak di kabupaten Kuningan. Waduknya sepiiii banget. Ada beberapa warung penjual makanan, beberapa pasang orang pacaran, dan juga segerombolan anak sekolah. Katanya sih kalo hari libur biasanya banyak pengunjungnya. Setelah cukup foto-foto, akhirnya kami pulang naik Elep lagi. Pulangnya hujan deraaasss banget. Kami sampai di rumah Ibu Asih sekitar pukul setengah 3, dan bersiap untuk pulang. Setelah mandi dan berkemas, kami berpamitan dengan keluarga Ibu Asih dan menunggu bus menuju terminal Cirebon dari depan Pos Polisi Kadipaten.


aku dan perahu, menikmati kesendirian

Pulang...
Kami sampai di terminal Cirebon menjelang maghrib. Kebetulan, kami ketemu lagi sama bus yang kemarin membawa kami kesini. Wah, cocok deh. Kernetnya yang ternyata masih hafal sama saya dan Larit akhirnya membantu membawakan tas-tas kami. Kamipun duduk di kursi nomor 3 dan 4, tepat dibelakang supir, kursi favorit saya. Selepas maghrib, bus beranjak dari terminal Cirebon, bismillah. Sepanjang perjalanan Larit tidur pulaaasss sekaliii. Sementara saya tetap asyik mengobrol sama kernet bus dan menikmati perjalanan malam itu. Hmm... kebetulan saya sudah lama tidak naik bus malam, jadi sepanjang perjalanan saya tidak tidur.

Akhirnyaaa... kami sampai di kota Jogja tercinta hari sabtu, 17 April 2010. Kami turun di pool bus CAL, kemudian diantar oleh mobil menuju kediaman masing-masing. Well... selesai sudah petualangan kami di Majalengka. Selanjutnya, tinggal bermumet-mumer ria mengolah data penelitian yang sudah kami dapatkan. Tapi, pengalaman kemarin itu benar-benar tak kan terlupakan sampai kapanpun. TIGA HARI UNTUK SELAMANYA ^_______^

Dan inilah hasil kerja kami semua, peta heteroglos untuk Bahasa Sunda dialek Jawa Barat bagian timur...

koleksi pribadi
Cantik yaaa... kata pak dosen malah terlalu rapi, malah lebih mirip kristik daripada peta heteroglos. Siapa dulu yang bikiiinnn... *bukan saya :p

Jumat, 10 Agustus 2012

Kisah dari Timur: Bromo dan Mimpi yang Tertunda

Masih seputar acara main-main saya di Pasuruan, hari itu 28 Juni 2012 saya mau di ajak ke Bromo. Yeay! Itu adalah tempat yang paling ingin saya kunjungi di sini. Selama ini cuma bisa penasaran sama cerita2 dari para saudara, katanya Bromo tuh begini, begitu, ada ini, ada itu... dan hari ini saya akan membuktikannya sendiri. Cihuy...

Sama seperti kemarin, hari ini pun saya akan pergi bersama H, E dan T. Hmm... masih ada sedikit perasaan kecewa sih sama E gara-gara kejadian semalam, tapi ya sudahlah. Saya gak ingin menghabiskan waktu yang sempit ini dengan berjengkel2an dengan saudara sendiri.

Awalnya saya ingin melihat sunrise dari View Point Pananjakan Bromo yang konon katanya indaaaaaahhhh bangeeeeetttt... Tapi kata H, kalo mau liat sunrise, ya harus berangkat pukul 2 pagi. Saya sih oke-oke saja *nggaya*. Tapi nyatanya H dan E jam 2 pagi baru saja tidur setelah kelelahan main PS! Huuuuu...

Akhirnya kami berangkat pagi. Jam 7 kami sudah mandi dan sarapan. Rencana berangkat sekitar pukul 8. Saat itulah rencana tiba2 berubah. Keponakan saya, T, gak bisa ikut karena harus mengurus berkas-berkas pendaftaran masuk SMP. Dan tau gak sih, dengan tampang gak berdosa, si E lalu mengajak pacarnya, Hn untuk ikut ke Bromo. Juueedeeeerrr... kebayang gak sih, saya harus bertemu dan bercengkerama dengan orang yang semalam bikin saya badmood akut. Bukan E, tapi Hn itu lho. Dan lagi-lagi mood saya pergi ke Bromo hilang seketika. Tapi H memaksa saya, dia bilang, “udahlah, tenang aja ndut, kan ada aku. Kalo mereka berdua ngilang lagi, aku juga hafal jalan ke sana.” Okelah... saya mengalah. Tapi jujur dari dalam hati, saya bener2 gak pengen bergi bareng Hn.

