Tampilkan postingan dengan label tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2012

Cerpen: Laki-Laki Yang Kawin Dengan Peri - Kuntowijoyo

Mau jadi anggota DPR? Boleh, asal dengarkan cerita ini.

Namanya Kromo Busuk. Disebut busuk karena baunya. Entah karena luka di kakinya atau keringatnya, wallahualam. Menurut ilmu hakekat, yang layak disebut busuk itu hanya hati, tetapi maklumlah orang desa. Disebut kromo, atau suto, atau noyo, itu sama saja, karena begitulah orang Jawa diberi nama oleh orang sekitar. Kabarnya, ia pernah kawin dan punya anak di desa lain.

Pada mulanya, ia tinggal di tengah desa seperti orang-orang pada umumnya. Ia juga mempunyai sepetak sawah. Untuk yang tidak berkeluarga seperti dia cukuplah. Ia dapat berkebun, memlihara ayam, dan sesekali menukarkan hasil kebun ke pasar untuk garam dan pakaian. Pendek kata, orang boleh iri dengannya. Dalam keadaan ekonomi yang bagaimanapun ia ajan bisa bertahan, sebab ia tidak bergantung pada kebaikan hati pasar.

Tetapi rupanya ketenangan itu terganggu sejak tetangganya punya menantu orang luar desa. Menantu inilah yang mula-mula menyebabkan orang menuduh Kromo berbau busuk. Itu dimulai pada malam pertamanya.

“kau belum mandi sejak pagi,” katanya pada istri. Itu sungguh di luar dugaan. Biasanya ia diam saja meskipun (calon) istri itu tidak mandi barang tiga hari. Ketika istrinya bersumpah bahwa sudah mandi, malah dikatakannya bahwa untuk menghadapi hari itu sengaja dipilihnya sabun yang paling wangi, menantu itupun mencari-cari sumber bau itu. Mula-mula mertuanya laki-laki, laki-laki itu tersinggung, katanya lebih baik tidak punya menantu. Terpaksa orang banyak menyabarkannya. Untuk sebentar menantu itu mengalah dan kamar pengantin itu tenang kembali. Tetapi kamar itu ribut ketika menantu minta istrinya untuk menanyakan apakah ibu mertua hari itu tidak lupa mandi. Tentu saja permintaan itu ditolak. Hanya ketika menantu itu mengancam akan menanyakan langsung, istri itu mengalah. Istri itu bisa membayangkan betapa ibunya akan marah, pengalaman dengan ayahnya yang disangkanya akan tersenyum dengan tuduhan itu sudah membuatnya berhati-hati. Ia tidak langsung menanyakan pada ibunya. Dengan berputar-putar, akhirnya ia tahu bahwa ibunya sudah mandi.

“Ini sudah keterlaluan,” kata Ayah.

Ketika kemarahan akan ditujukan pada menantu karena tuduhan yang tidak-tidak, tiba-tiba datang orang-orang dari pos kamling. Mereka juga menanyakan asal bau busuk itu. Malam itu juga diadakan penggeledahan. Usaha itu ternyata tidak mudah, terbukti mereka tidak berhasil.

Begitulah berkat orang-orang dari gardu, seperti kena tenung tiba-tiba seluruh penduduk desa jadi sadar akan bau itu. Anak-anak di seekolah, di surau, di sungai saling menuduh temannya. Bahkan mereka yang di ladang atau di sawah dapat menciumnya. Pendek kata, sedang bersama atau sendiri. Akhirnya diadakan penelitian dari rumah ke rumah.

Pada waktu itulah ketahuan bahwa sumber bau busuk itu ialah Pak Kromo. Sudah barang tentu hal itu tidak diakui Pak Kromo sendiri. Katanya ia sudah mandi, suruh pakai sabun sudah, suruh minum jamu sudah, padahal ia tidak luka sedikit pun.

Diam-diam Kromo membangun gubuk baru di pinggir desa dan pindah ke sana. Akan tetapi, ternyata hal itu tidak memecahkan masalah. Bau busuk tidak juga hilang dari hidung orang desa. Pada malam hari, orang masih mengeluh. Ketika Kromo pergi ke warung, warung itu akan ditinggalkan pembeli. Demikian pula kalau ia pergi nonton wayang, orang akan bubar dan tinggal dalang, pesinden, dan niyaga yang melanjutkan dengan menutup hidung sekenanya. Para gadis desa tidak laku, karena jejaka-jejaka takut dengan bau yang akan menghalangi. Malam  bulan purnama juga sepi. Desa itu jadi sarang hantu. Pencuri berkeliaran dengan leluasa di malam hari, karena gardu ronda tidak dijaga lagi.

