Tampilkan postingan dengan label daleeemmm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daleeemmm. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2012

Aku Pulang...

Seperti mimpi buruk, semuanya begitu cepat terjadi. Keputusan mendadak tanpa rencana, datang ke kos, mengacak-acak yang biasanya tertata rapi, packing, mobil datang, angkut-angkut, pelukan perpisahan... dan cling! saya sudah ada di rumah dengan setumpuk koleksi barang semasa kuliah yang selama ini tersimpan rapi di sebuah ruangan berukuran 4 X 4 M bernama Kost.

Sangat berat, tapi harus dilalui.
Hingga hari ini, seminggu setelah kejadian itu,
masih terlalu menyakitkan mengingat semuanya...

luka itu belum sembuh.

Senin, 29 Oktober 2012

Atu Tanen Tamu



Saya dan Tata
Agatha Febi Ayu Cahyaningtyas, nama lengkapnya. Biasa dipanggil Tata. Gadis kecil itu kini berusia sekitar lima tahun. Saya mengenalnya dua tahun lalu, ketika menjalani program KKN di Bimomartani, Ngemplak, Sleman, DIY. Tata adalah anak bungsu Bapak Dukuh tempat saya menumpang hidup selama dua bulan. Waktu itu usianya msih tiga tahun. Seperti kebanyakan anak kecil seusianya, Tata nampak malu-malu ketika pertama kali bertemu. Tapi beberapa jam kemudian dia mulai terlihat akrab dan mau bercanda bersama kami, para mas dan mbak KKN. Itu semua berkat salah seorang kawan saya bernama Febe yang jago banget dalam hal menaklukan hati anak kecil.


Febe, Tata, dan Saya

Sejak saat itu, Tata sangat dekat dengan kami, terutama para mbak KKN (Saya, Febe, dan Siti). Dia seperti menemukan pengganti kakak perempuannya (mbak Wahyu) yang waktu itu pergi ke Jakarta untuk bekerja. Kemana kami pergi, Tata selalu ingin ikut. Bahkan tidur siangpun, dia minta ditemani saya dan febe. 


Tata yang lucu dan menggemaskan...

Tata yang hanya mau sarapan pagi pake mi doleng (mi goreng) atau uning-uning (telur mata sapi, tapi hanya kuning telurnya),

Tata yang setiap ikut pergi ke Felarosa atau Indomaret selalu minta dibelikan sotat (coklat choki-choki) dan adeng-adeng (ager-ager),

Tata yang selalu membuat kami tertawa meski dalam keadaan seburuk apapun,

Tata yang disayang semua orang karena ia anak bungsu dan rentang usia dengan kakaknya sekitar 15 tahun,

Tata yang ngomongnya belum jelas. Atu (aku), matok (mangkok), towe (kowe, kamu), Badong (Bagong, nama anjing), tambi (klambi, baju), dan masih begitu banyak kosakata anak-anak yang saya dengar bahkan sempat terpikir untuk menjadikannya topik skripsi,

Tata yang menangis histeris ketika kami tak lagi “menginap” di rumahnya karena jadwal KKN tlah usai,

Tata yang...

Ah... begitu banyak kenangan indah tentangnya. Gadis kecil yang lucu, lincah, dan ceria yang selalu membuat kami merindunya setiap waktu.

nggaya banget!!!

Sebesar apa ya dia sekarang? Masih cadel kah? Masih susah makan sayur kah? dan...

Masih ingat kami kah?

Tata, atu tanen tamu...
Miss You! :-*

Jumat, 19 Oktober 2012

Memiliki Kehilangan*

Kata Letto sih, "rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya..."

Saya merasa memiliki, maka saya kehilangan. Meskipun bukan saya yang membeli, tapi dia telah menjadi bagian dari cerita hidup saya.

Dia, sebuah motor bebek Supra X yang dibeli orang tua saya pada Mei 2002. Ketika itu saya masih kelas satu SMP. Motor itu adalah motor yang pertama kami beli setelah kami pindah ke Purworejo. Sebelumnya, kami biasa kemana-mana naik Vespa kepunyaan Pakde. Dia benar-benar menunjang kehidupan kami sekeluarga. Apalagi kami tinggal di pedesaan yang transportasinya lumayan sulit. Ada angkot sih, tapi hanya lewat tiap satu jam sekali. Saat itu, motor dibawa Bapak kerja, pagi untuk mengantar Ibu berangkat kerja dan adik sekolah, sorenya untuk menjemput saya dan adik pulang sekolah.

Saya pertama kali belajar naik motorpun, dengan motor itu semasa SMP. Saya pertama kali mengalami kecelakaan, juga dengan motor itu pada 10 Juni 2004.
Saya mulai 'bawa' motor itu ke sekolah sewaktu kelas 2 SMA sekitar Januari 2005. Buat saya, dia bukan sekadar motor, alat transportasi yang bisa memudahkan saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu. Dia adalah soulmate, sahabat terbaik yang paling mengerti saya. Dialah saksi perjuangan saya semasa SMA. Dia yang setia mengantar saya les di sekolah, di Neutr*n, dan di E*C tak peduli teriknya mentari maupun derasnya hujan. Dia yang menemani saya jalan-jalan, bersenang-senang dengan para sahabat selepas Ujian Akhir Nasional. Dia juga yang menemani saya datang ke Jogja, mendaftar ujian masuk di GSP dan mendaftar tes masuk STAN. Sekadar itu? Tidak, perjalanan kami masih panjang.

Ketika akhirnya saya diterima kuliah di UGM, dia juga yang menemani keseharian saya menjalani rutinitas perkuliahan. Senin pagi datang ke Jogja, Selasa-Rabu-Kamis kuliah full, Jumat pagi kuliah, sorenya pulang ke rumah. Dia yang menemani saya dan Larit mbambung entah kemana saat kami berdua sumpek dengan rutinitas kuliah. Bahkan dia juga yang menemani saya ke SMK Kelautan di Bantul dan Pantai Kukup Wonosari semasa mengupayakan KKN di timur Indonesia. Yah, walaupun rencana KKN itu tidak terlaksana, tapi ya tetep si dia yang menemani saya KKN di Ngemplak-Sleman selama hampir dua bulan.
"Dia selalu ada buat saya. Dengan segala kapasitas dan kemampuannya sebagai motor tua, dia selalu menemani saya kapanpun dan kemanapun..."
Tanpa bermaksud melupakan jasa-jasanya, Agustus 2011 saya ganti motor. Sebuah motor baru, Vario Techno yang dibelikan oleh Ibu dengan tujuan memudahkan mobilitas saya. Akhirnya, si dia dipakai oleh adik saya untuk alat transportasi ke sekolahnya. Saat itu, sudah ada niat untuk menjualnya, tapi saya mati-matian mempertahankannya. Namun siapa sangka, adik saya 'menyiksa' nya habis-habisan. Semua body motor dibongkar, ban dan knalpot diganti, setelan mesin diubah sedemikian rupa untuk menunjang kesehariannya sebagai motor untuk balapan liar. My God!!!