Kami berangkat pukul 8 dari rumah mas sepupu, kemudian mampir di rumah bude yang notabene adalah nenek dari H,T, dan E di daerah Pasrepan. Sekitar pukul 9 kami memulai perjalanan. Pasangan E dan Hn, yang yah namanya juga pacaran, asik berpegangan mesra... *ngiri*. Perjalanan yang sangat mengasyikkan. Untungnya, saya dibonceng H yang sudah malang melintang di jalanan Bromo. Saya yang ga terlalu suka jalanan menanjak, beberapa kali hanya bisa menahan nafas ketika melewati tanjakan yang lumayan. Semakin ke atas, semakin duingiiinnn. Masalahnya, saya saltum abis. Gara-gara saya jengkel ma Hn, saya jadinya lupa membawa kaos kaki, sarung tangan, dan masker. Hanya bermodal jaket seadanya, saya berkunjung ke Bromo. Alhasil, saya hampir membeku. Tapi semua itu terbayar lunas dengan pemandangan indah yang saya lihat dari Pananjakan. Hmm... saya bisa membayangkan betapa dahsyatnya kalo bisa melihat sunrise di sini. Sayangnya, saya juga lupa membawa kamera, jadi ya ga ada satupun gambar yang bisa saya abadikan. Fufufu... kasian deh lu des!
View Point Penanjakan

Gunung Bromo

Well, kita sempet foto-foto juga si pake kamera canggihnya Hn. Tapi kan ga bebas jeprat jepret juga. (Dan sampe sekarang belum juga di upload n tag di FB. ya sudahlaaahhh... T.T) Setelah dari Pananjakan, kami berencana untuk turun ke lautan pasir, lihat Pura, Bukit Teletubbies, kawah Bromo, dan lain2. Kami turun dari Penanjakan dan mulai melewati jalan berbatu menuju lautan pasir. Belum terlalu jauh, tiba-tiba ban motor H bocor. Akhirnya diputuskan bahwa kami ga jadi turun ke lautan pasir. Sambil menunggu menambal ban, kami menikmati minuman hangat disebuah warung makan. Secara perlahan, kawasan Bromo mulai tertutup kabut. Woooo... saya sangat takjub melihatnya. Subhanaallah...
Pura di tengah Lautan Pasir


Bukit Teletubbies
Bromo berselimut kabut


Beberapa lama kemudian motor sudah selesai ditambal, tapi kami terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan ke kawah Bromo. Apalagi katanya Hn mau ke Malang karena ada urusan kampus dan E mau mengantarnya. Ya sudahlah, kami pulang saja... 

Perjalanan pulang ternyata ga semudah yang dibayangkan. Selain hawa dingin yang menusuk tulang, pandangan mata juga terbatas karena tertutup kabut. Gimana kalo berangkat jam 2 pagi ya??? -.-" Fffiiuuuuuuhhh... tapi akhirnya kami sampai di rumah bude dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.

Kesimpulan dari perjalanan kali ini adalah jangan pergi dengan setengah hati, perjalanannya ga akan terasa menyenangkan. Pasti ada aja something wrong-nya. 

Okelah, nanti saya PASTI akan datang lagi. Dengan situasi dan kondisi yang lebih baik lagi. Bromo, sampai ketemu lagi... ^____^

Kamis, 09 Agustus 2012

Kisah dari Timur: Dunia Lain

Cerita ini adalah salah satu kisah yang saya alami sewaktu saya berkunjung ke dua kota di Jawa bagian timur, yaitu Malang dan Pasuruan.

Malang

Salah satu kisah menarik yang saya temui di Malang tentang kerjasama dalam rumah tangga. Singkat cerita, mbak sepupu saya berumur sekitar 34 tahun. Sebut saja mbak R. Semasa lajang, mbak R itu cantik, sopan, lemah lembut, feminin, pintar, pandai bergaul, hmm... pokoknya tipe wanita idaman deh. Beneran! Saya dulu juga sempet ngefans sama dia. Sayangnya saya ga bisa sesempurna dia, hehe... Sebagai wanita yang mendekati sempurna, tentu banyak lelaki yang mengejarnya. Mbak R memang beberapa kali terlihat berganti pacar. Namun semuanya berubah ketika ia mulai menutup aurat dan mendalami Islam. Bahkan yang cukup mengejutkan keluarga, ia mau menikah dengan laki-laki yang bahkan baru dua kali ditemuinya. Bahasa kasarnya, mbak R nih sepertinya sudah tobat malang melintang di dunia percintaan, hehe. Dia menikah tahun 2004 ketika umurnya 26 tahun. Setelah itu dia punya anak dan berubahlah dia menjadi seorang ibu dan istri yang baik. Awalnya hanya itu yang saya tahu. Tapi setelah dua hari saya menginap di rumahnya, saya jadi tahu lebih banyak mengenai kehidupan pribadinya.