Kromo menyadari hal itu. Malam hari dia akan keluar desa untuk tidur di tengah sawah yang berbatu-batu, dan tidak dikerjakan, karena orang percaya itu tempat angker. Kromo sudah bertekad karena mati pun tidak ada yang kehilangan. Orang sudah berusaha mencegahnya dengan mengatakan bahwa tempat tinggalnya yang di pinggiran desa itu sudah lebih dari cukup. Tetapi ia sudah bulat. Menjelang malam orang akan melihat dia mengempit selembar tikar usang menuju batu di tengah sawah untuk tidur. Baru pagi-pagi ia pulang. Praktis ia tidak bisa bekerja, sebab orang akan bubar untuk menjauhinya.
Suatu malam seorang wanita cantik tiba-tiba sudah ada di dekatnya. Ia tidak tahu dari mana perempuan itu datang.

“Jangan takut, kaki. Saya ingin tahu kenapa setiap malam kau di sini.”

Entah apa sebabnya, tetapi rasa takutnya hilang. Maka ia [un bercerita tentang kesulitannya dengan orang. Ketika dia mengakhiri ceritanya, perempuan itu berkata,

“Sudah kaki. Kalau bangsa manusia tidak mau mengerti, jangan susah.”

Malam berikutnya ia dikawinkan di depan peghulu Naib Kecamatan yang sudah dikenalnya. Dihadirkan juga saksi-saksi. Perempuan yang dikawininya rasa-rasanya ia pernah ketemu sebelumnya, tetapi ia lupa di mana. Ia enggan bertanya, pokoknya wanita itu cantik di luar bayangan orang yang paling gila sekalipun. Dan malam itu dia memberikan kenikmatan yang luar biasa – yang tidak mungkin diceritakan demi sopan santun.

Malam berikutnya, beberapa orang yang kurang pekerjaan mencoba mengikutinya. Tetapi mereka akan kehilangan jejak ketika Kromo sudah memasuki sawah berbatu-batu dan tak ditanami itu. Masih disaksikan oleh mereka angin bertiup sepoi-sepoi dan pucuk padi tertunduk teratue, seperti angin sedang berjalan di atasnya. Katak-katak berbunyi serempak, juga kunang-kunang menuju tengah sawah. Udara menjadi dingin bukan main dan rasa kantuk yang tak tertahankan menyerang orang-orang dari gardu. Satu per satu mereka menguap dan tertidur di sembarang tempat. Kalau hari hujan dikabarkan bahwa tempat itu tidak kehujanan.

Begitulah yang terjadi untuk beberapa lama. Kalau Kromo kesiangan, orang akan menemukannya sedang mendekap sebuah batu. Yang mengherankan ialah rambut Kromo yang tidak putih, meskipun orang sebayanya sudah. Adapun baunya tidak juga hilang, malah lebih keras. Kalau dulu hanya di malam hari, sekarang juga tercium di siang hari. Sampai-sampai anak sekolah disuruh menimbuni sampah dan membersihkan semak-semak di sekitar sekolah.

Pak Kromo hampir dilupakan orang, kalau tidak seseorang melihat orang itu tiba-tiba sudah tua renta. Komentar orang bermacam-macam. “Itu biasa karena sebayanya malah sudah mati.” “Itu biasa karena bininya masih muda dan ia harus mengimbangi.” “Itu biasa, salahnya kawin dengan peri. Aku punya pengalaman daya sedot peri sungguh luar biasa, hingga tubuh bisa kering kerontang kalau terlalu sering ketemu. Apalagi tiap malam.”