Dalam hati saya marah. Tapi apa yang bisa saya perbuat. Saya ga boleh egois dong, sudah dibelikan motor baru, masih mau 'ngutak-atik' motor lama yang sudah jadi hak adik saya. Rasanya pengen nangis setiap lihat motor itu.Tapi saya coba ikhlasin aja. Kalau memang lebih berguna, bagaimanapun bentuknya, pasti itu yang terbaik. 

Sampai akhirnya hari ini, 19 Oktober 2012, saya harus rela kehilangan dia. Bapak menjualnya pada salah seorang tetangga jauh. Ketika dia pergi, saya bingung harus bagaimana. Pengen nangis, sedih tapi saya lega juga. Sedih karena saya benar-benar berpisah dengan soulmate saya sejak SMA. Namun terbersit perasaan lega, setidaknya dia sudah kembali jadi motor yang normal. Saya hanya bisa berdoa, semoga pemilik barunya bisa menyayanginya lebih dari yang saya lakukan dan semoga dia  bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak. Dulu dia 'sendirian' menemani saya sekeluarga pergi kemana saja. Alhamdulillah sampai saat ini dia sudah punya 5 'adik', 4 motor dan 1 mobil. Terima kasih, Mbah Kakung... 


"tak mudah untuk di hati, tak mudah untuk dihadapi, saat harus mengucap selamat tinggal..."

Si Dia

Semasa KKN di Ngemplak-Sleman


nb: *judul postingan diambil dari judul lagu Letto-Memiliki Kehilangan

Senin, 08 Oktober 2012

Studi Karya Sasindo 2008

Menurut saya, mengenang masa lalu merupakan salah satu cara terbaik memompa kembali semangat yang sudah kendor. Mengingat-ingat kejadian menyenangkan, lucu, dan menjengkelkan akan membuat kita lebih mensyukuri fase dimana kita berada sekarang ini.  Selain itu, mumpung saya masih dalam edisi selo, makanya saya pengen berbagi cerita tentang pengalaman saya di masa lalu. Apa itu? Simak terus...

Berawal dari postingan salah satu teman di Grup di Facebook, saya jadi teringat masa-masa menjadi panitia dalam acara Studi Karya Sastra Indonesia 2008. Tujuan penyelenggaraan acara ini untuk menjalin silaturahmi dan mendekatkan diri antara mahasiswa baru (angkatan 2008) dengan mahasiswa yang lebih senior. Semacam Makrab (Malam keakraban) tetapi karena suatu hal, pada saat itu kami tidak diizinkan mengadakan Makrab. Alhasil, diadakanlah Studi Karya yang dilakukan pada siang hari. Kami selaku angkatan 2007 menjadi panitia acara tersebut.

Mahasiswa angkatan 2008 dibagi menjadi enam kelompok. Nama kelompok-kelompok diambil dari judul-judul novel yang sedang tren pada saat itu: Laskar Pelangi (Andrea Hirata), Larung (Ayu Utami), Sang Pemimpi (Andrea Hirata) Nayla (Djenar Maesa Ayu), Lelaki Terindah (Andrei Aksana),  dan Edensor (Andrea Hirata) Entah kenapa, saya dipercaya menjadi Seksi Pendamping untuk kelompok Lelaki Terindah yang beranggotakan Gentur Swandoyo Putro, Arum Rindu Sekar Kasih, Dewi Surani, Rahmawati, Yogi Sutopo, Gasa Gitakassum, dan Siti Fatimah. Anggota kelompok saya anaknya asik-asik. Setelah beberapa kali briefing n ketemu, kami jadi makin akrab. Untuk acara studi karya ini, kami diharuskan mengenakan kostum sesuai dengan undian dresscode yang kami dapat. Pada saat pengundian, saya dan keempat pendamping kelompok lain dipersilakan memilih gulungan kertas yang berisi jenis-jenis kostum. ABRACADABRA... saya mendapat gulungan kertas betuliskan "Hawaiian Style"... Seketika itu sudah terbayang gambaran kostum yang akan kelompok saya gunakan.

Beberapa kali kami berkumpul untuk membahas kostum dan performance pada studi karya nanti. Saya sih cuma menemani dan sesekali memberi saran. Selebihnya, mereka sendiri yang berdiskusi. Akhirnya mereka sepakat akan bernyanyi diiringi gitar. Gentur yang bertugas memetik gitar, Arum dan Rahma yang akan menyanyi, Yogi dan Gasa yang akan membuka dan menutup performance, Dewi dan Ifa yang akan membawa gulungan kertas bertuliskan lirik lagu. Okelah kalo begitu. Beberapa kali saya sempat menemani mereka latihan, sambil berdiskusi soal kelengkapan kostum.

Hari H pun tiba. Hari pertama studi karya diadakan di ruang C 201 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Acaranya agak serius, ada beberapa dosen juga. Hari pertama ini kami sepakat memakai baju dengan tema "garis-garis".
Hari kedua studi karya, hmm... ini yang ditunggu-tunggu. Pagi-pagi kami sudah berkumpul di Plasa (Plataran Sastra) lantai 1. Setelah itu, semua kelompok naik ke Kopata yang telah disewa. Beberapa panitia ada juga yang naik motor. Sesampainya di Youth Centre Sleman, kami mulai masuk dan acara segera dimulai. Memasuki acara yang lebih bebas, kami dipersilakan berganti kostum sesuai dresscode masing-masing kelompok.

Dan inilah penampakannya... :)

 
Lelaki Terindah - Hawaiian Style
(Pendamping: Saya) 




Nayla - Arabian Style
(Pendamping: Nayna)


Edensor - Cupu Style
(Pendamping: Larit)


Sang Pemimpi - Baju Tidur
(Pendamping: Asty)


Larung - Modifikasi gaya Kartini
(Pendamping: Arini)


Itulah beberapa gambaran kelompok studi karya Sasindo 2008. Tapi ada beberapa yang kelupaan. Misalnya yang kelompok Laskar Pelangi, pendampingnya Mustika dengan dresscode tema Gothic, saya ga punya fotonya.