Ternyata selama ini dia tidak berjuang sendirian mengurus keluarganya. Ehm, mungkin bagi sebagian orang, hal ini terlihat biasa. Namun bagi saya yang tidak terbiasa melihat hal itu dalam keluarga, maka hal tersebut menjadi begitu mengena di hati. Apaan sih? Simpel, pembagian waktu dan tanggung jawab dalam rumah tangga. Pagi-pagi mbak R sibuk menyiapkan sarapan. Sang suami, mas T mencuci baju kotor. Tak lama kemudian, anak-anak mereka bangun dan kemudian menonton tv (kebetulan sedang libur sekolah). Setelah itu mbak R menyapu dan cuci piring, sementara itu mas T mandi dan bersiap ke kantor. Mbak R memandikan anak-anak, mas T sarapan.  Kemudian ketika mas T berangkat kerja, otomatis semua tanggung jawab pekerjaan rumah ada di tangan mbak R, menyapu, setrika baju, menyuapi anak-anak.  Apalagi, mengurus tiga anak lelaki berumur 8, 5, dan 3 tahun tentu bukanlah hal mudah. Tapi mbak R tetap enjoy menjalani hari-harinya. Menjelang sore, ketika anak-anak main di luar rumah, mbak R mengepel lantai. Iseng saya bertanya, mengapa mengepel sore hari. Jawabnya, “kalo pagi pasti cepat kotor lagi. Lagian kan sebentar lagi mas T pulang. Kasihan kalo pulang kerja, capek, masih harus lihat rumah kotor dan berantakan”. Ooowww.... so sweeeettt... :’)

Sepulang kerja sekitar pukul 5, mas T mandi dan menyempatkan bermain dengan anak-anak sampai maghrib tiba. Kemudian mereka shalat berjamaah dan mengajari anak-anak mengaji. Selanjutnya, anak-anak dibimbing untuk belajar pelajaran di sekolah. Begitu seterusnya. Ini dia konsep rumah tangga yang saya idam-idamkan. Simpel dan seimbang. Disini saya melihat “dunia lain” yang sangat berbeda dengan dunia yang saya lihat selama ini. Urusan hak dan kewajiban tetap saja berbeda antara suami dan istri. Tapi untuk urusan tanggung jawab, semuanya sama.  Saya suka sosok lelaki yang BISA dan MAU membantu pekerjaan wanita. Itulah salah satu alasan mengapa saya suka pacar saya (oops... out of topic nih! Lanjuuuttt... :P ).

Pasuruan

Sebenarnya banyak sekali cerita di kota ini. Tapi, baiklah saya akan memulainya dengan salah satu kisah yang (menurut saya) cukup menarik dan membukakan mata saya. Hari itu, 27 Juni 2012, hari kedua saya di Pasuruan. Pagi hari, saya dan tiga keponakan, E, H, dan T sempat berjalan-jalan di Kebun Raya Pasuruan. Sepulang dari sana sekitar pukul 17.30, kami sempat berencana nanti malam akan makan di alun-alun karena pacarnya E ingin kenal dengan saya. Sekitar pukul 19.00 pacarnya E datang. Namanya Hn. Rencana awal, saya akan berangkat bersama E dan Hn, kemudian baru bertemu dengan H dan T di alun-alun. Tapi rencana tiba-tiba berubah karena Hn INGIN PERGI BERDUA SAJA DENGAN E. Oke, saya mengalah. Tau lah gimana rasanya mau berduaan ma pacar. Akhirnya E menelepon H dan bilang bahwa rencana berubah. Lalu dengan tenangnya E dan Hn berangkat ke alun-alun duluan. Kemudian sekitar pukul 20.00 H datang dan akhirnya saya dan H menyusul ke alun-alun. Saya dan H menunggu di trotoar alun-alun. Beberapa kali saya menelepon E, menanyakan lokasinya, tapi jawabnya selalu berbeda. “Lagi makan”, “lagi beli jajanan”, “sebentar lagi aku kesitu”, dan seterusnya. Sampai akhirnya pukul 21.00 saya menelepon E lagi dan ternyata DIA SUDAH PULANG KE RUMAH KARENA TADI DI JALAN DIA BERTENGKAR DENGAN HN, PACARNYA.