Pada suatu malam, ada dua orang berpakaian seperti ketoprak datang di gardu ronda. Seorang dengan pakaian kesatria lengkap dengan kudanya, seorang lagi berpakaian lebih buruk tapi juga menunggang kuda. Tampaknya mereka pangeran dan pembantunya. Mereka menanyakan kenapa orang-orang desa menghina Pak Kromo, padahal dia orang baik-baik. Ia tak pernah menyakiti orang, selalu berkata lembut, menundukkan muka, suka menolong, tidak sombong, dermawan dalam kemiskinannya, suka memberi dalam kefakirannya. Pendek kata, ia termasuk orang-orang terbaik di desa. Tentu saja itu tidak butuh jawaban. Tidak seorangpun tahu ke mana para penunggang kuda itu pergi. Segera orang berkumpul. Perkara berkumpul tidak ada yang menandingi orang desa. Kemudian terdengar ledakan keras dari tengah sawah, sementara bau wangu tercium di mana-mana. Mereka segera pergi ke sawah. Masih mereka saksikan asap membumbung ke atas. Tahulah mereka bahwa Pak Kromo sudah meninggal dunia. Mereka hanya menemukan batu-batu, rumput, dan tikar. Mereka mengambil kesimpulan bahwa jenazah Pak Kromo dibawa ke dunia lelembut. Tiba-tiba orang merasa kehilangan. Sebagian orang merasa berdosa telah menyengsarakan Pak Kromo.

Sejak itu, terjadilah pageblug, epidemi, di desa. Tidak bayi, tidak remaja, tidak orang tua semua terkena. Pagi sakit sore mati, sore sakit pagi meninggal, siang masih mencangkul di sawah malam hari sakit, ibu-ibu kehabisan air susu. Orang sudah berusaha dengan membawa obor keliling desa, perempuan-perempuan telanjang mengelilingi rumah dan menyanyikan Dandanggula, “Ana kidung rumeksa ing wengi.” Tapi keadaan tidak menjadi baik, malah sebaliknya yang terjadi. habislah akal orang.

Akhirnya, datanglah kiai itu. Ia mengatakan kalau orang desa kurang bersyukur dan menganjurkan sedekah. Kemudian disepakati bahwa orang desa akan mengadakan kenduri dan mengaji sebagai layaknya orang menghormati yang sudah meninggal. Namun, yang sudah  mati tidak akan kembali lagi. Entah bagaimana nasibnya. Ada yang mengatakan dia jadi pengawal di sananya, ada yang mengatakan dia jadi pangeran disana, ada yang mengatakan dia jadi tukang rumput, dan ada pula yang mengatakan dia jadi rakyat biasa. Yang penting pakaiannya bagus-bagus dan dia jauh lebih muda. Ada yang pernah berjumpa, dan mengajaknya pulang. Betul dia menangis karena dunia ialah tempat yang sebaik-baiknya, meskipun penuh penderitaan, tetapi ia terikat perjanjian.

Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun.

Yogyakarta, 14 April 1994

Senin, 03 Desember 2012

Njaluk Sego Kenteng

Hari menjelang sore ketika saya dan bapak ngobrol santai di teras rumah selepas ngiring manten salah seorang tetangga kami. Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba saya melihat segerombolan anak berlari kecil di jalanan. Di belakangnya, dua orang tetangga saya menggendong bakul berjalan sedikit tergesa diikuti seorang tetua dan ibu-ibu muda. Anak-anak berteriak lantang, “njaluk sego kenteng... njaluk sego kenteng...”. Tanpa pikir panjang, saya menyambar camdig yang ada di meja dan berlari mengikuti rombongan itu. Saat itu, bukan sego kenteng yang saya harapkan. Saya cuma penasaran seperti apa sih prosesi di makam Kenteng, sekalian pengen foto-foto juga sih...

Rombongan berjalan melewati pematang sawah. Ya, makam Kenteng memang terletak di tengah area persawahan. Setelah sepuluh menit berjalan, sampailah kami di makam. Seorang tetua yang biasa saya sapa Pakde Rono memasuki makam sambil komat kamit entah membaca doa atau mantra. Diikuti dua orang pembawa bakul, mbak Iyah dan mbak Win memasuki area makam. Selanjutnya, seorang lelaki paruh baya, mas Kadar masuk juga ke dalam makam.