Terus waktu performance kelompok kami menampilkan semacam musikalisasi puisi tapi mirip video klip lagu soalnya ada lirik lagunya. Ahh... gitu deh pokoknya...




Yeeeaaayyy!!!


Akhirnya semua berakhir dengan indah. Kami semua bahagia dan puas atas hasil kerja keras dan perjuangan menampilkan yang terbaik. Atas kerja keras dan kekompakan kami, akhirnya kelompok kami mendapatkan penghargaan "Kostum Terbaik" dan saya pribadi mendapatkan penghargaan "Seksi Pendamping Terbaik". Alhamdulillah...


Itulah sebagian cerita dari masa lalu yang indah untuk dikenang. Well... feel better, des? Udah semangat lagi kan? Yuk mulai merangkai masa depan lagi... :)


Jumat, 28 September 2012

Masih Terasa

Tepat sebulan yang lalu saya disahkan menjadi pengangguran. Yap, 28 Agustus 2012 – 28 September 2012. Dan juga tepat empat bulan lebih tiga hari sejak hari kelulusan saya, 25 Mei 2012.

Kalo lagi nganggur gini, rasanya pengen banget balik ke masa-masa sibuk ngerjain skripsi. Brainstorming, ke perpus, fase ketik-hapus-ketik lagi-hapus lagi, ribetnya ngeprint, bimbingan skripsi, coret-coret, revisi, galau, ngetik lagi, ngeprint lagi, bimbingan lagi...
Hmm... lucu sih emang, dulu rasanya pengen semuanya cepat berakhir. Tapi sekarang pengen ngerasain kesibukan kayak gitu lagi. Hahaha... bahkan ketika gak sengaja buka Notes di HP, saya ngeliat tulisan begini:

Jadwal Bimbingan:
Senin: pagi
Selasa: setelah jam 1
Rabu: sebelum jam 12
Kamis: -
Jumat: setelah jumatan

Hahaha... itu waktu baru-baru bimbingan sih. Setelah beberapa bulan dibimbing, akhirnya hafal di luar kepala kapan si bapak ngajar, kapan ada di jurusan, kapan waktu terbaik buat bimbingan, dll.

Huhuhu...saya kangen banget ritual itu. Rasa deg-degan gak karuan setiap mau ketemu dosen pembimbing, takut banyak yang di-revisi, takut pak dosen lagi sensi, takut disindir-sindir di depan dosen lain. Kadang saya dan Larit gantian bimbingan skripsinya. Kadang barengan juga karena pak dosen punya prisip sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Kangen masa-masa saya dan larit duduk di sofa kantor jurusan nunggu pak dosen datang sambil ngabisin permen Chlormint yang disediakan di toples.

Inget bau khas kopi yang baru di seduh pak dosen setiap saya bimbingan, kadang teh Tongtji juga sih. Inget obrolan ngalor-ngidul yang kadang ga ada hubungannya sama skripsi saya.
Bukan sekadar ingat, saya bahkan sangat sangat sangaaattt merindukan saat-saat seperti itu.

Pengen deh main lagi ke kantor jurusan, tapi bukan dalam waktu dekat ini. Nanti lah, kalau saya sudah dalam keadaan yang lebih baik... :')

Rabu, 12 September 2012

Dear Para Perokok Aktif

Dear para perokok aktif,

Mungkin ini terdengar klise, basi, atau apalah. Tapi ini benar-benar terjadi lho.
Saya bukan mau sok peduli lingkungan, sok peduli kesehatan, dan sok-sok yang lain. Saya hanya ingin curhat. Ingin berbagi perasaan pada kalian semua. Saya, anak dari seorang perokok aktif.

Sekali lagi, saya gak bermaksud menghakimi para perokok itu. Jujur, saya hampir ga peduli mereka mau menghabiskan berapa bungkus rokok dalam sehari. Bahkan terhadap Bapak, saya gak pernah melarang beliau merokok. Paling, sesekali saya hanya mengingatkan bahwa sudah terlalu banyak rokok yang dikonsumsinya. Bagi saya, merokok adalah hak asasi tiap manusia.

Tapi pagi ini, ketika saya terbangun karena suara Bapak terbatuk-batuk. Batuk yang menurut saya... cukup parah. Saya menangis dan berdoa dalam hati, "Tuhan... beri bapak saya umur panjang, beri ia kesempatan melihat saya menjadi orang sukses, beri saya waktu untuk lebih membahagiakannya. amin..."


Dear para perokok aktif,
Bayangkanlah jika suatu hari istri, anak, atau mungkin calon anak anda tiba-tiba merasa demikian. Kami tahu penyakit apa yang mengincar para perokok aktif, yang mungkin juga mengincar kami, perokok pasif.

Kami hanya ingin kalian sadar, sayangilah tubuh kalian seperti kami menyayangi kalian. Umur memang sudah diatur, tapi bukankah akan lebih baik jika kalian menyayangi tubuh sendiri, demi orang-orang di sekitar kalian...  :') 

Minggu, 09 September 2012

Welkam tu de janggel!

Hooaaahhhmmm... saya masih terlalu ngantuk untuk masuk ke dalam "hutan" ini, kehidupan yang nyata. Hihihi... kesannya kayak masa-masa kuliah kemarin itu hanyalah dunia khayal belaka. Hmm... iya juga sih.
Jujur ya, status sebagai MAHASISWA adalah status puaalliiinnggg nyamaaannn yang pernah saya rasakan. Bisa hidup semau gue, bertindak sesuka gue, tapi tetep punya tempat di masyarakat. Mahasiswa gitu loohh...

Dan... ternyata saya memang nyaman sekali menikmati masa-masa sebagai mahasiswa. Bahkan mungkin terlalu nyaman. Terlalu nyaman menjalani semuanya semau dan sesuka gue... *pengakuan dosa*

Sampai pada akhirnya...

Setelah lulus ini...

SAYA GALAU.

Bahkan, saya juga bingung bikin CV. Bukan ga tau gimana cara bikinnya. Saya cuma bingung, apa yang mau saya tulis di Pengalaman Kerja dan Pengalaman Organisasi. Nah loohh...