AAAARRRGGGHHHH....

Jujur ya, saya jengkeeeellll banget sama E. Plis deh, ga menghargai perasaan saya banget sih. Sebenernya saya juga capek. Tapi saya terima ajakan E ke alun-alun karena katanya pacarnya, si Hn ingin kenal dengan saya. Lha setelah saya datang ke alun-alun, malah dia pulang cuma karena alasan BERANTEM SAMA PACARNYA!

!@#$%^&*()_+_)(*&^%$#@!!!!!!!!

Saya emosi banget tuh, saya jadi males pulang ke rumah. Males bertemu E. Sakit hati rasanya. Yang jengkelnya lagi, si H cuma ketawa aja. Katanya si E emang sering gitu. H tau persis gimana saya yang tiba-tiba jadi badmood. Akhirnya dia sms teman-temannya, suruh dateng semua ke alun-alun. Satu persatu berdatanganlah teman-temannya ke alun-alun. Sekitar sepuluhan orang. Anehnya, mereka pake kostum yang sama, baju koko, sarung, dan peci! Ya walaupun ada yang pecinya dicopot, sarungnya dikalungin, dll (esoknya baru saya tau kalo mereka semua ternyata anak pondok). Mereka itu, orang-orang gila. Tapi sukses membuat saya terpingkal-pingkal. Kami duduk di trotoar, kemudian H memesan berpiring-piring cilok yang saya bayar 25 ribu kemudian kami makan bersama. Gilaaaa... saya belum pernah seperti ini sebelumnya. Lagi-lagi, saya menemukan “dunia lain”, dunia yang jauh berbeda dengan dunia keseharian saya. Teman-temannya H itu sumpah lucu banget! Berbakat deh jadi pelawak. Sampai akhirnya, H berkata pada saya, “udah malem ndut, masih jengkel gak ma E? Kalo udah gak, pulang yuk”. Saya melirik jam tangan dan, WOW, jam 23.00! Tergolong malam bagi cewek rumahan macam saya. Teman-temannya H pun seketika bubar saat saya dan H menuju motor yang terparkir. Lho? Saya bingung, kemudian saya tanya pada H kenapa mereka juga bubar? H jawab, “mereka kan dateng karena aku suruh menghibur kamu. Abis kamu jadi manyun terus gara-gara jengkel ma E. Lha sekarang bisa senyum lagi kan, hehehe”. WOW... mereka dateng buat menghibur saya, yang bukan siapa-siapa mereka. Bahkan baru saja kenal n ketemu. Hebat. Senangnya punya teman seperti itu. Selalu ada disaat kita butuh, senang ataupun sedih.

Walaupun saya tidak punya teman seperti itu, tapi setidaknya saya sempat mengintip “ sisi lain” dari dunia mereka. Mungkin saya tidak akan cocok juga hidup dalam dunia semacam itu. Tapi saya tahu, bahwa untuk bahagia itu gampang. Buka hati, tersenyum, dan berbagilah dengan orang lain, bertemanlah dengan siapa saja. So simple!

Ki-Ka: T, H, E, dan saya

Saya dan H di Taman Bougenville Kebun Raya Pasuruan


Senin, 16 Juli 2012

Tour de Java

Gilaaakkk...
Akhir-akhir ini beneran gilaaakkk! Masa dalam sebulan terakhir ini saya sudah mengelilingi pulau Jawa *lebay
 Hmm... ga gitu juga sih, maksudnya kan tanggal 24 Juni kemarin saya main ke Malang dan Pasuruan selama seminggu. Lha kemarin tanggal 11 Juli saya main ke Jakarta selama empat hari.
Jadi ga salah dong kalo saya bilang dalam sebulan ini saya sudah mengelilingi pulau Jawa, walaupun hanya beberapa kota aja sih. Hehehe...
foto: hasil nyolong punya Mbah Gugel

Saya sedikit mirip dengan orang kalap yang sedang balas dendam.
Mengapa balas dendam?

Gini lho ceritanya, beberapa waktu terakhir ini, saya seperti sengaja "mengisolasi" diri saya dari yang namanya JALAN-JALAN. Beberapa kali ada tawaran main ke rumah saudara di sana, atau jalan-jalan ke sini. Tapi semuanya saya TOLAK. Saya memang berjanji dalam hati. Kalo belum ujian pendadaran, belum mau jalan-jalan atau main.