Suasana sekitar hening, anak-anak yang tadi berteriak-teriak pun diam seketika. Duh.... kok terasa agak mistis gimana gitu. Saya jadi berpikir, boleh gak ya ngambil foto disini? Kalo gak boleh, percuma dong aku ikut. Sedang sibuk-sibuknya dengan pikiran saya sendiri, tiba-tiba Pakde Rono nyeletuk, “rene nek arep njupuk gambar”. Sebenarnya saya geli mendengarnya. Pakde Rono seperti bisa membaca apa yang sedang saya pikirkan, hehe. Perlahan saya mendekat ke pagar pembatas makam berupa tembok setinggi satu meter dan siap mengabadikan prosesi ini.  
 Pakde Rono duduk di dekat gundukan tanah yang tertutup kain putih yang mulai kelabu, berkomat-kamit sambil menyalakan menyan di atas bunga sebagai sesajen. Proses ini dinamakan obong-obong. Sementara Pakde Rono mulai berdoa, mbak Iyah, mbak Win, dan mas Kadar mulai ‘membongkar’ isi bakul. Ada nasi, beberapa sayur, ayam ingkung, tempe goreng, perkedel kentang, krupuk serta peyek. Dua ayam ingkung yang semula masih utuh kemudian di cuil-cuil menjadi potongan yang lebih kecil.

Sekitar lima menit berlalu, prosesi diakhiri dengan membagi-bagikan nasi beserta kelengkapannya. Saya yang sama sekali gak kepikiran minta nasi, ya ga bawa wadah apapun. Padahal orang-orang yang lain ada yang bawa mangkok, baskom, bahkan ember! Ckckck. Akhirnya mbak Win berbaik hati menyobekkan selembar daun pisang, membentuknya menjadi pincuk dengan lidi seadanya, kemudian memberikannya kepada saya. Hehe... makasih mbak. Saya pun ikut antre pembagian makanan ini. Ingin merasakan sensasinya. Makananpun dibagikan, nasi, sayur, lauk, peyek, semua dibagi rata kepada orang-orang yang datang ke makam itu. Semua senang, semua kenyang.
suasana pembagian makanan

rame kan?!

Sesampainya di rumah, saya bertanya pada bapak, sebenarnya apa sih tujuan membagikan makanan di makam Kenteng. Menurut bapak, hal itu memang sudah tradisi turun-temurun di daerah saya. Hal ini biasanya terkait dengan hajat atau nadzar tertentu dari warga desa kami. Misalnya ada orang yang sakit, lalu bernadzar, jika sembuh nanti akan membuat sego Kenteng. Maka ketika dia sembuh, dia wajib memenuhi nadzarnya tersebut. Sedangkan makam Kenteng itu konon adalah makam leluhur desa kami. Sebenarnya saya gak terlalu percaya hal-hal yang begituan. Tapi bagaimanapun juga kita tetap harus menghormati tradisi kan. Itung-itung berbagi rezeki pada tetangga sekitar juga sih.

Mari makaaannn... :9
nasi bagian saya... :)

Lokasi: Makam Kiai Santri Ds. Piji Kec. Bagelen Kab. Purworejo - Jawa Tengah

Kamis, 29 November 2012

Tentang Tembang Lingsir Wengi

Saya adalah orang Jawa yang sangat menyukai lagu-lagu Jawa seperti keroncong, langgam, gendhing jawa, dan juga campur sari. Sengaja saya tekankan bahwa saya sangat menyukai, karena pada kenyataannya banyak orang Jawa yang justru lebih menyukai lagu-lagu barat dan memandang rendah musik tradisional Jawa. Masalah suka atau tidak suka, itu hak asasi setiap manusia sih. Tapi mbok ya o jangan merendahkan budaya lain juga. 


Ya udahlah, back to topic aja.

Banyak banget lagu campur sari yang saya suka, koleksinya Didi Kempot misalnya Ketaman Asmoro, Sewu Kuto, Layang Kangen, Tanjung Mas Ninggal Janji, Cidro, Luntur, dan Kalung Emas. Koleksi Nurhana misalnya Mawar Biru dan Lingsir Wengi. Ada juga soundtrack wajib hajatan yaitu lagu Nyidam Sari yang dinyanyikan oleh (Alm.) Manthous. Hmm... kali ini saya akan beropini sedikit tentang lagu Lingsir Wengi. Sepertinya ada sesuatu yang harus saya luruskan (emangnya keriting? :P).