Pengalaman kerja? buanyaaakkk... saya sudah berpengalaman jadi asisten rumah tangga di rumah saya sendiri, eh, rumah orang tua saya sendiri.

Pengalaman Organisasi. ada sih beberapa, tapi cuma sebagai anggota. Tulis gak ya???

Nah galau kan...




Tik tok tik tok tik tok...



Uups, udah jam sepuluh pagi, saatnya saya masak. Byeee...

Nb: teringat perkataan Mario Teguh waktu itu, "Siapkanlah diri anda untuk sekecil-kecilnya pekerjaan..."
Jika menjadi asisten rumah tangga di rumah sendiri dapat dikategorikan 'pekerjaan yang sekecil-kecilnya', maka setidaknya saya sedang mempersiapkan diri untuk itu... *ngeles* 

Kamis, 06 September 2012

Untuk Dikenang

Lihatlah Lebih Dekat - Sherina

hatiku sedih hatiku gundah
tak ingin pergi berpisah
hatiku bertanya hatiku curiga
mungkinkah ku temui kebahagiaan seperti disini

sahabat yang slalu ada
dalam suka dan duka
sahabat yang slalu ada
dalam suka dan duka

tempat yang nyaman
kala terjaga
dalam tidurku yang lelap...

pergilah sedih, pergilah resah
jauhkanlah aku dari salah prasangka
pergilah gundah, jauhkan resah
lihat segalanya lebih dekat
dan ku bisa menilai
lebih bijaksana...

mengapa bintang bersinar
mengapa air mengalir
mengapa dunia berputar
lihat segalanya lebih dekat
dan kau... akan mengerti...


Ini lagu Sherina yang dinyanyiin sama PSM UGM waktu wisuda kemarin. Jujur ya, lagu ini mak jleb banget. Apalagi, saat itu saya bisa wisuda bareng sahabat-sahabat saya. Terutama Larit, yang udah ngertiin saya lahir batin. Waktu lagu ini berkumandang di seantero GSP, tiba-tiba kebayang semua hal-hal bodoh, gila, lucu, memalukan, yang pernah saya lewati bareng Larit. Terlalu banyak momen untuk dikenang. Terharu sih kalo inget yang udah-udah.... *nulis ini aja sambil berkaca-kaca*

Dia selalu ada buat saya. Begitu juga, saya berusaha selalu ada buat dia. Saling membantu semaksimal mungkin dalam hal apapun. Lucu dan pengen ngulangin semuanya. Pengen bisa kayak dulu lagi. Tapi gak mungkin, karena manusia itu harus berubah menjadi lebih baik lagi. Semuanya... hanya untuk dikenang...

basecamp kami: perpus lantai 2 yang pake karpet (sekarang udah ga ada)

basecamp juga

mbambung ke deswis kembangarum

nyobain toga @ kost septy


Rabu, 05 September 2012

W.I.S.U.D.A

Woooww... Akhirnyaaaa saya bisa merasakan yang namanya WISUDA. Ya walaupun meleset jauh dari target waktu yang saya tentukan sendiri, tapi akhirnya saya bisa juga wisuda. Lalala yeyeyeye...

Keping-keping kenangan seminggu yang lalu:
  1. Sempat terjadi 'ketegangan' karena pas hari minggu 26 agustus 2012 ternyata penjahit kebaya saya belum buka. Ditelepon ga bisa, di sms ga dibalas. Okeee... siapa yang ga tegang coba. Rasanya campur-campur, jengkel, kesel, sedih, bingung. Gitu deh pokoknya. 
  2. Senin 27 Agustus 2012 saya gladi bersih di GSP, belum terasa apa-apa. Cuma seneng thok ketemu temen-temen. Sekalian maaf-maafan ma temen. Pulang gladi bersih, saya nganter Septy ke Panti Rapih. Dia ga enak badan gitu. Daripada besok pagi ga bisa wisuda, akhirnya dia mau saya paksa ke rumah sakit.
  3. Pulang dari rumah sakit udah jam 2, saya terus pulang ke rumah, mampir ke penjahit  mau ngambil kebaya. Setelah 2 kali fitting, akhirnya kebayanya pas, nyaman di pake. Terus saya pulang deh ke rumah.
  4. Sampe rumah udah jam 5, baru inget kalo belum makan seharian. Pantes krucuk-krucuk akut.  Sebenernya abis maghrib saya rencana balik lagi ke Jogja naik motor aja. Tapi dilarang sama Bapak, takut saya kecapekan, akhirnya saya dianterin pake mobil. Alhamdulillah bisa sambil istirahat.
  5. Jam 9 malem saya nyampe kos. Bapak n supir langsung pulang ke rumah, saya cuci kaki, cuci muka, bersiap tidur. Eh, iseng-iseng saya buka2 kebaya saya. Niatnya saya mau coba, tapi mendadak retsluiting kamisolnya nyangkut!!! hwaaaa....
  6. Saya nangis akut. Nelpon ibu, nelpon pacar, nelpon Larit, nelpon Fina, nelpon Septy... huhuhu... sambil nangis saya teriak-teriak, "Ya Allah, aku mau wisuda ya allah, aku mau wisudaaa.... kalo bajuku rusak gini aku ga jadi wisuda... hwaaaaa...."
  7. Setelah dimarahin ibu n pacar karena saya panik n nangis, setelah mau dipinjemin baju kebaya Ibunya Larit, setelah sempet nelpon penjahitnya Septy, akhirnya CLIINGGG... retsluitingnya bisa lagi!!! Ajaib kan?!?!?!?!
  8. Saya tidur jam sebelas dan bangun jam tiga pagi. Setelah mandi, saya jalan kaki ke salon John Saleh yg berjarak cuma beberapa meter dari kost saya. Sampe sana sudah ada dua orang sebelumnya. Untung belum banyak. Akhirnya saya di dandanin deh. Hmm... kalo rias muka sih saya puas banget. Tapi sanggulnya saya agak kecewa ma orang yg dandanin. Bagus sih, tapi poni saya ga rapi. Males komplen, orangnya ga asik...
  9. Jam 6 saya naik taksi ke GSP, disana presensi, dapet lencana KAGAMA, terus gabung di barisan fakultas, ga lama Larit, Septy, Fina, dateng. Huhuhu... heboh foto-foto deh...
  10. Ga tau jam berapa, mungkin jam 7-an barisan mulai jalan, masuk ke dalem GSP. Saya agak susah pas naik tangga. Tapi mulai terasa agak gimana gitu pas masuk GSP, jalan pelan-pelan, diiringi gendhing jawa. Berasa mantenan deh. Sumprit! Tapi tetep excited deh...
  11. Akhirnya wisuda mulai jam 8. Ngantuk nungguin wisudawan dari fakultas lain pada dipanggilin. Tapi pas mulai fakultas saya yang siap-siap dipanggil, mulai deg-degan. Dingiiinnn banget rasanya. Akhirnya jalan satu-satu. Pas udah sampe tangga terakhir sebelum panggung, ni jantung berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau peraaanng. Apalagi itu Ibu Dekan senyum-senyum kenapa coba??? ga tau ah...
  12. "Desti Sedyaningrum dengan predikat Cumlaude..." eh itu namaku kan? aku maju ya? terus jalan ke depan kan? aduh tadi latihan senyumnya gimana ya? aduh... jangan sampe kesrimpet jarik. aduuuuhhhh...
  13. Setelah turun panggung membawa ijazah, rasanya tuh... sesuatu!
  14. Lihat Bapak Ibu di pojok kiri, berdiri dan tersenyum, hiiikkksss,,, aku mau nangis....
  15. Terharu juga waktu PSM nyanyi lagu Sherina-Lihatlah Lebih Dekat. Inget perjuangan dan kebersamaan bareng sahabat, Larit, Septy, n Fina. Akhirnya kita bisa wisuda bareng. Lagi sibuk nahan biar ga nangis, biar eyeliner n maskara ga luntur, eh Larit sms, "This song's for u, beib." Hwaaaa... jebol juga pertahananku! Nangis juga deh akhirnya... :')
  16. Selesai acara di GSP, balik ke Fakultas karena ada acara juga di Auditorium. Setelah copot Toga, baru deh ketahuan kalo saya lupa ga nyelitingin rok jarik saya! Bwahahaha... untung dari tadi pake toga, jadi ga keliatan!
  17. Acara di fakultas, ya sama aja sih. Penyerahan transkrip dan souvenir, juga piagam penghargaan cumlaude, dan foto-foto.
  18. Acara selesai jam dua lebih. Setelah dari kampus, terus makan-makan, dan pulang ke rumah. 
  19. Sampe rumah, foto-foto lagi, onlen, ganti PP Facebook, bersihin muka, mandi, makan dan tepaaarrr...
  20. Sekian.