Dan ketika sekarang saya sudah pendadaran, saya seperti membalaskan dendam saya dengan cara JALAN-JALAN KELILING JAWA! HAHAHA....

Saking sibuknya jalan-jalan, saya sampe belum sempat share cerita-cerita yang saya dapat selama liburan ke Jawa bagian Timur dan Jawa bagian Barat kemarin itu. Ow Maklum lah, saya juga lagi sibuk ngurus Yudisium... *ngeles*
Ow iya, selain itu saya juga sempat jalan-jalan berkedok kondangan ke nikahan salah satu teman kuliah saya di Temanggung. Cerita tentang ini juga menyusul yaaa... 

Insyaallah nanti sambil nunggu wisuda, saya ceritakan semuanya, hehehe... Semoga masih ada waktu. Amin.

Selasa, 03 April 2012

Bukit Bintang, dengan orang yang TEPAT

Senin malam yang lalu saya dan keluarga takziah ke rumah salah satu saudara di Nglipar, Wonosari Gunung Kidul. Malam itu, bapak, ibu, dan bude menjemput saya di kost sekitar pukul 10.30. Udah malem banget dan gerbang kost juga sudah digembok oleh Aa' Burjo. Tapi karena saya dijemput oleh orang tua, maka dengan senang hati si Aa' membukakan kunci gemboknya. Lalu kami segera meluncur ke Wonosari.

Bapak duduk di kursi depan samping supir, ibu dan budhe di tengah, dan saya duduk sendirian di kursi belakang. Waaaahhhh... enak nih bisa tidur selonjoran, hehehe...
Sedikit informasi, saya ini adalah TUKANG MABUK. Naik mobil, bis, atau kereta, saya pasti mabuk. Alhasil, untuk menghindari mabuk di perjalanan, biasanya saya memasang salonpas di perut, selalu sedia minyak angin, dan tidak makan dan membaca apapun selama berada di atas kendaraan yang sedang berjalan. Hmm... lumayan mengatasi sih. Tapi kalo sekiranya perjalanan itu cukup jauh (misalnya Purworejo-Jakarta) atau melewati jalanan yang naik turun belok-belok, biasanya dengan sadar diri saya akan meminum.... ANTIMO!!! (Bangga!) hehehe...

Back to topic!

Malam itu saya gak minum antimo karena jarak tempuh Jogja-Wonosari cuma beberapa jam, jadi saya optimis bisa 'selamat' dalam perjalanan. Perjalanan malam itu termasuk cepat, soalnya jalanan sepi banget. Dan, you know lah... jalan ke wonosari itu, walaupun mendaki gunung lewati lembah, tapi jalannya lebar dan haluuusss... 

Ibu dan Budhe terlibat obrolan khas ibu-ibu. Dan karena saya belum mau dibilang ibu2, maka saya hanya sesekali menanggapi obrolan mereka. Akhirnya, saya menyibukkan diri dengan melihat jalan sekitar. Bukan berarti saya ga pernah liat jalan. Tapi... Ehm... sebagai cewe manis anak rumahan, saya emang jaraaaaannngggg banget keluar malem. Apalagi kost saya menerapkan sistem jam malam sampai pukul 09.00. Boleh aja sih keluar sampe malem, tapi saya pribadi ngerasa sungkan aja ma Aa' Burjo yang stand by di depan gerbang kos. 

Back to topic! (lagi)

Dan tau ga sih pemandangan yang paling indah banget kalo malem itu dimana??? Yupz, bukit bintang!!! Itu lho bukit di daerah Patuk yang bisa melihat kota Jogja bermandikan cahaya bintang, eh cahaya lampu. So sweet banget deh pokoknya. Walau cuma ngeliat dari balik kaca mobil, tapi sumpah ya, itu indaaaahhhh banget...



Foto-foto di atas saya colong dari mbah gugel. Kondisi tengah malem menjelang pagi bener-bener ga memungkinkan buat sekedar turun dari mobil dan memotret keindahan panorama bukit bintang. Lagian nih ya, percaya ato ga, yang terlihat di foto itu GA SEBERAPA dibanding keadaan aslinya. Jadi... mending dateng langsung kesana aja. Eits, tapi sesuai judul di atas, datanglah ke Bukit Bintang dengan orang yang TEPAT. Soalnya kalo kesana sama temen atau keluarga, rasanya kesan romantisnya jadi kurang mengena gituuu. Jadi tau kan yang dimaksud "orang yang tepat" itu siapa...

Hmm... pengen ngajak si dia kesini kalo nanti di datang. Ga sabaaaarrrr.... ^_____^