Seperti yang banyak sekali ditulis pada blog-blog lain (yang menurut saya salah kaprah) banyak yang bilang kalo lagu campur sari yang berjudul Lingsir Wengi adalah lagu pemanggil kuntilanak. Hah, kok bisa? Yang lebih parah nih, pernah suatu hari saya menyetel lagu ini (kebetulan malam hari) dan tiba-tiba teman kos berteriak histeris, “mbak Desti, ngapain sih nyetel lagu itu? Ntar ada kuntilanak dateng loh.” Ckckckck... saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Coba deh dengerin lagunya dan cermati liriknya:



Lingsir wengi sepi durung biso nendro
kagodo mring wewayang kang ngreridu ati
kawitane mung sembrono njur kulino
ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno
nanging duh tibane aku dewe kang nemahi
nandang bronto kadung loro
sambat sambat sopo
rino wengi sing tak puji ojo lali
janjine mugo biso tak ugemi...
            (tengah malam, sunyi dan belum bisa terpejam)
            (tergoda pada bayangan yang dirindukan hati)
            (mulanya hanya bercanda, lama-lama terbiasa)
            (tidak menyangka bisa tumbuh rasa cinta)
            (tapi pada akhirnya aku sendiri yang menanggung)
(merasakan cinta dan terlanjur sakit)
(mau mengeluh sama siapa)
(siang malam yang ku puja janganlah lupa)
(janjinya semoga bisa kupercaya)

Lah to, dari liriknya aja udah kelihatan kalo lagu campur sari yang berjudul Lingsir Wengi itu lagu cinta. Syair yang menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta dan merindukan kekasihnya. Terus mana lirik yang katanya mantra untuk manggil kuntilanak? Sebelah mananya coba? Ckckckck...

Mungkin, yang dimaksud mantra pemanggil kuntilanak itu lagu Lingsir Wengi yang seperti ini:

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas ojo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadiyo sebarang
Wojo lelayu sebet
            (menjelang malam dirimu mulai sirna)
            (jangan terbangun dari tidurmu)
            (awas, jangan terlihat)
            (aku sudang gelisah)
            (jin setan yang kuperintahkan)
            (jadilah apapun juga)
            (namun jangan membawa maut)

Mungkin juga sih, saya juga ga tau pasti. Tapi yang saya baca di sini sih, lagu lingsir wengi yang ini juga bukan mantra pemanggil kuntilanak.

Jadi, kesimpulannya, lagu campur sari yang berjudul Lingsir Wengi BUKAN lagu pemanggil kuntilanak. Tapi lagu cinta seperti lagu lainnya. Jadi tolong dong ya, jangan menghakimi begitu. Ya mungkin salah saya juga sih, nyetel lagunya tengah malam. Jadi terasa mrinding-mrinding gimana gitu. Padahal saya suka banget lagu ini. Liriknya itu loh... sederhana tapi #makjleb banget. Saking sukanya, potongan lirik lagu ini sering banget saya jadiin status di FB dan Twitter, heehehe. Sekian.

Kamis, 26 April 2012

Meme Gabah

Meme Gabah (menjemur gabah) adalah salah satu ritual pascapanen yang pasti dilakukan oleh petani  eh, oleh orang2 yang punya sawah. Padi yang sudah dipetik biasanya diletakkan di dalam karung. Ketika cuaca cukup terik, makan orang-orang tersebut akan berbondong-bondong menggelar bagor gelaran (potongan-potongan karung yang dijahit menjadi satu) atau kepang (anyaman bambu berbentuk persegi) yang keduanya digunakan sebagai alas menjemur gabah. Proses menjemur gabah bisa dilakukan berulang kali. Tiap karung gabah, biasanya dijemur minimal 5 kali, untuk menghindari gabah tersebut tumbuh menjadi benih padi. Oleh karena itu, proses menjemur gabah harus dilakukan secara telaten.



Btw, yang sedang meme gabah dalam foto di atas adalah Bapak, Pakdhe, dan Budhe. Sementara itu saya malah asik foto-foto dan kemudian mem-posting foto tersebut pada blog ini. hihihi... untung ga ada Bang Haji Rhoma Irama. Kalo ada, pasti saya diteriaki, T E R L A L U U U U U.... *kaboooorrrr....  

Jumat, 06 April 2012

Legenda Nyai Bagelen

Berhubung saya warga Bagelen, saya sangat ingin berbagi kisah tentang legenda Nyai Bagelen. Kisah ini juga dapat anda baca di http://budayapurworejo.blogspot.com/2010/11/legenda-nyai-bagelen.html.
Monggoooo..... 