di rumah, bawa bunga n souvenir dari fakultas

di depan fakultas, sehari setelah wisuda

sambil ngembaliin toga, foto2 dulu di gedung pusat




Sabtu, 18 Agustus 2012

Lebaran Di Rumahku

Tradisi rutin di keluarga saya tiap lebaran:
  1. Malam takbiran selalu di isi dengan kegiatan yang hampir sama setiap tahunnya. Tugas saya merangkai bunga, beres2 ruang tamu, menata toples makanan di meja, dan lainnya. Kalo Ibu, biasanya sibuk berkutat di dapur, bikin ketupat, nyiapin serba serbi sayur dan lauk. Sementara itu, Bapak biasanya jadi amil zakat di masjid, sepulang dari masjid sekitar jam sebelas malam, Bapak langsung mengambil alih urusan masak ketupat. Biasanya sih kami baru tidur sekitar pukul empat pagi. Kalo dedek sih biasanya ikut takbir keliling. Tapi untuk tahun ini, dia takbirannya sama pacarnya.
  2. Berhubung jam empat pagi baru tidur, jadi ketika bangun jam enam untuk mandi dan siap-siap Shalat Ied, kami pasti masih ngantuk dan pasti keburu-buru setiap berangkat ke masjid. Tiap tahun selalu begitu. Hadeeehhh....
  3. Pulang dari masjid, saya langsung berganti kostum sehari-hari, capcus nyapu n ngepel lantai. Ibu biasanya langsung menyiapkan makanan di meja. Lanjut makaaannn...
  4. Kami jarang sungkeman. Entah kenapa.
  5. Siang dikit tetangga mulai berdatangan ke rumah. Agak rame nih.
  6. Setelah agak sepi, kami sekeluarga gantian berkeliling ke rumah tetangga yang lebih tua. Kalo yang lebih muda kan udah dateng duluan ke rumah. Lumayan deh, ga terlalu banyak yang perlu didatengin.
  7. Oh iya, tiap lebaran harus ada kue nastar dan semprit bikinan sendiri. Itu hukumnya wajib. Saya pernah merasa "gak lebaran" hanya karena Ibu ga sempat bikin kue itu. Kayaknya kurang afdol gituuu...
  8. Bunga seger juga, hukumnya wajib ada. Padahal sih, kalo lebaran gini harganya melonjak tinggi, terutama bunga sedap malam. Tapi pokoknya harus beli. Harus. 
 Apa lagi ya... hmm... kayaknya sih gitulah kurang lebihnya. Anyway, saya mau ngucapin "Selamat Idul Fitri 1433H" Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin...



 

Jumat, 10 Agustus 2012

Kisah dari Timur: Bromo dan Mimpi yang Tertunda

Masih seputar acara main-main saya di Pasuruan, hari itu 28 Juni 2012 saya mau di ajak ke Bromo. Yeay! Itu adalah tempat yang paling ingin saya kunjungi di sini. Selama ini cuma bisa penasaran sama cerita2 dari para saudara, katanya Bromo tuh begini, begitu, ada ini, ada itu... dan hari ini saya akan membuktikannya sendiri. Cihuy...

Sama seperti kemarin, hari ini pun saya akan pergi bersama H, E dan T. Hmm... masih ada sedikit perasaan kecewa sih sama E gara-gara kejadian semalam, tapi ya sudahlah. Saya gak ingin menghabiskan waktu yang sempit ini dengan berjengkel2an dengan saudara sendiri.

Awalnya saya ingin melihat sunrise dari View Point Pananjakan Bromo yang konon katanya indaaaaaahhhh bangeeeeetttt... Tapi kata H, kalo mau liat sunrise, ya harus berangkat pukul 2 pagi. Saya sih oke-oke saja *nggaya*. Tapi nyatanya H dan E jam 2 pagi baru saja tidur setelah kelelahan main PS! Huuuuu...