Menurut ceritera rakyat nama Bagelen itu sudah ada sejak jaman dahulu, yaitu negeri Medangkamulan atau Medang Gele atau Pagelen yang memerintah negeri itu ialah Sri Prabu Kandiawan yang berputera lima orang yang masing-masing memerintah Negara Bagian.
Putra sulung bernama Sri Panuwun, ahli dalam pengairan, pertanian dan pemerintahan dan memerintah Negara bagian Medang Gele, yang akhirnya bernama Pagelen.

Putra yang kedua bernama Si Sendang Garbo, ahli perdagangan dan memerintah didaerah Jepara. Putra yang ketiga berkedudukan di Prambanan bernama Karungkala. Yang keempat bernama Sri Petung Laras atau tunggul Ametung memerintah di Kediri. Dan yang bungsu bernama Sri Djetayu, memerintah di Kahuripan. Kerajaan Medangkamulan adalah negeri yang aman, tentram dan makmur. Karena rajanya berlaku adil dan jujur. Sri Prabu Kadiawan meninggal dalam tahun yang ditandai dengan suryasengkala “RUPA TRI MUKSENG LEBU“ yang berarti kurang lebih 1031 yang kemudian yang menggantikan ialah putranya yang sulung, Sri Panuwun.

Prabu Panuwun mempunyai dua orang anak, tetapi semuanya cacat. Maka sang Prabu bersedih yang selanjutnya bersemedi untuk mohon petunjuk Dewata. Akhirnya diperoleh suatu petunjuk gaib, bahwa ia harus pergi kesuatu sendang di Somolangu. Di daerah tersebut Sang Prabu Panuwun memperistri anak perempuan Kyai Somolangu. Dari perkawinannya itu kemudian dianugrahi seorang anak perempuan yang diberi nama “Raden Rara Wetan” Yang kelak terkenal dengan nama “ NYAI BAGELEN “ dan menjadi pewaris daerah Bagelen. Setelah dewasa Rara Wetan menjadi isteri Pangeran Awu Awu Langit yang berkedudukan di daerah Ngombol. Karena Sri Panuwun berpindah kedudukan di Hargopura (Hargorojo), maka Pangeran Awu Awu Langit menggantikan kedudukannya di Bagelen .

Pengairan di daerah tersebut maju sehingga pertanian-pun maju dengan pesat. Hasil pertanian yang utama ialah padi ketan wulung dan kedele. Dan Nyai Bagelen bersama suaminya disamping sebagai petani maju juga beraktifitas sebagai penenun. Perkawinannya dengan Pangeran Awu Awu Langit Nyai Bagelen dikaruniai tiga orang anak. Yang sulung bernama Raden Bagus Gento, dan yang kedua dan ketiga masing-masing perempuan yang bernama Raden Rara Taker dan Raden Rara Pitrah.

Pada suatu hari Selasa Wage, ketika Nyai Bagelen sedang menenun dan anak-anaknya asyik bermain-main tidak jauh dari ia bekerja , tiba-tiba Nyi Bagelen alangkah terkejut karena bukan putranya yang sedang menyusu, melainkan seekor anak lembu. Kemudian dicarilah kedua anak perempuannya dan ditanyakan kepada suaminya yang sedang asyik memilihi bibit ketan wulung. Karena jawaban dari suaminya kurang mengenakkan, maka dengan alat tenunnya didorongnya lumbung padi dan kedele sehingga isinya berhamburan. Lumbung padi itu terlempar jauh dan tersangkut di pohon beringin di desa Krendetan dan yang sebuah lagi jatuh di desa Penatak (Somorejo).

Padi dan kedele berhamburan jatuh di desa Ketesan dan Wingko-tinumpuk. Namun bukan main terkejutnya Nyai Bagelen ketika dilihat kedua anak perempuannya terbaring pada bekas lumbung dalam keadaan telah meninggal.

Terjadilah pertengkaran antar suami istri. Dan suaminya Pangeran Awu Awu langit memutuskan pulang ke daerah asalnya dan kemudian meninggal di desa Awu-Awu. Ketika mendengar berita suaminya meninggal, maka Nyai Bagelen berpesan kepada anaknya sulung Raden Bagus Gento; semua anak cucu serta keturunanku dilarang atau berpantang untuk berpergian atau jual beli , mengadakan hajad pada hari pasaran Wage, karena hari pasaran itu saat jatuhnya bencana dan merupakan hari yang naas. Kecuali itu juga bagi orang-orang asli Bagelen berpantang untuk menanam kedele, memelihara lembu, memakai pakaian yang menyerupai pakaian yang dipakai Nyai Bagelen waktu datang bulan yaitu : kain lurik, kebaya gadung melati dan kemben bangau tulis.

Setelah menyampaikan pesan itu, Nyai Bagelen masuk ke kamarnya dan kemudian menghilang, tanpa meninggalkan bekas atau murca dan selanjutnya Raden Bagus Gento menggantikan kedudukannya memerintah daerah Bagelen.

Raden bagus Gento mempunyai anak yang bernama Kyai Rodjo Pandito, yang setelah meninggal dimakamkan di desa Margorejo. Kyai Rodjo Pandito mempunyai putra yang bernama Dewi Rengganis dan makamnya di desa Semono.
Komplek petilasan Nyai Bagelen terdapat sejumlah makam kuno dan peninggalan sejarah Buddha yang berupa stupa-stupa berjumlah sembilan buah dengan masing-masing ukuran stupa yang berbeda dan dinyatakan sebagai peninggalan sejarah purbakala yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992  tentang Benda Cagar Budaya.

Hmmm... mungkin itulah alasannya dulu warga Bagelen dilarang memelihara sapi dan menanam kedelai hitam. Tapi pada kenyataannya saat ini sudah banyak warga yang tidak terlalu bergantung pada mitos tersebut.

Selasa, 03 April 2012

Wiwit, Ritual Tradisional Sebelum Panen

Kisah ini terinspirasi dari dua besek (kotak tempat makanan dari anyaman bambu.red) berisi makanan2 yang tergeletak manis di atas meja makan. Ini adalah sego wiwit yang dikirimkan oleh dua orang tetangga yang (rencananya) besok akan melaksanakan ritual wiwit di sawah.

Tradisi wiwit adalah ritual yang dilakukan oleh para petani yang akan memanen padi di sawah. Sesuai kepercayaan masyarakat setempat, wiwit dilakukan sebagai bentuk rasa terima kasih kepada alam yang telah memberikan hasil panen yang melimpah. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan untuk menghormati Dewi Sri, sang Dewi Padi.

Pada zaman dahulu, wiwit dilakukan dengan membawa makanan dan sesaji di dalam tampah atau tenong ke sawah yang sudah siap di panen. Makanan yang tersaji pada umumnya nasi putih yang dibentuk tumpeng, sayur kluwih, urap atau kluban, pelas, telur, tempe tahu goreng, rese (ikan asin) dan peyek. Sebagai penolak bala, di atas tumpeng nasi diletakkan bawang merah dan cabai yang ditusuk dengan lidi. Pembawa sego wiwit biasanya diikuti oleh anak-anak di belakangnya.


Sampai di tengah sawah, sego wiwit diletakkan, kemudian dukun atau sesepuh desa akan membakar kemenyan dan membacakan doa2 sebagai awal dari dimulainya ritual wiwit. Setelah itu, pemilik sawah akan memotong beberapa batang padi untuk selanjutnya dibawa pulang ke rumah dan disimpan di gedong kapetengan (lumbung padi) dengan tujuan agar padi di lumbung tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan hingga masa panen berikutnya tiba. Selanjutnya nasi dan perlengkapannya dibungkus dengan daun pisang, kemudian diletakkan di pojok-pojok sawah.

Setelah ritual itu berlangsung, makanan yang ada di tampah akan dibagikan kepada anak-anak yang ikut melihat ritual wiwit tersebut. Demikian dapat dikatakan bahwa ritual wiwit telah dilaksanakan dan pemilik sawah dapat mulai memanen padi milik mereka.

Namun sayangnya, pada saat ini, ritual wiwit yang dilakukan tidak se-komplit yang saya ceritakan di atas. Pada umumnya, saat ini para petani di desa saya masih melaksanakan ritual wiwit, namun mereka hanya memasak di rumah sebagai "syarat" sebelum memanen. Mereka tidak lagi membawa sego wiwit tersebut ke sawah. Mereka hanya membagi-bagikan sego wiwit tersebut kepada tetangga sekitar.

.