Akhirnya kami berangkat pagi. Jam 7 kami sudah mandi dan sarapan. Rencana berangkat sekitar pukul 8. Saat itulah rencana tiba2 berubah. Keponakan saya, T, gak bisa ikut karena harus mengurus berkas-berkas pendaftaran masuk SMP. Dan tau gak sih, dengan tampang gak berdosa, si E lalu mengajak pacarnya, Hn untuk ikut ke Bromo. Juueedeeeerrr... kebayang gak sih, saya harus bertemu dan bercengkerama dengan orang yang semalam bikin saya badmood akut. Bukan E, tapi Hn itu lho. Dan lagi-lagi mood saya pergi ke Bromo hilang seketika. Tapi H memaksa saya, dia bilang, “udahlah, tenang aja ndut, kan ada aku. Kalo mereka berdua ngilang lagi, aku juga hafal jalan ke sana.” Okelah... saya mengalah. Tapi jujur dari dalam hati, saya bener2 gak pengen bergi bareng Hn.

Kami berangkat pukul 8 dari rumah mas sepupu, kemudian mampir di rumah bude yang notabene adalah nenek dari H,T, dan E di daerah Pasrepan. Sekitar pukul 9 kami memulai perjalanan. Pasangan E dan Hn, yang yah namanya juga pacaran, asik berpegangan mesra... *ngiri*. Perjalanan yang sangat mengasyikkan. Untungnya, saya dibonceng H yang sudah malang melintang di jalanan Bromo. Saya yang ga terlalu suka jalanan menanjak, beberapa kali hanya bisa menahan nafas ketika melewati tanjakan yang lumayan. Semakin ke atas, semakin duingiiinnn. Masalahnya, saya saltum abis. Gara-gara saya jengkel ma Hn, saya jadinya lupa membawa kaos kaki, sarung tangan, dan masker. Hanya bermodal jaket seadanya, saya berkunjung ke Bromo. Alhasil, saya hampir membeku. Tapi semua itu terbayar lunas dengan pemandangan indah yang saya lihat dari Pananjakan. Hmm... saya bisa membayangkan betapa dahsyatnya kalo bisa melihat sunrise di sini. Sayangnya, saya juga lupa membawa kamera, jadi ya ga ada satupun gambar yang bisa saya abadikan. Fufufu... kasian deh lu des!
View Point Penanjakan

Gunung Bromo

Well, kita sempet foto-foto juga si pake kamera canggihnya Hn. Tapi kan ga bebas jeprat jepret juga. (Dan sampe sekarang belum juga di upload n tag di FB. ya sudahlaaahhh... T.T) Setelah dari Pananjakan, kami berencana untuk turun ke lautan pasir, lihat Pura, Bukit Teletubbies, kawah Bromo, dan lain2. Kami turun dari Penanjakan dan mulai melewati jalan berbatu menuju lautan pasir. Belum terlalu jauh, tiba-tiba ban motor H bocor. Akhirnya diputuskan bahwa kami ga jadi turun ke lautan pasir. Sambil menunggu menambal ban, kami menikmati minuman hangat disebuah warung makan. Secara perlahan, kawasan Bromo mulai tertutup kabut. Woooo... saya sangat takjub melihatnya. Subhanaallah...
Pura di tengah Lautan Pasir


Bukit Teletubbies
Bromo berselimut kabut


Beberapa lama kemudian motor sudah selesai ditambal, tapi kami terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan ke kawah Bromo. Apalagi katanya Hn mau ke Malang karena ada urusan kampus dan E mau mengantarnya. Ya sudahlah, kami pulang saja... 

Perjalanan pulang ternyata ga semudah yang dibayangkan. Selain hawa dingin yang menusuk tulang, pandangan mata juga terbatas karena tertutup kabut. Gimana kalo berangkat jam 2 pagi ya??? -.-" Fffiiuuuuuuhhh... tapi akhirnya kami sampai di rumah bude dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.

Kesimpulan dari perjalanan kali ini adalah jangan pergi dengan setengah hati, perjalanannya ga akan terasa menyenangkan. Pasti ada aja something wrong-nya. 

Okelah, nanti saya PASTI akan datang lagi. Dengan situasi dan kondisi yang lebih baik lagi. Bromo, sampai ketemu lagi... ^____^

Kamis, 09 Agustus 2012

Kisah dari Timur: Dunia Lain

Cerita ini adalah salah satu kisah yang saya alami sewaktu saya berkunjung ke dua kota di Jawa bagian timur, yaitu Malang dan Pasuruan.

Malang

Salah satu kisah menarik yang saya temui di Malang tentang kerjasama dalam rumah tangga. Singkat cerita, mbak sepupu saya berumur sekitar 34 tahun. Sebut saja mbak R. Semasa lajang, mbak R itu cantik, sopan, lemah lembut, feminin, pintar, pandai bergaul, hmm... pokoknya tipe wanita idaman deh. Beneran! Saya dulu juga sempet ngefans sama dia. Sayangnya saya ga bisa sesempurna dia, hehe... Sebagai wanita yang mendekati sempurna, tentu banyak lelaki yang mengejarnya. Mbak R memang beberapa kali terlihat berganti pacar. Namun semuanya berubah ketika ia mulai menutup aurat dan mendalami Islam. Bahkan yang cukup mengejutkan keluarga, ia mau menikah dengan laki-laki yang bahkan baru dua kali ditemuinya. Bahasa kasarnya, mbak R nih sepertinya sudah tobat malang melintang di dunia percintaan, hehe. Dia menikah tahun 2004 ketika umurnya 26 tahun. Setelah itu dia punya anak dan berubahlah dia menjadi seorang ibu dan istri yang baik. Awalnya hanya itu yang saya tahu. Tapi setelah dua hari saya menginap di rumahnya, saya jadi tahu lebih banyak mengenai kehidupan pribadinya.

Ternyata selama ini dia tidak berjuang sendirian mengurus keluarganya. Ehm, mungkin bagi sebagian orang, hal ini terlihat biasa. Namun bagi saya yang tidak terbiasa melihat hal itu dalam keluarga, maka hal tersebut menjadi begitu mengena di hati. Apaan sih? Simpel, pembagian waktu dan tanggung jawab dalam rumah tangga. Pagi-pagi mbak R sibuk menyiapkan sarapan. Sang suami, mas T mencuci baju kotor. Tak lama kemudian, anak-anak mereka bangun dan kemudian menonton tv (kebetulan sedang libur sekolah). Setelah itu mbak R menyapu dan cuci piring, sementara itu mas T mandi dan bersiap ke kantor. Mbak R memandikan anak-anak, mas T sarapan.  Kemudian ketika mas T berangkat kerja, otomatis semua tanggung jawab pekerjaan rumah ada di tangan mbak R, menyapu, setrika baju, menyuapi anak-anak.  Apalagi, mengurus tiga anak lelaki berumur 8, 5, dan 3 tahun tentu bukanlah hal mudah. Tapi mbak R tetap enjoy menjalani hari-harinya. Menjelang sore, ketika anak-anak main di luar rumah, mbak R mengepel lantai. Iseng saya bertanya, mengapa mengepel sore hari. Jawabnya, “kalo pagi pasti cepat kotor lagi. Lagian kan sebentar lagi mas T pulang. Kasihan kalo pulang kerja, capek, masih harus lihat rumah kotor dan berantakan”. Ooowww.... so sweeeettt... :’)

Sepulang kerja sekitar pukul 5, mas T mandi dan menyempatkan bermain dengan anak-anak sampai maghrib tiba. Kemudian mereka shalat berjamaah dan mengajari anak-anak mengaji. Selanjutnya, anak-anak dibimbing untuk belajar pelajaran di sekolah. Begitu seterusnya. Ini dia konsep rumah tangga yang saya idam-idamkan. Simpel dan seimbang. Disini saya melihat “dunia lain” yang sangat berbeda dengan dunia yang saya lihat selama ini. Urusan hak dan kewajiban tetap saja berbeda antara suami dan istri. Tapi untuk urusan tanggung jawab, semuanya sama.  Saya suka sosok lelaki yang BISA dan MAU membantu pekerjaan wanita. Itulah salah satu alasan mengapa saya suka pacar saya (oops... out of topic nih! Lanjuuuttt... :P ).

Pasuruan

Sebenarnya banyak sekali cerita di kota ini. Tapi, baiklah saya akan memulainya dengan salah satu kisah yang (menurut saya) cukup menarik dan membukakan mata saya. Hari itu, 27 Juni 2012, hari kedua saya di Pasuruan. Pagi hari, saya dan tiga keponakan, E, H, dan T sempat berjalan-jalan di Kebun Raya Pasuruan. Sepulang dari sana sekitar pukul 17.30, kami sempat berencana nanti malam akan makan di alun-alun karena pacarnya E ingin kenal dengan saya. Sekitar pukul 19.00 pacarnya E datang. Namanya Hn. Rencana awal, saya akan berangkat bersama E dan Hn, kemudian baru bertemu dengan H dan T di alun-alun. Tapi rencana tiba-tiba berubah karena Hn INGIN PERGI BERDUA SAJA DENGAN E. Oke, saya mengalah. Tau lah gimana rasanya mau berduaan ma pacar. Akhirnya E menelepon H dan bilang bahwa rencana berubah. Lalu dengan tenangnya E dan Hn berangkat ke alun-alun duluan. Kemudian sekitar pukul 20.00 H datang dan akhirnya saya dan H menyusul ke alun-alun. Saya dan H menunggu di trotoar alun-alun. Beberapa kali saya menelepon E, menanyakan lokasinya, tapi jawabnya selalu berbeda. “Lagi makan”, “lagi beli jajanan”, “sebentar lagi aku kesitu”, dan seterusnya. Sampai akhirnya pukul 21.00 saya menelepon E lagi dan ternyata DIA SUDAH PULANG KE RUMAH KARENA TADI DI JALAN DIA BERTENGKAR DENGAN HN, PACARNYA.

AAAARRRGGGHHHH....

Jujur ya, saya jengkeeeellll banget sama E. Plis deh, ga menghargai perasaan saya banget sih. Sebenernya saya juga capek. Tapi saya terima ajakan E ke alun-alun karena katanya pacarnya, si Hn ingin kenal dengan saya. Lha setelah saya datang ke alun-alun, malah dia pulang cuma karena alasan BERANTEM SAMA PACARNYA!

!@#$%^&*()_+_)(*&^%$#@!!!!!!!!

Saya emosi banget tuh, saya jadi males pulang ke rumah. Males bertemu E. Sakit hati rasanya. Yang jengkelnya lagi, si H cuma ketawa aja. Katanya si E emang sering gitu. H tau persis gimana saya yang tiba-tiba jadi badmood. Akhirnya dia sms teman-temannya, suruh dateng semua ke alun-alun. Satu persatu berdatanganlah teman-temannya ke alun-alun. Sekitar sepuluhan orang. Anehnya, mereka pake kostum yang sama, baju koko, sarung, dan peci! Ya walaupun ada yang pecinya dicopot, sarungnya dikalungin, dll (esoknya baru saya tau kalo mereka semua ternyata anak pondok). Mereka itu, orang-orang gila. Tapi sukses membuat saya terpingkal-pingkal. Kami duduk di trotoar, kemudian H memesan berpiring-piring cilok yang saya bayar 25 ribu kemudian kami makan bersama. Gilaaaa... saya belum pernah seperti ini sebelumnya. Lagi-lagi, saya menemukan “dunia lain”, dunia yang jauh berbeda dengan dunia keseharian saya. Teman-temannya H itu sumpah lucu banget! Berbakat deh jadi pelawak. Sampai akhirnya, H berkata pada saya, “udah malem ndut, masih jengkel gak ma E? Kalo udah gak, pulang yuk”. Saya melirik jam tangan dan, WOW, jam 23.00! Tergolong malam bagi cewek rumahan macam saya. Teman-temannya H pun seketika bubar saat saya dan H menuju motor yang terparkir. Lho? Saya bingung, kemudian saya tanya pada H kenapa mereka juga bubar? H jawab, “mereka kan dateng karena aku suruh menghibur kamu. Abis kamu jadi manyun terus gara-gara jengkel ma E. Lha sekarang bisa senyum lagi kan, hehehe”. WOW... mereka dateng buat menghibur saya, yang bukan siapa-siapa mereka. Bahkan baru saja kenal n ketemu. Hebat. Senangnya punya teman seperti itu. Selalu ada disaat kita butuh, senang ataupun sedih.

Walaupun saya tidak punya teman seperti itu, tapi setidaknya saya sempat mengintip “ sisi lain” dari dunia mereka. Mungkin saya tidak akan cocok juga hidup dalam dunia semacam itu. Tapi saya tahu, bahwa untuk bahagia itu gampang. Buka hati, tersenyum, dan berbagilah dengan orang lain, bertemanlah dengan siapa saja. So simple!

Ki-Ka: T, H, E, dan saya

Saya dan H di Taman Bougenville Kebun Raya Pasuruan


Senin, 16 Juli 2012

Tour de Java

Gilaaakkk...
Akhir-akhir ini beneran gilaaakkk! Masa dalam sebulan terakhir ini saya sudah mengelilingi pulau Jawa *lebay
 Hmm... ga gitu juga sih, maksudnya kan tanggal 24 Juni kemarin saya main ke Malang dan Pasuruan selama seminggu. Lha kemarin tanggal 11 Juli saya main ke Jakarta selama empat hari.
Jadi ga salah dong kalo saya bilang dalam sebulan ini saya sudah mengelilingi pulau Jawa, walaupun hanya beberapa kota aja sih. Hehehe...
foto: hasil nyolong punya Mbah Gugel

Saya sedikit mirip dengan orang kalap yang sedang balas dendam.
Mengapa balas dendam?

Gini lho ceritanya, beberapa waktu terakhir ini, saya seperti sengaja "mengisolasi" diri saya dari yang namanya JALAN-JALAN. Beberapa kali ada tawaran main ke rumah saudara di sana, atau jalan-jalan ke sini. Tapi semuanya saya TOLAK. Saya memang berjanji dalam hati. Kalo belum ujian pendadaran, belum mau jalan-jalan atau main.

Dan ketika sekarang saya sudah pendadaran, saya seperti membalaskan dendam saya dengan cara JALAN-JALAN KELILING JAWA! HAHAHA....

Saking sibuknya jalan-jalan, saya sampe belum sempat share cerita-cerita yang saya dapat selama liburan ke Jawa bagian Timur dan Jawa bagian Barat kemarin itu. Ow Maklum lah, saya juga lagi sibuk ngurus Yudisium... *ngeles*
Ow iya, selain itu saya juga sempat jalan-jalan berkedok kondangan ke nikahan salah satu teman kuliah saya di Temanggung. Cerita tentang ini juga menyusul yaaa... 

Insyaallah nanti sambil nunggu wisuda, saya ceritakan semuanya, hehehe... Semoga masih ada waktu. Amin.

Senin, 11 Juni 2012

Para Sahabat

Berteman memang sebaiknya tidak pilih-pilih, tapi kan tidak semua orang bisa mengerti dan memahami kita. Oleh karena itu, meskipun berteman dengan banyak orang, biasanya kita juga mempunyai teman dekat atau sahabat yang jumlahnya lebih terbatas.

Sahabat adalah hubungan unik yang terjalin antara dua orang atau lebih. Mengapa unik? karena yang menjadi sahabat belum tentu orang yang memiliki kepribadian yang sama dengan diri kita. Intinya, asal bisa saling melengkapi, menyeimbangkan, mengingatkan, dan saling mendukung, pasti akan nyaman dalam menjalani persahabatan.

Saya juga punya beberapa sahabat. Biasanya sih, sahabat yang saya punya tuh bersesuaian dengan tempat saya sekolah. Misalnya ketika saya TK dan SD di Tambun Bekasi, saya bersahabat dengan Yuta Patwarini (yuta), Rahmayanti Anastasia (mbak ndo'), Satoto Prayudi (yudi), dan Arladitya Oktavia (lala). Kemudian ketika saya pindah ke Purworejo, sahabat saya semasa SD ada Solikhatul Nguliyah (sol) dan Yuli Irmawati (yuli).

Memasuki masa remaja, saya juga mempunyai beberapa sahabat. Di sekolah saya, SMPN 4 Purworejo, saya mempunyai 3 sahabat, yaitu Ermayanti (erma), Hartati, dan Okfiana Susanti (Opie). Selain itu,saya juga bersahabat dekat dengan Qori Tiarsih (Qori).

Masa-masa SMA, sempat terjadi beberapa 'kericuhan' dalam dunia persahabatan saya. Saat kelas 1 SMA, saya bersahabat dekat dengan Retno Adhiarti (Retno/tachik), Dwi Ariyani (dwi/budhe), dan Arini Novikasari (arini/uuuu). Nah, ketika kenaikan kelas 2 dan mulai penjurusan, ndilalah Saya, Dwi, dan Arini sama-sama masuk kelas IPS 1, sementara Retno masuk kelas IPS 3. Sejak saat itu, retno mulai menjauh dari kami. Sepertinya dia juga telah menemukan sahabat baru di kelasnya yang baru. Awalnya saya sangat tidak bisa menerima. Saya merasa begitu sakit hati!. Tapi ya sudahlah, toh masih ada sahabat yang lain.
Nah, di kelas 2 ini saya, dwi, dan arini mulai dekat dengan Dwi Yuniati (beo), Rini Rachmaningsih (rini), dan Lilis Setiyorini (Lilis). Meskipun berbeda kelas, namun kami hampir selalu bersama. Hal ini berlanjut hingga kelas 3 dan menjelang kelulusan.

Setelah kelulusan, kamipun mulai berpisah satu demi satu. Akhirnya yang masih sering ngumpul dan interaksi secara intensif hanya Saya, Dwi, Beo, dan Rini. Ini formasi terakhir dan 'fix'. Meskipun saat ini kami tak tinggal satu kota, namun kami terus berusaha menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan cara apapun. Sebenarnya ga terlalu sulit sih. Zaman sudah canggih, bisa lewat telepon, SMS, FB, dan Twitter. Yang penting jangan sampai lost contact.

Saat buka puasa bersama di Restoran Kuki Mie Purworejo

'Pipi Pantat Bayi' saya terlihat sangat jelas

Kiri-Kanan: Rini, Beo, Saya, Dwi


Sekadar info aja, hampir semua sahabat saya ketika SD dan SMP sudah menikah, bahkan punya anak. Kalau saya bilang sih, sudah pecah telur. Artinya, kami sudah tidak sama lagi seperti dulu. Hanya sahabat-sahabat SMA saya yang belum pecah telur. Kami semua masih enjoy menikmati masa lajang.

Hahaha... kadang merasa geli jika ingat kami ini sudah tidak muda lagi. Tapi kami berempat memang masih punya segudang mimpi dan angan-angan. Jadi memang sama sekali belum memikirkan tentang pernikahan.

We are single and very happy... ^_______^ 






NB:  
  • semasa kuliah saya juga punya sahabat sih, tapi mungkin akan saya kisahkan pada kesempatan berikutnya. 
  • Now Playing: Sindentosca-Kepompong, Audy ft. Nindy-Untuk Sahabat, Peterpan-Sahabat, Opie Andaresta-Single Happy